Doa Agat Terhindar dari Sifat Nifak

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَيَحْلِفُوْنَ  بِا للّٰهِ  اِنَّهُمْ  لَمِنْكُمْ  ۗ وَمَا  هُمْ  مِّنْكُمْ  وَلٰـكِنَّهُمْ  قَوْمٌ  يَّفْرَقُوْنَ

“Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; namun mereka bukanlah dari golonganmu, tetapi mereka orang-orang yang sangat takut (kepadamu).” (QS. At-taubah ayat 56).

Apa yang diucapkan tidak sama dengan apa yang ada dalam hati

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan kepada Nabi Muhammad tentang kegelisahan dan kecemasan orang-orang munafik karena takut rahasia mereka diketahui oleh orang-orang mukmin. Oleh karena itu mereka bersumpah dengan nama Allah untuk menutupi kedustaan ucapan mereka bahwa mereka berada di pihak orang-orang mukmin. Sedangkan mereka itu pada hakikatnya tidak beriman, bahkan mereka selalu diliputi oleh keragu-raguan dan kegelisahan. Mereka selalu menyatakan sesuatu yang berlainan dengan apa yang dikandung dalam hati mereka karena mereka selalu berada dalam ketakutan. Demikianlah tingkah laku orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang mukmin, sebagaimana diterangkan Allah dalam firman-Nya:

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” (al-Baqarah/2: 14).

Munafikun berpura-pura beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi sebenarnya hati mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan.

  1. Kaum munafik adalah mereka yang secara lahiriah menunjukkan keimanan, tetapi di dalam hati mereka ada kekufuran dan kebencian terhadap Islam.
  2. Bersumpah atas nama Allah adalah cara mereka untuk meyakinkan kaum Muslimin bahwa mereka bagian dari kaum beriman, padahal hati mereka penuh dengan tipu daya.
  3. Motivasi utama mereka adalah rasa takut kepada kaum Muslimin. Mereka bersikap demikian untuk melindungi diri mereka atau mendapatkan keuntungan duniawi, bukan karena keimanan yang tulus.

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah mengetahui isi hati manusia, tidak ada kepura-puraan yang dapat disembunyikan dari-Nya. Hal ini juga menjadi peringatan untuk kita agar menjaga keikhlasan dalam ucapan dan tindakan, sehingga selaras dengan hati yang beriman.

Doa Perlindungan dari Sifat Munafik

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ النِّفَاقِ

“Allahumma inni a‘udzu bika minan nifaq.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat munafik.”