Adanya Hidup sesudah Mati, Tetapi Mereka Meminta Azab Disegerakan

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قُلْ  اِنِّيْ  عَلٰى  بَيِّنَةٍ  مِّنْ  رَّبِّيْ  وَكَذَّبْتُمْ  بِهٖ  ۗ مَا  عِنْدِيْ  مَا  تَسْتَعْجِلُوْنَ  بِهٖ  ۗ اِنِ  الْحُكْمُ  اِلَّا  لِلّٰهِ  ۗ يَقُصُّ  الْحَـقَّ  وَهُوَ  خَيْرُ  الْفٰصِلِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 57)

Adanya hidup sesudah mati, tetapi mereka meminta azab disegerakan

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi saw agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik, bahwa ia memiliki bukti kenabiannya, yaitu wahyu. Wahyu itu memberitahukan adanya hidup sesudah mati, tetapi mereka meminta disegerakan, padahal hal itu adalah wewenang Allah, dan Allah Mahabenar dalam berita yang disampaikan-Nya

اَتٰۤى  اَمْرُ  اللّٰهِ  فَلَا  تَسْتَعْجِلُوْهُ    ۗ سُبْحٰنَهٗ  وَتَعٰلٰى  عَمَّا  يُشْرِكُوْنَ

“Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 1)

Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya tidak mengikuti ajakan mereka, karena agama yang disampaikannya disertai dengan dasar-dasar, dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang kuat, berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Adapun orang-orang musyrik itu mereka mengajak Nabi dan kaum Muslimin mengikuti agama mereka, tetapi mereka tidak mengemukakan dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang dapat menguatkan dasar kepercayaan mereka, agar dengan demikian timbul keyakinan pada diri seseorang yang mereka ajak itu akan kebenaran agama mereka.

Di antara sebab mereka mengingkari dan mendustakan Al-Qur’an dan kenabian Muhammad adalah karena Allah tidak memperkenankan permintaan mereka, agar kepada mereka diturunkan azab, seperti yang telah diturunkan kepada umat nabi-nabi terdahulu, sebagai bukti kerasulan Muhammad,

وَاِ ذْ  قَا لُوا  اللّٰهُمَّ  اِنْ كَا نَ  هٰذَا  هُوَ  الْحَـقَّ  مِنْ  عِنْدِكَ  فَاَ مْطِرْ  عَلَيْنَا  حِجَا رَةً  مِّنَ  السَّمَآءِ  اَوِ  ائْتِنَا  بِعَذَا بٍ  اَ  لِيْمٍ

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 32)

Telah diketahui bahwa yang menetapkan dan menentukan segala sesuatu itu hanyalah Allah, tidak ada yang selain Dia. Hanya Dialah yang mengetahui hikmah terjadi atau tidak terjadinya sesuatu di alam ini. Dalam menentukan terjadinya sesuatu atau tidak terjadinya, Dia mempunyai aturan-aturan dan hukum-hukum. Terjadinya sesuatu adalah sesuai aturan-aturan dan hukum-hukum-Nya itu;

اَللّٰهُ  يَعْلَمُ  مَا  تَحْمِلُ  كُلُّ  اُنْثٰى  وَمَا  تَغِيْضُ  الْاَ رْحَا مُ  وَمَا  تَزْدَا دُ  ۗ وَكُلُّ  شَيْءٍ  عِنْدَهٗ  بِمِقْدَا رٍ

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna, dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu ada ukuran di sisi-Nya.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 8)

Allah menerangkan bahwa segala sesuatu yang tersebut di dalam Al-Qur’an adalah benar dan benar-benar akan terjadi ;

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ  بِا لْعَذَا بِ  وَلَنْ  يُّخْلِفَ  اللّٰهُ  وَعْدَهٗ  ۗ وَاِ نَّ  يَوْمًا  عِنْدَ  رَبِّكَ  كَاَ  لْفِ  سَنَةٍ  مِّمَّا  تَعُدُّوْنَ

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 47)

قُلْ  لَّاۤ  اَمْلِكُ  لِنَفْسِيْ  ضَرًّا  وَّلَا  نَفْعًا  اِلَّا  مَا  شَآءَ  اللّٰهُ  ۗ لِكُلِّ  اُمَّةٍ  اَجَلٌ  ۗ اِذَا  جَآءَ  اَجَلُهُمْ  فَلَا  يَسْتَئ۟خِرُوْنَ  سَا عَةً  وَّلَا  يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Yunus 10: Ayat 49)

Yakinlah bahwa al Quran benar dan semua ketentuan ketentuan adalah kewenangan Allah SWT.

Doa kalau khatam Quran juga;

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً، اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيتُ وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْتُ وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Ya Allah, rahmatilah aku dengan Al-Quran. Jadikanlah ia sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku atas apa yang terlupakan darinya. Ajarilah aku atas apa yang belum tahu darinya. Berikanlah aku kemampuan membacanya sepanjang malam dan ujung siang. Jadikanlah ia sebagai pembelaku, wahai tuhan semesta alam.”