4 Faktor Manusia tidak Dapat Mengambil Ibrah dari Kejadian yang Menimpa Dirinya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَحَآ جَّهٗ  قَوْمُهٗ  ۗ قَا لَ  اَتُحَآ جُّۤونِّيْ  فِى  اللّٰهِ  وَقَدْ  هَدٰٮنِ  ۗ وَلَاۤ  اَخَا فُ  مَا  تُشْرِكُوْنَ  بِهٖۤ  اِلَّاۤ  اَنْ  يَّشَآءَ  رَبِّيْ  شَيْئًـا  ۗ وَسِعَ  رَبِّيْ  كُلَّ  شَيْءٍ  عِلْمًا  ۗ اَفَلَا  تَتَذَكَّرُوْنَ

“Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata, Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada (malapetaka dari) apa yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?” (QS. Al-An’am 6: Ayat 80)

Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah SWT menerangkan bahwa ajakan Nabi Ibrahim kepada jalan yang benar mendapat tantangan yang berat dari kaumnya. Ibrahim dibantah oleh kaumnya pada waktu beliau menyampaikan agama tauhid karena Nabi Ibrahim mengemukakan kesalahan agama mereka yang menyembah berhala dan mendewakan bintang-bintang.

Bukti-bukti yang dikemukakan oleh Ibrahim itu melemahkan, bahkan membatalkan akidah mereka, karena akidah mereka hanyalah didasarkan pada taklid kepada nenek moyang mereka. Itulah sebabnya Ibrahim menanyakan kepada mereka mengapa mereka menolak agama tauhid, padahal Ibrahim telah mengemukakan dalil-dalil kebenaran agama tauhid sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah dan keyakinan Ibrahim sendiri. Bukankah mereka mengetahui bahwa berhala dan bintang-bintang yang mereka puja itu mempunyai kekurangan sedangkan Pencipta jagat raya dan isinya adalah Mahasempurna. Mereka seharusnya tidak menyembah tuhan yang mempunyai sifat kekurangan.

Kemudian Nabi Ibrahim menegaskan pendiriannya terhadap bantahan mereka itu yaitu beliau tidak gentar menghadapi malapetaka dan akibat dari mengingkari berhala. Karena sembahan mereka adalah benda mati yang tidak dapat menolak madarat dan tidak dapat pula memberikan manfaat. Tantangan Nabi Ibrahim merupakan jawaban terhadap sikap orang-orang musyrik yang menakut-nakuti Ibrahim akan mendapat bencana sebab mengingkari sesembahan mereka, seperti dialami Nabi Hud ketika menghadapi kaumnya, firman Allah:

Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. (Hud/11: 54)

Bagaimana sembahan-sembahan mereka akan menimpakan bencana kepadanya padahal sembahan-sembahan itu tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat menjadi perantara dan juga tidak dapat memberikan syafa’at, terkecuali apabila Allah menghendaki bencana yang timbul karena patung itu. Kalau memang demikian berhala-berhala dan bintang-bintang itu, niscaya memberikan pengaruh jelek terhadap seseorang. Tetapi bukan karena pengaruh dari berhala-berhala dan bintang-bintang itu melainkan semata-mata hanya karena kekuasaan Allah. Segala bencana yang menimpa manusia dari mana pun datangnya hanya karena kehendak Allah dan Ilmu-Nya.

Pada akhir ayat ini Allah memberikan alasan dari pengecualian yang terdapat dalam ayat ini yaitu Allah mempunyai pengetahuan yang sangat luas, meliputi semua yang ada.

Dalam tafsir Quraish Shihab, Muhammad Quraish Shihab; Meskipun demikian, ia masih didebat oleh kaumnya mengenai keesaan Allah. Ia ditakut-takuti akan kemurkaan tuhan-tuhan mereka. Maka ia berkata kepada mereka, “Apakah kalian mendebatku tentang keesaan Allah padahal aku telah diberi petunjuk menuju kebenaran. Aku tidak takut marahnya tuhan-tuhan yang kalian jadikan sekutu Allah. Tetapi, apabila Tuhanku menghendaki suatu kemudaratan, niscaya akan terjadi. Karena Dia sendiri yang kuasa atas hal itu.

Pengetahuan Tuhanku juga meliputi segala sesuatu, sedang tuhan-tuhan kalian tidak mengetahui apa pun tentang hal itu. Apakah kalian lalai tentang itu, hingga tidak tahu mana yang bodoh, lemah, dan tidak pantas untuk disembah.”

Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”
Manusia suka lalai atau tidak suka mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa dirinya.

Kurangnya kemampuan manusia untuk mengambil pelajaran dari pengalaman dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  1. Keengganan untuk belajar: Beberapa orang mungkin tidak ingin mengakui kesalahan atau kegagalan mereka, sehingga mereka tidak belajar dari pengalaman tersebut.
  2. Ketidaktahuan: Kadang-kadang, orang tidak tahu bagaimana atau apa yang harus dipelajari dari suatu kejadian karena kurangnya pengetahuan atau pengalaman sebelumnya.
  3. Kesalahan persepsi: Persepsi subjektif terhadap suatu kejadian dapat memengaruhi sejauh mana seseorang belajar darinya. Orang dapat melihat situasi dengan cara yang berbeda dan mengambil pelajaran yang berbeda pula.
  4. Terlalu cepat melupakan: Manusia cenderung melupakan pengalaman buruk atau pelajaran yang diperoleh dari masa lalu, terutama jika mereka tidak secara aktif merenungkan atau meresapi pelajaran tersebut.

Penting untuk mencoba belajar dari pengalaman kita, merenungkan kesalahan, dan berusaha untuk memperbaiki diri. Dengan refleksi dan kesediaan untuk berkembang, manusia dapat lebih baik dalam mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa mereka.
Manusia diberi akal seharusnya bisa belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama

Keledai saja tak jatuh di lubang yang sama sampai dua kali”. Artinya, sebodoh-bodohnya orang, ia tak akan mengulang kesalahan sebelumnya.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah kisah yang ada dalam Al Quran untuk tidak membuat kesalahan yang sama terutama dalam kesyrikan.