أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ ذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيَا تُنَا بَيِّنٰتٍ ۙ قَا لَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَآءَنَا ائْتِ بِقُرْاٰ نٍ غَيْرِ هٰذَاۤ اَوْ بَدِّلْهُ ۗ قُلْ مَا يَكُوْنُ لِيْۤ اَنْ اُبَدِّلَهٗ مِنْ تِلْقَآئِ نَـفْسِيْ ۚ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰۤى اِلَيَّ ۚ اِنِّيْۤ اَخَا فُ اِنْ عَصَيْتُ رَبِّيْ عَذَا بَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami dengan jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah. Katakanlah (Muhammad), Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (Kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.”(QS. Yunus 10: Ayat 15)
Orang kafir meminta Nabi Muhammad ﷺ mengubah Al-Qur’an, tetapi beliau menegaskan bahwa wahyu itu berasal dari Allah dan tidak bisa diubah sesuai keinginan manusia
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini dijelaskan sikap orang-orang musyrik apabila Nabi Muhammad membacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya yang mempunyai keindahan bahasa dan isi yang tinggi, yang menunjukkan segala macam kebenaran, berdasar alasan-alasan dan bukti-bukti yang kuat, maka mereka menantang Rasul untuk mendatangkan kitab selain Al-Qur’an untuk mereka yang berisi hal-hal yang tidak bertentangan dengan kepercayaan yang telah mereka anut, yang tidak mencela tuhan dan sembahan-sembahan mereka, yang tidak bertentangan dengan adat kebiasaan mereka dan tidak mengharamkan apa yang telah mereka halalkan.
Dengan permintaan itu mereka bermaksud untuk mematahkan hujjah yang dikemukakan Nabi Muhammad. Mereka mengharapkan agar Muhammad bersedia mengabulkan permintaan mereka. Jika Muhammad mengabulkan permintaan mereka berarti mereka telah dapat melemahkan alasan-alasan yang dibenarkan oleh Muhammad sendiri. Maka Allah mengajarkan kepada Muhammad agar dia mengatakan kepada mereka bahwa Al-Qur’an itu dari Allah, bukan dari dia sendiri. Jika ia mengubah dan menukarnya, berarti Al-Qur’an itu buatannya sendiri, bukan dari Allah.
Namun jawaban yang mereka terima berlawanan dengan harapan mereka, bahkan bernada ancaman dan peringatan yang keras yang menyatakan bahwa karena keingkaran mereka yang sangat itu, maka mereka tidak layak lagi menerima ajaran-ajaran Allah, melainkan azab Allah-lah yang mereka terima. Nabi menyatakan bahwa tidak layak menukar atau mengganti ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an itu adalah firman Allah, bukan perkataannya, karena itu yang berhak mengganti atau mengubahnya hanyalah Allah sendiri.
Dia hanya seorang rasul utusan Allah karena itu yang ia ikuti hanyalah wahyu yang telah diturunkan Allah kepadanya. Ia tidak akan mengikuti selain dari itu. Ia yakin dan percaya bahwa jika ia memperturutkan hawa nafsu dan permintaan orang-orang musyrik itu, berarti ia telah durhaka kepada Allah, telah mendustakan kalam Allah, mengingkari adanya hari kebangkitan dan sebagainya. Perbuatan yang demikian itu diancam Allah dengan azab yang pedih.
Wahyu dari Allah tidak bisa diubah dan Nabi Muhammad ﷺ hanya menyampaikan apa yang diperintahkan,
1. QS. Al-An’am: 115
“Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu (Al-Qur’an) dalam kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ayat ini menegaskan bahwa firman Allah telah sempurna dan tidak bisa diubah oleh siapa pun.
2.QS. Al-Kahf: 27
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan kamu tidak akan mendapatkan tempat berlindung selain kepada-Nya.” Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan wahyu tanpa perubahan, karena tidak ada satu pun yang bisa mengganti firman Allah.
3.QS. Fussilat: 41-42
“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari peringatan (Al-Qur’an) ketika ia datang kepada mereka (mereka akan mendapat azab). Dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” Al-Qur’an dijaga dari segala bentuk perubahan atau tambahan yang tidak berasal dari Allah.
Dari ayat-ayat di atas, jelas bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang tidak dapat diubah, meskipun orang-orang kafir menginginkan perubahan sesuai keinginan mereka.
Hingga akhir zaman selalu ada orang yang ingin mengubah Al-Qur’an atau mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ. Namun, Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Islam telah sempurna dan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir.
Allah Menjaga Keaslian Al-Qur’an
QS. Al-Hijr: 9
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya.” Ini adalah janji Allah bahwa tidak ada yang bisa mengubah Al-Qur’an, meskipun banyak yang mencoba.
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang terjaga keasliannya hingga akhir zaman, dan Allah sendiri yang menjamin penjagaannya, Sebagai seorang Muslim, sikap yang benar terhadap Al-Qur’an adalah Sam‘ina wa Atho‘na (kami mendengar dan kami taat),
– Kerjakan semua perintah Allah → Seperti salat, puasa, zakat, dan akhlak mulia.
– Tinggalkan semua larangan Allah → Seperti riba, zina, mabuk, dan kezaliman.
– Yakini kebenaran Al-Qur’an sepenuhnya → Tidak ada keraguan dalam firman Allah.
– Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup → Untuk mencari solusi dalam setiap permasalahan hidup.
Doa Memohon Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hati kami, penerang dada kami, penghapus kesedihan kami, penawar kegelisahan dan kesusahan kami. Jadikanlah ia sebagai petunjuk yang membimbing kami ke jalan-Mu yang lurus, dan jadikan kami orang-orang yang mengamalkan hukum-hukumnya serta mengikuti petunjuknya. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”