Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Jiwa kepemimpinan tidak hanya bisa didapatkan secara mendadak, butuh proses panjang dan pressure yang tinggi. Ketika seseorang mampu melewati semua itu, insya Allah jiwa kepemimpinan bisa mereka dapatkan. Tidak hanya itu, jiwa kepemimpinan juga bisa didapatkan di sekolah dan pondok pesantren yang tepat. Maka dari itu, pada zaman dulu ada sekolah yang difavoritkan dan ada sekolah yang tidak favorit, ini adalah karena kualitas sebuah sekolah itu berbeda beda, setiap sekolah memiliki visi dan misi yang berbeda beda, cara eksekusi yang berbeda, metode pembelajaran yang berbeda dan juga setiap sekolah baik itu sekolah umum dan sekolah berpesantren juga memiliki konsep dan penyampaian yang berbeda. Meskipun tujuan utama setiap sekolah rata rata hampir sama, namun tetap saja dengan metode pembelajaran yang tepat siswa didalam sebuah sekolah yang difavoritkan bisa lebih unggul dari pada siswa yang di sekolahkan di sekolah yang biasa saja.
Perlu diketahui juga, metode pembelajaran itu berpengaruh kepada kesiapan siswa untuk menghadapi masa depan, jika anda menginginkan putra dan putri yang memiliki jiwa pemimpin, jiwa yang tahan banting dan mampu berkembang secara mandiri, pondok pesantren adalah salah satu jenis pesantren yang bisa kami rekomendasikan karena di pesantren inilah semua hal dan semua ilmu selalu disatukan dengan unsur unsur islami, sehingga ketika santri lulus mereka tidak hanya akan mampu menjadi seorang pemimpin tapi juga mereka bisa menjadi seorang pemimpin yang siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sesuai dengan sifat sifat rasul. Lantas bagaimana cara pesantren menciptakan jiwa pemimpin pada santrinya?
Secara sadar atau tidak pesantren memang lembaga pendidikan yang bisa mencetak jiwa pemimpin karena konsep pendidikannya yang memang mengajarkan siswanya untuk mampu menjadi pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri untuk terhindar dari sifat yang kurang baik. Dan konsep pendidikan yang kami maksud sebagai berikut :
1. Membuat santri menjadi santri yang disiplin dan mandiri
Konsep pendidikan pesantren adalah menjadikan santri menjadi mereka yang memiliki jiwa disiplin dan mandiri. Jiwa disiplin dan mandiri ini adalah jiwa yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Bagaimana tidak? Bayangkan saja jika seorang pemimpin tidak disiplin dan tidak bisa mandiri, maka akan seperti apa kedepannya? Di dunia pesantren ini merupakan hal yang menjadi sebab akibat, karena mau tidak mau, santri akan belajar disiplin untuk mengikuti aturan yang ada di pondok dan bagaimanapun santri harus bisa mandiri, karena jika di pesantren santri lebih suka merengek, cengeng dan tidak bertahan akan sulit bagi dia untuk bisa bersosialisasi dan berkembang di dunia pesantren.
2. Metode pembelajaran pesantren yang menuntut santri untuk bertanggung jawab
Metode pembelajaran pesantren juga menuntut santri untuk bisa bertanggung jawab, baik itu bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan juga bertanggung jawab atas semua tindakan yang mereka lakukan. Ada juga implementasi yang kami maksud adalah santri yang dituntut untuk bisa bertanggung jawab dengan kebersihan kamarnya sendiri, tanggung jawab santri ketika melakukan kesalahan dan setiap santri juga dituntut untuk bertanggung jawab jika mereka diberikan kesempatan untuk menjadi muroqi di pesantren. Jiwa tanggung jawab inilah yang merupakan salah satu jiwa seorang pemimpin. Pemimpin itu memang harus mampu bertanggung jawab, bayangkan saja jika pemimpin mengelak dengan kesalahan yang mereka lakukan, apa yang akan terjadi?
3. Ekstrakurikuler untuk meningkatkan komunikasi siswa dan santri
Komunikasi merupakan hal yang memang harus dimiliki seseorang yang ingin menjadi pemimpin, tanpa komunikasi yang baik seseorang tidak akan mampu menjadi seorang pemimpin yang baik. Komunikasi ini bisa didapatkan santri selama di pesantren terutama pesantren yang memiliki konsep pesantren modern atau juga boarding school berkonsep pesantren dalam bentuk ekstrakurikuler dan dalam bentuk ajang kompetisi.
4. Empati yang tercipta karena disatukan dengan berbagai macam orang dengan ras yang berbeda
Empati juga merupakan salah satu bentuk jiwa seorang pemimpin. Pemimpin yang memiliki empati akan jauh lebih dihargai oleh bawahannya dari pada pemimpin yang angkuh, tidak tahu diri dan pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama dan macam macam pemimpin dengan “sifat” yang unik lainnya. Empati bisa diciptakan di pendidikan pesantren, karena di pesantren seorang siswa akan dituntut untuk bisa berbagi dengan orang lain, baik dari makanan, tempat tidur, toilet dan lain sebagainya.
5. Pemberian motivasi sebagai bagian kurikulum pesantren
Jiwa pemimpin salah satunya adalah mereka yang memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi yang tinggi ini bisa didapatkan di pendidikan pesantren, meskipun tidak semua pesantren menggunakan konsep ini tapi Al Masoem menjadi salah satu pesantren yang menggunakan konsep ini. Maka dari itu tidak aneh jika Al Masoem selalu memberikan seminar motivasi kepada siswa dan santrinya.
6. Kurikulum pesantren yang menuntut santri untuk mampu menjaga emosi
Ciri seorang pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menjaga emosi, bayangkan saja jika orang arogan, tidak mampu menjaga emosi dan temperamental menjadi seorang pemimpin? Pendidikan pesantren menuntut siswa untuk menjaga emosi, bahkan dalam agama islam juga seorang muslim harus memiliki sifat yang sabar. seperti dalam Qs. Al baqarah ayat 153 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
7. Adanya wadah bagi santri yang ingin menjadi pemimpin
Di pesantren ini adalah wadah bagi santri untuk menjadi pemimpin, salah satunya adalah dewan santri. Dewan santri merupakan bentuk organisasi pesantren (sejenis OSIS) yang dimana disana terdiri dari pimpinan dewan santri, wakil, sekretaris dan berbagai sekretariatnya. Dewan santri ini berguna untuk memberikan wadah bagi santri untuk mampu memimpin santri lainnya.