Dua Peran Utama Seorang Rasul

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قُلْ  لَّاۤ  اَمْلِكُ  لِنَفْسِيْ  نَـفْعًا  وَّلَا  ضَرًّا  اِلَّا  مَا  شَآءَ  اللّٰهُ  ۗ وَلَوْ  كُنْتُ  اَعْلَمُ  الْغَيْبَ  لَا سْتَكْثَرْتُ  مِنَ  الْخَيْرِ    ۛ   وَمَا  مَسَّنِيَ  السُّۤوْءُ    ۛ   اِنْ  اَنَاۡ  اِلَّا  نَذِيْرٌ  وَّبَشِيْرٌ  لِّقَوْمٍ  يُّؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 188)

Rassul diutus hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Bukan hanya soal kapan terjadi hari Kiamat, tetapi seluruh persoalan berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Nabi Muhammad tidak memiliki wewenang dan pengetahuan, kecuali yang dianugerahkan Allah, maka katakanlah, wahai Nabi Muhammad kepada mereka, “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat seberapa besar pun, maupun menolak mudarat sekecil apa pun, karena aku adalah makhluk lemah dan pengetahuanku pun terbatas, bagi diriku, apalagi buat orang lain, kecuali apa yang dikehendaki Allah untuk dianugerahkan-Nya kepadaku. Sekiranya aku mengetahui segala sesuatu yang gaib, seperti yang kalian sangka, niscaya aku dengan pengetahuanku itu akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya.

Tetapi tidak demikian keadaanku; sekali waktu mendapat kebaikan, di kali lain mengalami yang buruk; sekali waktu kalah dalam perang dan di kali lain menang; kadang rencanaku berhasil, terkadang juga gagal. Begitulah, karena memang aku tidak lain hanyalah seorang hamba Allah yang bertugas sebagai pemberi peringatan kepada seluruh manusia mengenai azab, dan pembawa berita gembira berupa balasan atau pahala bagi orang-orang yang beriman. Tugasku tidak terkait dengan pengetahuan yang rinci tentang yang gaib, kecuali yang telah diinformasikan-Nya kepadaku.”

وَمَاۤ  اَرْسَلْنٰكَ  اِلَّا  مُبَشِّرًا  وَّنَذِيْرًا

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.”(QS. Al-Furqan 25: Ayat 56).

Ajaran dan dakwah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam memadukan semua dakwah dan ajaran para nabi dan rasul. Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan yang diperintahkan Allah, barangsiapa mengikuti dan meneladani ajaran para nabi dan rasul, dia akan beruntung dunia dan akhirat, barangsiapa yang melanggar dari ajaran mereka, dia akan gagal dan celaka di akhirat.

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124).

Rassul diutus oleh Allah untuk membawa wahyu dan petunjuk hidup kepada umat manusia. Rassul diutus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan mengacu pada dua peran utama rasul:

  1. Pembawa Kabar Gembira. Rasull menyampaikan berita baik tentang rahmat dan pahala bagi mereka yang mengikuti petunjuk Allah dan hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat berada di syurganya Allah SWT.
  2. Pemberi Peringatan. Rasull juga memberikan peringatan tentang konsekuensi dan hukuman bagi mereka yang menolak atau melanggar ajaran Allah. Sengsara di dunia dan sengsara di akhirat, diazab di neraka.

Semoga kita dapat mengikuti petunjuk Nya dan menjauhi larangan Nya dan kelak di akhirat nanti berada di syurga Nya Allah SWT;

رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا  فِى  الدُّنْيَا  حَسَنَةً  وَّفِى  الْاٰ خِرَةِ  حَسَنَةً  وَّ  قِنَا  عَذَا بَ  النَّا رِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 201)