4 Alasan Sulitnya Mempertahankan Keimanan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

يٰۤـاَيُّهَا  النَّبِيُّ  قُلْ  لِّمَنْ  فِيْۤ  اَيْدِيْكُمْ  مِّنَ  الْاَ سْرٰۤى  ۙ اِنْ  يَّعْلَمِ  اللّٰهُ  فِيْ  قُلُوْبِكُمْ  خَيْرًا  يُّؤْتِكُمْ  خَيْرًا  مِّمَّاۤ  اُخِذَ  مِنْكُمْ  وَيَغْفِرْ  لَـكُمْ  ۗ وَا للّٰهُ  غَفُوْرٌ  رَّحِيْمٌ

“Wahai Nabi (Muhammad)! Katakanlah kepada para tawanan perang yang ada di tanganmu, Jika Allah mengetahui ada kebaikan di dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 70)

Keimanan yang benar, tobat yang tulus, niat yang baik serta tekad yang kuat untuk taat kepada Allah dan RasulNya serta menolong agama-Nya, niscaya Dia akan memberikan anugerah yang lebih baik, berupa ampunan dan surga

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Wahai Nabi Muhammad! Katakanlah kepada para tawanan perang yang ada di tanganmu, yakni kekuasaanmu dan sahabat-sahabatmu, “Jika Allah mengetahui, baik pada saat ini maupun akan datang, ada kebaikan di dalam hatimu, berupa keimanan yang benar, tobat yang tulus, niat yang baik serta tekad yang kuat untuk taat kepada Allah dan RasulNya serta menolong agama-Nya, niscaya Dia akan memberikan, kamu wahai kaum musyrik, anugerah yang lebih baik, berupa ampunan dan surga, dari apa yang telah diambil dari kamu berupa tebusan, dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kamu.” Allah Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertobat dengan sebenar-benarnya, Maha Penyayang terhadap kaum mukmin dengan senantiasa memberi pertolongan, taufik dan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.

Keimanan yang benar, tobat yang tulus, niat yang baik, dan tekad kuat untuk taat kepada Allah serta membantu agama-Nya terdengar jelas dan sederhana. Namun, dalam kenyataannya, mengamalkannya memang sulit dan menuntut konsistensi, kesungguhan, dan perjuangan terus-menerus.

Beberapa alasan mengapa hal ini tidak mudah meliputi:

1. Godaan Dunia dan Hawa Nafsu.
Kehidupan dunia sering kali penuh dengan godaan—harta, kedudukan, dan kenikmatan materi—yang bisa menggoyahkan keimanan dan niat seseorang. Bahkan, hawa nafsu sering kali membuat kita tergelincir sehingga sulit untuk tetap berpegang pada tekad yang kuat untuk selalu taat.

2. Lingkungan dan Pengaruh Luar.
Kadang-kadang lingkungan sosial atau teman-teman kita tidak selalu mendukung kita untuk tetap taat atau menjauhi perbuatan dosa. Tekanan dari lingkungan bisa membuat seseorang merasa sulit untuk menegakkan keimanan yang benar dan menjaga niat baik.

3. Kesulitan Menjaga Konsistensi (Istiqamah).
Mempertahankan istiqamah adalah salah satu hal yang paling menantang. Terkadang iman seseorang naik dan turun, dan mempertahankan ketulusan dalam bertobat serta niat yang murni untuk taat membutuhkan usaha berkelanjutan.

4. Kecenderungan Manusia untuk Lalai.
Sebagai manusia, kita cenderung lupa dan lalai. Mudah bagi kita untuk berniat baik di awal, tetapi untuk mempertahankan niat itu dalam jangka panjang membutuhkan tekad yang sangat kuat dan kesabaran yang luar biasa.

Namun, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, dan Dia menghargai setiap usaha kita, meskipun kecil. Karena itu, dalam Islam, yang paling penting adalah terus berusaha memperbaiki diri, menguatkan iman, dan mengingatkan diri untuk kembali kepada Allah setiap kali kita tergelincir. Usaha yang konsisten, meskipun sedikit, akan membawa kita lebih dekat kepada ridha dan anugerah-Nya, insyaAllah.

Salah satu doa supaya istiqomah dalam kebaikan ; Quran Surah Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idh hadaytanaa wa hab lanaa min ladunka rahmah. Innaka antal-wahhaab
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”