Ciri Orang Sombong; Menolak Nasehat Kebenaran

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
ثُمَّ  بَعَثْنَا  مِنْۢ  بَعْدِهِمْ  مُّوْسٰى  وَهٰرُوْنَ  اِلٰى  فِرْعَوْنَ  وَمَلَا۟ئِهٖ  بِاٰ يٰتِنَا  فَا سْتَكْبَرُوْا  وَكَا نُوْا  قَوْمًا  مُّجْرِمِيْنَ
“Kemudian setelah mereka, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Ternyata mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Yunus 10: Ayat 75)
Ciri orang sombong, menolak nasehat kebenaran
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Setelah pada ayat sebelumnya dijelaskan kisah Nabi Nuh dan para rasul terdahulu, lalu dalam ayat ini dijelaskan kisah Nabi Musa. Kemudian setelah mereka, yakni para rasul terdahulu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya, dengan membawa tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Kami. Ternyata mereka menyombongkan diri, yakni mendustakan dan enggan menerima kebenaran, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
Pesan yang bisa diambil dari QS Yunus 75 terutama dalam kaitannya dengan kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.
Tadabbur dan Pelajaran yang bisa diambil ;
1. Kesombongan = Menolak Kebenaran
  • فَٱسْتَكْبَرُوا (“mereka menyombongkan diri”) menunjukkan bahwa Fir’aun dan pengikutnya menolak ayat-ayat Allah, bukan karena tidak paham, tapi karena kesombongan dan keangkuhan hati.
  • Ini sejalan dengan sabda Nabi SAW: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim)
2. Ayat Sudah Jelas, Tapi Hati Tertutup
  • Allah menyebut para nabi membawa “آيَاتِنَا” (ayat-ayat Kami) — tanda-tanda yang nyata. Tapi kesombongan menghalangi penerimaan hati.
3. Kedudukan Tidak Menjamin Hidayah
  • Fir’aun dan “mala’” (elit penguasa) adalah kaum berpangkat, tapi justru yang paling keras menolak kebenaran. Ini menunjukkan bahwa jabatan atau status sosial tidak menjamin hati yang lembut.
4. Kesombongan Mengantar kepada Kejahatan
  • Ayat ini ditutup dengan: “dan mereka adalah kaum yang berdosa.” Artinya, kesombongan adalah pintu masuk menuju dosa-dosa lain: penindasan, kekerasan, bahkan penolakan terhadap para nabi.
Pesan yang Relevan;
  • Jangan abaikan kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan keinginan atau gengsi.
  • Hati-hatilah dengan kesombongan tersembunyi, seperti merasa paling tahu, paling benar, atau meremehkan nasihat dari orang yang lebih muda atau sederhana.
  • Jangan jadikan ilmu, jabatan, atau popularitas sebagai penghalang untuk tunduk kepada petunjuk Allah.
Doa;
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْكِبْرِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَقْبِلُ آيَاتِكَ بِالْخُشُوْعِ وَالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَكْبِرِيْنَ الَّذِيْنَ يُعْرِضُوْنَ عَنِ الْحَقِّ بَعْدَ مَا جَاءَهُمْ.
Allāhumma ṭahhir qulūbanā minal-kibri, waj‘alnā mimman yastaqbilu āyātaka bil-khushū‘i wal-īmān, wa lā taj‘alnā minal-mustakbirīn alladzīna yu‘riḍūna ‘anil-ḥaqqi ba‘da mā jā’ahum.
“Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kesombongan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menyambut ayat-ayat-Mu dengan khusyuk dan iman. Dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang menyombongkan diri, yang berpaling dari kebenaran.”