Ahli Kitab yang tidak Percaya kepada Nabi Muhammad adalah Sesat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنَّ  الَّذِيْنَ  كَفَرُوْا  وَ  صَدُّوْا  عَنْ  سَبِيْلِ  اللّٰهِ  قَدْ  ضَلُّوْا  ضَلٰلًاۢ  بَعِيْدًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 167)

Benar benar telah sesat sejauh-jauhnya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa sesungguhnya orang yang masih tetap dalam kekafiran setelah datang petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan selalu menghalangi orang supaya jangan percaya kepadanya dan kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya seperti yang selalu dipraktekkan oleh orang-orang Yahudi Medinah dan orang-orang kafir Mekah, telah dinyatakan oleh Allah bahwa mereka itu sesat dari jalan yang benar dan sulit bagi mereka untuk kembali kepada kebenaran. Memang tepat apa yang diterangkan Allah mengenai orang-orang Yahudi itu, karena mereka sudah seharusnya percaya kepada seruan Nabi Muhammad.

Apalagi mereka telah mengenal beliau dalam kitab mereka sendiri, tetapi mereka tetap ingkar dan selalu mengadakan kebohongan dan tuduhan-tuduhan palsu terhadap beliau dan terhadap Al-Qur’an yang dibawanya agar manusia jangan beriman. Di antara tuduhan-tuduhan yang mereka kemukakan itu ialah “Kalau benar Muhammad itu seorang rasul mengapa tidak diturunkan kepadanya sebuah kitab yang lengkap sekaligus sebagaimana kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa?.” Dengan berbohong mereka berkata,
“Allah telah menyebutkan dalam Taurat bahwa syariat Nabi Musa tidak akan diganti dan tidak akan dihapus sampai hari Kiamat.”

Seribu satu alasan mereka kemukakan untuk menolak kebenaran kenabian Muhammad dan Al-Qur’an, tetapi semua alasan itu hanya dibuat-buat dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Oleh sebab itu amat tepatlah bila mereka dicap oleh Allah sebagai orang yang jauh sekali tersesat dari jalan yang lurus.

Berbeda dengan nabi Muhammad, Allah menyebutkan bahwa nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

مَا  كَا نَ  مُحَمَّدٌ  اَبَآ  اَحَدٍ  مِّنْ  رِّجَا لِكُمْ  وَلٰـكِنْ  رَّسُوْلَ  اللّٰهِ  وَخَا تَمَ  النَّبِيّٖنَ     ۗ وَكَا نَ  اللّٰهُ  بِكُلِّ  شَيْءٍ  عَلِيْمًا

“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 40)

صِرَا طَ  الَّذِيْنَ  اَنْعَمْتَ  عَلَيْهِمْ   ۙ غَيْرِ  الْمَغْضُوْبِ  عَلَيْهِمْ  وَلَا  الضَّآلِّيْنَ
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7).

Pendapat yang masyhur bahwa “yang dimurkai” itu Yahudi dan “yang sesat” itu Nasrani

Doa supaya tidak tersesat, ditunjuki yang lurus

اِهْدِنَا  الصِّرَا طَ  الْمُسْتَقِيْمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)