Allah yang Berkuasa Mendatangkan Azab, Tidak Seorangpun Dapat Menolaknya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَا لَ  اِنَّمَا  يَأْتِيْكُمْ  بِهِ  اللّٰهُ  اِنْ  شَآءَ  وَمَاۤ  اَنْتُمْ  بِمُعْجِزِ يْنَ

“Dia (Nuh) menjawab, Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri.” (QS. Hud 11: Ayat 33)

Allah-lah yang berkuasa mendatangkan azab, jika menghendaki dan tak seorang pun dapat menolaknya.

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah menerangkan jawaban Nabi Nuh a.s. terhadap tantangan kaumnya yang kafir itu, dengan memberikan penjelasan bahwa urusan mendatangkan azab itu tidak berada dalam kekuasaannya, melainkan dalam kekuasaan Allah Yang Mahakuasa, yang menciptakan alam semesta ini dan berbuat segala sesuatu menurut iradah-Nya. Mereka semestinya tidak perlu tergesa-gesa, bahkan tidak wajar meminta dipercepat datangnya azab Allah itu, sebab apabila azab itu datang sebagaimana yang mereka minta, niscaya mereka tidak akan mampu menolak dan mencegahnya. Sebaliknya, permintaan yang wajar dari mereka ialah supaya azab Allah itu tidak datang. Untuk itu, hendaklah mereka beriman kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, sebagaimana yang disampaikan kepada mereka.

Berikut beberapa pelajaran dan tadabbur yang bisa diambil:

1. Segala Sesuatu Hanya Terjadi dengan Kehendak Allah

“Jika Dia menghendaki…”

Ini menunjukkan kekuasaan mutlak Allah atas segala sesuatu. Bahkan seorang nabi pun tidak bisa menjatuhkan azab seenaknya; semuanya tergantung pada kehendak Allah.

Tadabbur: Kita sering kali ingin sesuatu terjadi sekarang juga—baik keberhasilan, pembalasan terhadap orang zalim, atau datangnya pertolongan. Tapi ayat ini mengajarkan: Sabar dan yakin, semua akan datang tepat waktunya menurut kehendak-Nya.

2. Manusia Lemah di Hadapan Takdir Allah

”…dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab-Nya).”

Tidak ada tempat berlindung dari azab Allah kecuali kepada-Nya juga. Sekuat apa pun manusia berusaha lari atau menghindar, jika Allah berkehendak, tak ada yang bisa menolak.

Tadabbur: Ini menanamkan rasa tawakal dan takut kepada Allah. Jangan merasa aman dalam maksiat hanya karena belum dihukum. Azab bisa datang tiba-tiba, dan tak ada yang bisa menghalangi-Nya.

3. Sikap Lembut tapi Tegas Seorang Nabi

Nabi Nuh tidak membalas ejekan kaumnya dengan emosi, tetapi menjawab dengan kalimat penuh hikmah dan ketegasan: “Allah yang akan mendatangkan (azab), jika Dia menghendaki.”

Tadabbur: Dalam berdakwah, penting menjaga kesabaran dan akhlak, sambil tetap menyampaikan kebenaran dengan jelas dan tegas.

4. Jangan Menguji atau Menantang Kekuasaan Allah

Kaum Nuh menantang Nabi Nuh agar mendatangkan azab jika benar-benar dia utusan Allah. Tapi ayat ini memperingatkan: jangan bermain-main dengan ancaman Allah.

Tadabbur: Ini berlaku juga pada kita—jangan sampai kita merasa aman berbuat dosa lalu berkata, “Nggak apa-apa, toh belum terjadi apa-apa…” Itu sama seperti kaum Nuh yang lalai.

QS Hūd: 33 adalah pengingat akan ke-Maha Kuasa-an Allah, kelemahan manusia, dan pentingnya kesabaran dalam dakwah dan hidup. Kita diajarkan untuk tidak sombong, tidak menantang takdir, serta selalu bersandar dan takut kepada Allah dalam segala hal.

Doa Ketundukan kepada Kehendak Allah

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يُسَلِّمُونَ لِقَدَرِكَ وَيَرْضَوْنَ بِمَا قَضَيْتَ

Allāhummaj‘alnī mina alladzīna yusallimūna liqadariKa wa yardhauna bimā qaḍayta.

“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang berserah diri pada takdir-Mu dan ridha atas segala ketetapan-Mu.”