Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Setiap siswa memiliki pemikiran, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar, terutama ketika siswa mulai memasuki masa remaja dan semakin mampu membentuk pendapatnya sendiri. Di lingkungan sekolah, perbedaan pendapat dapat muncul ketika berdiskusi di kelas, mengerjakan tugas kelompok, mengikuti organisasi, hingga menentukan kegiatan bersama teman.
Memiliki pendapat sendiri merupakan hal yang positif. Namun, kemampuan menyampaikan pendapat juga perlu diiringi dengan cara berkomunikasi yang tepat. Siswa perlu belajar bahwa menyampaikan pendapat bukan berarti harus membuat orang lain menerima pemikirannya. Sebaliknya, pendapat seharusnya disampaikan sebagai bentuk komunikasi yang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mendengar, mempertimbangkan, dan memberikan tanggapan.
Kemampuan menyampaikan pendapat dengan sopan merupakan keterampilan sosial yang akan terus digunakan hingga siswa dewasa. Karena itu, kebiasaan tersebut akan lebih baik jika mulai dilatih sejak bangku SMP.
Kelas yang aktif bukan hanya kelas yang siswanya mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar, tetapi juga kelas yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengemukakan pemikiran. Ketika siswa berani berpendapat, guru dapat mengetahui sejauh mana mereka memahami materi dan bagaimana cara mereka melihat suatu persoalan.
Dalam pembelajaran, pendapat siswa juga dapat membuka sudut pandang baru. Satu pertanyaan atau jawaban dari seorang siswa mungkin membuat teman-temannya memikirkan sesuatu yang sebelumnya tidak terpikirkan. Diskusi akhirnya menjadi lebih hidup karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut terlibat dalam proses berpikir.
Namun, keberanian berbicara sebaiknya tidak diartikan sebagai kebebasan untuk mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Siswa tetap perlu belajar memilih kata, memperhatikan situasi, dan menghargai orang yang memiliki pandangan berbeda.
Perbedaan pendapat sering kali dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Padahal, dua orang dapat memiliki pandangan yang berbeda tanpa harus saling bermusuhan.
Misalnya, ketika mengerjakan tugas kelompok, seorang siswa mengusulkan presentasi menggunakan media tertentu, sementara anggota lainnya memiliki ide berbeda. Situasi tersebut tidak harus berakhir dengan salah satu pihak merasa dikalahkan. Mereka dapat menjelaskan alasan masing-masing kemudian mencari pilihan yang paling sesuai dengan tujuan kelompok.
Hal penting yang perlu dipahami siswa adalah perbedaan pendapat tidak selalu berarti ada pihak yang salah. Terkadang, setiap orang hanya melihat sebuah masalah dari sudut yang berbeda. Dengan memahami hal tersebut, siswa dapat belajar berdiskusi tanpa merasa harus memenangkan setiap perdebatan.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilatih siswa ketika ingin menyampaikan pendapat, baik di kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi membutuhkan latihan. Siswa mungkin masih melakukan kesalahan ketika pertama kali mencoba. Yang penting, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi cara berkomunikasinya.
Cara seseorang menyampaikan kalimat dapat memengaruhi bagaimana pendapat tersebut diterima. Kalimat yang sebenarnya memiliki maksud baik dapat terdengar kasar jika disampaikan dengan pilihan kata yang kurang tepat.
Sebagai contoh, daripada mengatakan, “Cara kamu salah dan tidak masuk akal,” siswa dapat mengatakan, “Menurutku ada cara lain yang mungkin bisa kita pertimbangkan.” Kedua kalimat tersebut sama-sama menunjukkan ketidaksetujuan, tetapi kalimat kedua memberikan ruang untuk berdiskusi tanpa langsung menyerang orang lain.
Siswa juga dapat membiasakan penggunaan kata seperti “menurut saya”, “saya melihatnya dari sisi lain”, atau “bagaimana kalau kita mencoba cara ini?” Ungkapan tersebut membuat pendapat terdengar sebagai sudut pandang pribadi, bukan sebagai kebenaran mutlak yang harus diterima semua orang.
Kemampuan menyampaikan pendapat tidak akan lengkap tanpa kemampuan mendengarkan. Dalam sebuah diskusi, siswa tidak hanya memiliki tugas untuk membuat orang lain mendengar, tetapi juga perlu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
Mendengarkan berarti berusaha memahami apa yang sebenarnya disampaikan oleh orang lain sebelum memberikan tanggapan. Siswa dapat memperhatikan isi pembicaraan dan tidak langsung menyiapkan bantahan ketika orang lain belum selesai berbicara.
Kebiasaan ini dapat membuat komunikasi menjadi lebih sehat. Bahkan ketika akhirnya tetap tidak setuju, siswa dapat memberikan tanggapan berdasarkan apa yang benar-benar disampaikan oleh lawan bicara, bukan berdasarkan asumsi.
Tidak semua pendapat yang disampaikan akan diterima oleh orang lain. Hal tersebut merupakan bagian normal dari komunikasi. Siswa perlu belajar bahwa tidak diterimanya sebuah pendapat bukan berarti dirinya tidak dihargai.
Dalam diskusi kelompok, misalnya, sebuah ide dapat dipertimbangkan kemudian tidak dipilih karena ada pilihan lain yang dianggap lebih sesuai. Siswa dapat merasa kecewa, tetapi tetap perlu menghargai keputusan bersama.
Pengalaman seperti ini sebenarnya dapat melatih kematangan emosional. Siswa belajar bahwa mengemukakan pendapat adalah hak, tetapi menerima hasil diskusi juga merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Kegiatan kelompok memberikan banyak kesempatan bagi siswa untuk berlatih menyampaikan pendapat secara langsung. Ketika mengerjakan sebuah proyek, siswa harus menjelaskan ide, memberikan saran, menerima kritik, dan menentukan keputusan bersama.
Guru dapat membantu dengan memberikan aturan diskusi yang sederhana. Setiap anggota kelompok diberi kesempatan berbicara, tidak diperbolehkan mengejek pendapat teman, dan setiap kritik harus disertai alasan yang jelas.
Dengan pola seperti ini, siswa tidak hanya belajar menyelesaikan tugas. Mereka juga belajar bahwa kerja sama membutuhkan komunikasi dua arah dan kemampuan menghargai perbedaan.
Cara guru merespons pendapat siswa juga dapat memberikan pengaruh besar. Ketika siswa menyampaikan jawaban yang belum tepat, guru dapat memberikan koreksi dengan cara yang tetap menghargai usaha siswa.
Respons seperti “coba kita lihat lagi bagian ini” atau “ada sudut pandang lain yang bisa kita pertimbangkan” dapat membuat siswa lebih nyaman untuk terus berbicara. Sebaliknya, respons yang membuat siswa merasa dipermalukan dapat membuat mereka takut menyampaikan pendapat pada kesempatan berikutnya.
Guru tidak harus menyetujui semua pendapat siswa. Yang penting adalah menunjukkan bahwa sebuah pendapat dapat dikoreksi tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya. Pola komunikasi tersebut dapat menjadi contoh langsung bagi siswa.
Di lingkungan SMP Al Ma’soem Bandung, kegiatan pembelajaran maupun aktivitas siswa di luar kelas dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan komunikasi yang baik. Ketika siswa terbiasa berdiskusi, bekerja sama, dan menyampaikan pemikiran secara bertanggung jawab, kemampuan tersebut dapat berkembang secara alami.
Siswa juga perlu memahami bahwa memberikan kritik berbeda dengan mengejek. Kritik berfokus pada sesuatu yang dapat diperbaiki, sedangkan ejekan biasanya bertujuan merendahkan orang lain.
Misalnya, ketika teman melakukan kesalahan dalam presentasi, siswa dapat mengatakan bahwa suara teman kurang terdengar dan menyarankan agar berbicara lebih jelas. Kalimat tersebut memberikan masukan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kemampuan.
Sebaliknya, komentar yang menertawakan kemampuan teman tidak memberikan solusi. Jika kebiasaan mengejek dibiarkan, siswa dapat menjadi takut melakukan kesalahan dan akhirnya enggan berpartisipasi dalam kegiatan kelas.
Karena itu, penting bagi siswa untuk belajar menyampaikan kritik dengan fokus pada tindakan atau hasil pekerjaan, bukan menyerang karakter seseorang.
Kebiasaan menyampaikan pendapat tidak hanya berlaku ketika siswa berbicara secara langsung. Saat menggunakan media sosial, grup kelas, atau aplikasi percakapan, mereka juga perlu mempertimbangkan cara menyampaikan komentar.
Komunikasi melalui tulisan terkadang lebih mudah disalahartikan karena tidak memiliki ekspresi wajah dan intonasi suara. Kalimat yang menurut pengirim hanya candaan dapat dianggap menyakitkan oleh penerima.
Sebelum mengirim komentar atau pesan, siswa dapat membiasakan diri membaca ulang apa yang sudah ditulis. Mereka dapat bertanya kepada diri sendiri apakah kalimat tersebut benar-benar perlu dikirim dan apakah cara penyampaiannya sudah sesuai.
Siswa yang terbiasa menyampaikan pendapat akan mendapatkan pengalaman dalam mengutarakan pemikirannya kepada orang lain. Semakin sering berlatih, rasa gugup biasanya dapat berkurang.
Kepercayaan diri tersebut bukan berarti siswa harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Siswa yang percaya diri juga mampu berbicara ketika memang memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan dan mampu diam ketika waktunya mendengarkan.
Hal ini membuat kepercayaan diri menjadi lebih sehat. Anak tidak perlu mencari perhatian melalui suara yang paling keras, tetapi belajar bahwa pemikirannya memiliki nilai dan dapat disampaikan dengan cara yang tepat.
Kebiasaan menyampaikan pendapat dapat dilatih di rumah melalui percakapan sederhana. Orang tua dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan alasan di balik pilihannya, misalnya ketika memilih kegiatan, menentukan jadwal, atau membicarakan pengalaman di sekolah.
Orang tua tidak harus selalu langsung membenarkan atau menyalahkan pendapat anak. Mereka dapat mengajukan pertanyaan lanjutan agar anak belajar menjelaskan pemikirannya.
Ketika anak terbiasa didengarkan di rumah, mereka akan lebih mudah belajar mendengarkan orang lain. Sebaliknya, ketika pendapat anak selalu dipotong atau langsung dianggap salah, mereka dapat kesulitan membangun komunikasi yang terbuka.
Kemampuan menyampaikan pendapat dengan sopan merupakan bagian dari proses pendewasaan siswa. Mereka belajar bahwa memiliki suara sendiri adalah hal yang penting, tetapi suara tersebut perlu digunakan dengan tanggung jawab.
Siswa tidak harus menghindari perbedaan pendapat hanya agar suasana selalu tenang. Justru, mereka perlu belajar menghadapi perbedaan secara sehat. Dengan komunikasi yang baik, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk memahami perspektif baru, menemukan solusi, dan memperkuat kerja sama.
Kebiasaan tersebut akan terus berguna ketika siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan memasuki lingkungan yang semakin beragam. Mampu mengatakan “saya tidak setuju” dengan cara yang tetap menghargai orang lain merupakan salah satu bentuk kematangan yang perlu dibangun sejak dini.