Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

‎سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَّعَلَى  الثَّلٰثَةِ  الَّذِيْنَ  خُلِّفُوْا  ۗ حَتّٰۤى  اِذَا  ضَا قَتْ  عَلَيْهِمُ  الْاَ رْضُ  بِمَا  رَحُبَتْ  وَضَا قَتْ  عَلَيْهِمْ  اَنْفُسُهُمْ  وَظَنُّوْۤا  اَنْ  لَّا  مَلْجَاَ  مِنَ  اللّٰهِ  اِلَّاۤ  اِلَيْهِ  ۗ ثُمَّ  تَا بَ  عَلَيْهِمْ  لِيَتُوْبُوْا  ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  هُوَ  التَّوَّا بُ  الرَّحِيْمُ

“dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan. Hingga ketika Bumi terasa sempit bagi mereka, padahal Bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”(QS. At-Taubah 9: 118)

Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang

Tafsir Lengkap Kemenag
Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini kembali diungkapkan hal ihwal tiga orang di antara orang-orang mukmin yang mangkir dari Perang Tabuk, yaitu: Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi. Mereka ini semula dengan sengaja tidak ikut berperang bersama Rasulullah saw, tetapi kemudian mereka mengalami tekanan jiwa, dan dunia bagi mereka terasa sempit, karena orang-orang mukmin lainnya memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak terhormat. Mereka merasa yakin, bahwa hanya Allah-lah tempat berlindung dari segala siksaan-Nya. Setelah datang kesadaran dan rasa penyesalan, maka mereka bertobat kepada Allah. Allah pun menerima tobat itu, agar mereka tetap berada dalam keinsafan kembali kepada agama Allah dengan bimbingan Rasul-Nya. Setelah terlanjur melakukan pelanggaran terhadap perintah-Nya.
Pada akhir ayat ini ditegaskan kembali bahwa Allah Maha Penerima Tobat serta Maha Pengasih kepada hamba-Nya. Dia senantiasa menerima tobat hamba-Nya yang benar-benar bertobat kepada-Nya dan mengampuni dosa serta melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada mereka, walaupun mereka itu telah terlanjur melakukan kesalahan yang menyebabkan mereka berhak untuk dijatuhi azab dan siksa.

Allah Maha Penerima Tobat (At-Tawwab) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim), seperti yang disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 118, menunjukkan bahwa pintu tobat selalu terbuka bagi hamba-Nya yang benar-benar ingin kembali kepada-Nya.

Agar tobat kita diterima oleh Allah;
1. Ikhlas dalam Bertobat

Tobat harus dilakukan dengan niat yang tulus karena Allah, bukan karena tekanan atau sekadar formalitas.

2. Menyesali Dosa yang Dilakukan

Harus ada perasaan penyesalan yang mendalam atas kesalahan yang telah diperbuat, bukan hanya sekadar ucapan di lisan.

3. Berhenti dari Perbuatan Dosa

Tidak cukup hanya menyesal, tetapi juga harus meninggalkan perbuatan dosa tersebut seketika itu juga.

4. Bertekad Tidak Mengulangi Lagi

Harus ada tekad yang kuat untuk tidak kembali melakukan dosa yang sama di masa depan.

5. Mengembalikan Hak Orang Lain (Jika Ada)

Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, seperti mencuri atau menyakiti seseorang, maka wajib meminta maaf dan mengembalikan hak tersebut.

Allah menjanjikan dalam QS. Az-Zumar: 53 bahwa Dia akan mengampuni segala dosa selama seseorang benar-benar kembali kepada-Nya.

قُلْ  يٰعِبَا دِيَ  الَّذِيْنَ  اَسْرَفُوْا  عَلٰۤى  اَنْفُسِهِمْ  لَا  تَقْنَطُوْا  مِنْ  رَّحْمَةِ  اللّٰهِ  ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  يَغْفِرُ  الذُّنُوْبَ  جَمِيْعًا  ۗ اِنَّهٗ  هُوَ  الْغَفُوْرُ  الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 53)

Oleh karena itu, tidak ada dosa yang terlalu besar jika seorang hamba benar-benar bertaubat.

Doa Tobat dari Nabi Adam AS

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

“Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran faghfir li, fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.”

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau.” (HR. Bukhari dan Muslim)