Allah Mengecam Orang-Orang yang Mengada-adakan Kebohongan Atas Nama-Nya

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا  ظَنُّ  الَّذِيْنَ  يَفْتَرُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  الْكَذِبَ  يَوْمَ  الْقِيٰمَةِ  ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  لَذُوْ  فَضْلٍ  عَلَى  النَّا سِ  وَلٰـكِنَّ  اَكْثَرَهُمْ  لَا  يَشْكُرُوْنَ
“Dan apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari Kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Yunus 10: Ayat 60)
Allah mengecam orang-orang yang mengada-adakan kebohongan atas nama-Nya dan mengingatkan bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan mereka di hari kiamat
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah mengungkapkan kesalahan dari dugaan mereka bahwa pada hari pembalasan nanti setiap orang diberi balasan yang setimpal dengan amalnya, mereka itu tidak akan dihisab, mereka tidak akan dijatuhi hukuman, karena berbuat dusta atas nama Allah, atau karena beranggapan bahwa diri mereka berhak menentukan hukum, halal dan haramnya sesuatu. Kesalahan mereka inilah yang menyeret mereka kepada kesalahan yang lebih besar, yaitu mereka secara sengaja telah berani mencampuri urusan yang sebenarnya menjadi hak Allah, menentang wahyu yang diturunkan dari Allah dan mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain.
Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (Saba/34: 13)
Allah menjelaskan alasan, mengapa mereka harus menerima hukuman, yaitu karena kesalahan mereka sendiri. Allah telah melimpahkan karunia-Nya yang sangat besar kepada manusia, yaitu menurunkan wahyu untuk dijadikan pedoman hidup mereka, agar mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat, dan telah menentukan halal dan haramnya segala sesuatu, agar mereka terbimbing kepada kehidupan yang makmur dan sentausa. Allah telah menurunkan aneka ragam rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Di akhir ayat Allah menyayangkan mengapa sebagian besar manusia tidak mau mensyukuri segala macam nikmat yang telah diberikan kepada mereka, bahkan mereka menganiaya diri mereka sendiri dengan jalan menentang ketentuan dan hukum yang telah ditetapkan Allah. Mereka tidak mau mempedomani wahyu yang telah diturunkan kepada mereka. Kebanyakan dari mereka hidup mengikuti hawa nafsu dan menghambur-hamburkan harta benda, karena perasaan takabur dan membanggakan diri.
Tadabbur (Perenungan) dari Ayat Ini:
  1. Kesadaran akan Pengawasan Allah: Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu pun, baik yang kita sembunyikan dalam hati maupun yang kita tampakkan, yang luput dari pengetahuan Allah. Ini mendorong keikhlasan dan integritas dalam setiap amal.
  2. Teguran bagi yang Mengada-ada atas Nama Allah: Ayat ini muncul dalam konteks orang-orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah, seperti menghalalkan atau mengharamkan sesuatu tanpa dasar. Maka, ini peringatan keras bahwa tindakan seperti itu diawasi dan akan dipertanggungjawabkan.
  3. Allah Mengetahui Segala yang Gaib: Pengetahuan Allah tidak terbatas oleh waktu atau ruang. Dia mengetahui segala yang belum terjadi, yang sedang terjadi, dan yang telah berlalu, termasuk isi hati manusia.
  4. Dorongan untuk Muhasabah (Introspeksi Diri): Kita diajak untuk merenung: apakah kita merasa aman melakukan dosa karena tidak ada yang melihat? Padahal Allah mengetahui segalanya, bahkan niat terdalam kita.
  5. Menumbuhkan Rasa Takut dan Cinta kepada Allah: Dengan menyadari bahwa Allah mengetahui semua hal tersembunyi, seorang hamba akan terdorong untuk menjaga lisannya, amalnya, dan niatnya. Ini menumbuhkan rasa muraqabah (merasa diawasi) yang penting dalam kehidupan seorang mukmin.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang yang takut kepada-Mu dalam kesendirian maupun di hadapan manusia. Ampunilah apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku tampakkan. Tunjukkan aku ke jalan yang lurus, dan jauhkan aku dari ucapan dusta dan mengklaim apa yang bukan hakku. Sesungguhnya Engkau mengetahui segala yang tersembunyi bahkan yang lebih tersembunyi lagi, dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”