Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Sistem zonasi sekolah, terkadang memunculkan beberapa polemik. Terutama kekhawatiran orang tua dalam sistem zonasi sekolah ini. Khawatir jika putra putrinya tidak diterima ke sekolah negeri yang mereka minati atau secara jalur prestasi tidak sampai karena nilai yang masih dibawah rata rata, tapi secara zonasi masih bimbang. Ditambah PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) yang dilaksanakan secara online, membuat orang tua yang gaptek (gagap teknologi) menjadi semakin merasa kesulitan untuk mendaftar sekolah.
Meskipun sudah didaftarkan sesuai dengan prosedur dan bantuan dari guru dari sekolah asal, tapi orang tua kadang merasa bimbang apakah putra putri saya sudah diterima atau tidak? Karena pemberitahuan diterima atau tidak putra putrinya di sekolah dengan sistem zonasi mepet sekali dengan waktu siswa masuk sekolah.
Endingnya, jika orang tua beruntung maka putra putrinya bisa dengan bangga sekolah di sekolah negeri yang dekat dengan rumah. Lantas bagaimana jika tidak diterima? dengan waktu yang mepet hanya berselang beberapa hari saja dengan waktu penutupan penerimaan calon siswa di sekolah swasta, membuat orang tua semakin bimbang dan galau.

Akhirnya orang tua akan bersikeras mencari sekolah swasta yang masih buka untuk menerima putra putrinya. Jika sudah mepet juga terkadang sekolah swasta ada yang sudah kuota pendaftarannya terpenuhi akhirnya orang tua harus daftar tunggu yang itu masih 50:50 antara nanti ada yang mengundurkan diri atau tidak.
Kegalauan orang tua juga ditambah beberapa hal seperti biaya bulanan sekolah swasta yang memang sedikit lebih mahal daripada negeri, meskipun sekolah swasta di Bandung tidak terlalu mahal dibandingkan dengan sekolah swasta di kota megapolitan seperti Jakarta tapi tetap saja, mahal dan mudahnya suatu barang dan jasa tidak bisa disetarakan, karena setiap orang memiliki standar mahal dan murahnya masing masing.
Akhirnya karena zonasi itu juga orang tua terpaksa menyekolahkan putra putrinya ke sekolah swasta dengan harapan putra putrinya bisa berkembang dengan program dan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah swasta tersebut. Tapi yang namanya sekolah itu memang memberikan fasilitas dan program yang dapat membimbing siswa, tapi semua itu juga tergantung dari siswanya sendiri, mau untuk berubah dan membuahkan prestasi atau mau menjadi siswa yang biasa saja? semua tergantung dari siswa itu sendiri.

Prestasi siswa bisa diraih dengan ketekunan dan kemampuan siswa dalam mengembagnkan minat dan bakatnya, sekolah hanya wadah yang dapat memaksimalkan potensi itu
Meskipun sistem paksaan dari sekolah tetap ada seperti siswa diwajibkan untuk mengambil minimal 1 ekstrakurikuler sesuai dengan minat dan bakat mereka, tapi tetap saja ada beberapa siswa yang tidak paham dengan minat dan bakatnya. Malah yang lebih parah lagi banyak siswa yang ikut serta dalam ekstrakurikuler karena teman. Yang akhirnya orang tua susah payah mencari uang untuk menyekolahkan putra putrinya ke sekolah swasta terbaik berakhir dengan anak yang sama saja seperti sekolah negeri.
Dari cerita diatas bukan sebuah karangan belaka, tapi itu memang potret yang sering terjadi di negara kita, dimana karena orang tua yang terlalu acuh dengan pendaftaran sekolah dan juga kurangnya perhatian orang tua terhadap putra putrinya.

Sistem zonasi sekolah memang membuat sekolah favorit menjadi sama rata, tidak akan ada sekolah favorit tidak ada juga sekolah yang kurang peminatan tapi meski begitu sistem zonasi sekolah juga memiliki beberapa kekurangan terutama bagi siswa yang mengikutinya, seperti :
Alasannya jelas, zonasi sekolah tidak berpihak kepada siswa berprestasi karena pilihan mereka tetap, masuk ke sekolah dekat rumah dengan jalur prestasi atau masuk ke sekolah swasta yang mereka minati dengan jalur prestasi. Pilihan tergantung dari kebutuhan anda, tapi jika saya sebagai murid berprestasi. Sudah jelas saya memilih sekolah swasta yang lebih bisa menghargai prestasi saya dari pada masuk ke negeri secara jalur prestasi.
Swasta dengan jalur prestasi juga membuat kita bisa berkembang lebih tinggi lagi, ibaratnya jika kita burung yang belajar terbang kita akan bisa terbang lebih tinggi lagi daripada burung burung lainnya. Karena di swasta prestasi seorang siswa tidak hanya dikembangkan tapi juga diapresiasi dengan lebih layak. Bahkan karena prestasi ini juga siswa bisa gratis SPP bahkan dibayar gratis untuk sekolah.
Alasannya karena mereka harus mengurus banyak surat, misalnya surat keterangan domisili. Setelah begini efeknya mereka tidak bisa merantau ke luar pulau untuk bisa sekolah di negeri yang mereka inginkan. Akhirnya pilihannya sama seperti siswa berprestasi, mengambil sekolah negeri sesuai dengan zonasi mereka atau memilih sekolah swasta yang bebas zonasi.
Dimana sekolah “unggulan” juga akan dirugikan karena mau tidak mau harus menerima murid yang rumahnya satu kawasan dengan sekolah, meskipun anak tersebut mungkin anak yang tidak berprestasi atau bahkan anak yang bandel. Yang efeknya adalah nilai sekolah unggulan itu bisa menurun bahkan citranya menjadi buruk.
Karena sistem zonasi sekolah melihat lingkup antara 5-7 km jarak dari sekolah ke rumah peserta didik. Mereka yang berada dalam radius itu akan berpikir tentang tidak pentingnya belajar. bahkan ada spekulasi jelek dari saya sendiri yaitu tentang pemikiran calon peserta didik tentang tidak atau kurang pentingnya belajar. Karena belajar atau tidak belajar juga pasti bisa diterima dengan sistem zonasi sekolah karena alasan sangat dekat dengan rumah.
Tapi meskipun begitu, sistem zonasi sekolah ini tidak mempengaruhi sekolah swasta, karena sekolah swasta memiliki modal sendiri bukan dari pemerintah. Jika memang harus ada sistem zonasi sekolah kepada sekolah swasta, apa kompensasi yang bisa diberikan oleh pemerintah terhadap sekolah swasta? Jika memang ada kompensasi saya rasa pemerintah tidak akan sanggup untuk memberikan kompensasi kepada semua sekolah swasta di semua wilayah di Indonesia.

Sekolah swasta juga bebas menerima siswa dari berbagai macam wilayah. Maka dari itu dari pada bingung dan dilema dengan sistem zonasi sekolah, kenapa tidak mengejar hal yang pasti saja? daftar ke sekolah swasta favorit dan jadilah bintang berprestasi di sekolah tersebut.
Karena dewasa ini, sekolah swasta dan negeri tidak terlalu dibanding bandingkan seperti dulu, yang banyak menganggap siswa sekolah swasta adalah siswa buangan, justru dewasa ini siswa yang masuk ke sekolah swasta adalah siswa yang mampu membayar dan rela berkembang dan menjadi siswa yang berani beda. Beda dalam seragam, beda dalam tujuan dan lulusan swasta justru mampu bersaing dengan lulusan negeri apalagi dalam masuk SMA favorit dan masuk ke perguruan tinggi negeri favorit.
Dengan program unggulan masing masing yang mungkin tidak dimiliki sekolah negeri, lulusan sekolah swasta bisa sedikit lebih unggul jika siswanya mampu memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.