Dari Keanekaragaman Kehidupan Menuju Keteraturan Kosmos

‎Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَسَخَّرَ  لَـكُمُ  الَّيْلَ  وَا لنَّهَا رَ ۙ وَا لشَّمْسَ  وَا لْقَمَرَ ۗ وَا لنُّجُوْمُ  مُسَخَّرٰتٌ  بِۢاَمْرِهٖ ۗ اِنَّ  فِيْ  ذٰلِكَ  لَاٰ يٰتٍ  لِّـقَوْمٍ  يَّعْقِلُوْنَ ۙ

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 12).

Dari Keanekaragaman Kehidupan Menuju Keteraturan Kosmos

…Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.(An Nahl ayat 11).

Perbedaan “orang yang berpikir” pada ayat 11 dan “orang yang mengerti” pada ayat 12 sangat menarik. Dalam bahasa Arab, Allah memang menggunakan dua kata yang berbeda:

  • QS. An-Nahl 11: لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ — li-qawmin yatafakkarūn → orang-orang yang berpikir/merenungkan
  • QS. An-Nahl 12: لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ — li-qawmin ya‘qilūn → orang-orang yang menggunakan akal/memahami

Ini menggambarkan dua tahapan tadabbur manusia terhadap tanda-tanda kebesaran Allah.

1. Ayat 11: melihat alam → berpikir

Ayat 11 berbicara tentang air hujan yang menumbuhkan tanaman: “Dengan air itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan.”

Ini adalah sesuatu yang bisa diamati. Dari satu air yang sama, tumbuh berbagai tanaman dengan bentuk, warna, rasa, dan manfaat yang berbeda.

Karena itu digunakan yatafakkarūn — mereka berpikir, mengamati, merenungkan.

Seakan-akan Allah mengajak kita: “Jangan hanya melihat hujan dan tanaman. Pikirkan: bagaimana air yang sama bisa menghasilkan kehidupan yang begitu beragam?”

Jadi tafakkur adalah proses berpikir dan merenungkan tanda-tanda Allah yang kita lihat.

2. Ayat 12: keteraturan alam → menggunakan akal

Ayat 12 naik ke tingkat yang lebih luas: “Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan…”

Di sini yang diperlihatkan bukan sekadar satu fenomena kehidupan, tetapi keteraturan sistem alam: malam dan siang, matahari dan bulan, semuanya berjalan dalam tatanan yang teratur.

Karena itu digunakan ya‘qilūn, dari kata ‘aql, yaitu menggunakan akal untuk menangkap makna, memahami hubungan dan mengambil kesimpulan.

Seolah-olah Allah mengajak manusia: “Setelah engkau berpikir tentang fenomena alam, gunakan akalmu untuk memahami siapa yang mengatur semuanya.”

3. Jadi, “berpikir” dan “mengerti” bukan dua hal yang sama

Ini yang menarik untuk dijadikan tadabbur:

  • Tafakkur → mengamati dan merenungkan.
  • Ta‘aqqul → memahami dan mengambil kesimpulan.

Sederhananya: Ayat 11 mengajak kita bertanya: “Bagaimana ini bisa terjadi?”
Ayat 12 mengajak kita menyimpulkan: “Pasti ada Yang Mengatur semuanya.”

Jadi berpikir adalah prosesnya, mengerti adalah hasil yang lebih dalam dari penggunaan akal.

4. Bahkan susunan ayatnya seperti sebuah perjalanan intelektual

Air → tanaman → buah-buahan
↓
TAFAKKUR: “Betapa menakjubkan!”
↓
Malam → siang → matahari → bulan → bintang
↓
TA‘AQQUL: “Betapa teraturnya semua ini; pasti ada Allah Yang Mahakuasa mengaturnya.”

Maka An-Nahl 11–12 bukan sekadar menjelaskan nikmat Allah, tetapi mengajarkan cara manusia membaca nikmat tersebut.

Tidak semua orang yang melihat akan berpikir. Tidak semua orang yang berpikir akan sampai pada pemahaman. Al-Qur’an mengajak manusia naik dari sekadar melihat, kemudian berpikir, lalu menggunakan akal hingga mengenal kebesaran Allah.

Ini juga membuat perbedaan “tanda” pada ayat 11 dan “tanda-tanda” pada ayat 12 menjadi menarik:

Ayat 11 menyoroti fenomena pertumbuhan dan keberagaman kehidupan, sedangkan
ayat 12 menghadirkan beberapa sistem yang berjalan bersama dalam keteraturan kosmik.

Ayat 11: alam yang dekat dengan kehidupan manusia — masih bisa diintervensi. QS. An-Nahl 11 berbicara tentang: air → tanaman → buah-buahan.

Manusia diberi ruang untuk berinteraksi dengan proses ini. Kita bisa:

  • Memilih benih,
  • Mengolah tanah,
  • Memberi pupuk,
  • Mengatur air,
  • Memangkas tanaman,
  • Mengendalikan hama,
  • Melakukan pemuliaan tanaman,
  • Bahkan memodifikasi lingkungan tumbuh.

Artinya, manusia dapat melakukan intervensi terhadap proses biologis, meskipun tetap tidak menciptakan kehidupan itu sendiri.

Petani bisa menanam dan merawat, tetapi tidak pernah menciptakan benih dari ketiadaan. Manusia bisa mengatur pertumbuhan, tetapi tidak bisa memerintahkan benih menjadi hidup.

Karena itu ayat 11 sangat dekat dengan “tafakkur”: manusia diajak mengamati proses kehidupan yang berada di sekelilingnya.

Ayat 12: keteraturan kosmik — manusia hanya bisa mengamati

Kemudian ayat 12 berbicara tentang:

malam dan siang, matahari dan bulan, serta bintang-bintang.

Di sini dimensinya berbeda.

Manusia memang bisa mengamati, menghitung, memprediksi, dan memanfaatkan keteraturan benda-benda langit. Tetapi manusia tidak bisa menentukan: “Besok saya ubah sedikit waktu terbit matahari.”

Tidak bisa. Manusia tidak bisa mengatur rotasi bumi, menentukan orbit bulan, atau memerintahkan matahari dan bulan bergerak menurut kehendaknya.

Yang bisa dilakukan manusia adalah memahami hukum dan keteraturan yang sudah Allah tetapkan.

Maka di sini sangat indah ketika ditutup dengan:

لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
li-qawmin ya‘qilūn
“bagi orang-orang yang menggunakan akalnya.”

Seolah-olah manusia diajak naik dari mengamati kehidupan menuju memahami keteraturan alam semesta.

Ada satu garis besar yang menarik kalau dijadikan tadabbur:

Ayat 11 berbicara tentang alam yang dapat kita kelola, tetapi tidak dapat kita ciptakan.
Ayat 12 berbicara tentang alam yang bahkan tidak dapat kita kendalikan, tetapi dapat kita pahami.

Dan ini menghasilkan kesadaran yang sangat dalam:

Pada ayat 11 manusia belajar tentang keterbatasan dirinya sebagai “pengelola kehidupan”.

Pada ayat 12 manusia belajar tentang keterbatasan dirinya sebagai “penguasa alam”.

Petani dapat mengolah tanah, tetapi tidak menciptakan kehidupan.

Ilmuwan dapat memahami orbit, tetapi tidak mengatur orbit.

Manusia dapat memanfaatkan matahari, tetapi tidak mengendalikan matahari.

Jadi semakin manusia berpikir dan menggunakan akalnya, seharusnya bukan semakin sombong, tetapi semakin sadar:

“Saya bisa mengelola sebagian kecil dari ciptaan Allah, tetapi saya bukan penciptanya dan bukan penguasanya.”

Keterhubungan yang sangat bagus dari An-Nahl ayat 11 ke ayat 12: dari kehidupan yang bisa disentuh manusia menuju kosmos yang menunjukkan betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan Allah.

Doa tundukkanlah hati kami kepada-Mu, sebagaimana seluruh alam tunduk kepada ketetapan-Mu.

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan, subhaanaka faqinaa ’adzaaban-naar.

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.”

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.