Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Dalam kegiatan belajar, siswa akan menemukan banyak informasi dari buku pelajaran, penjelasan guru, artikel, video, maupun sumber digital lainnya. Informasi tersebut dapat membantu siswa memahami suatu materi, tetapi membaca informasi saja belum tentu berarti siswa benar-benar menguasainya. Salah satu tanda bahwa sebuah materi mulai dipahami adalah ketika siswa mampu menjelaskan kembali informasi tersebut menggunakan bahasa yang mereka mengerti sendiri.
Mengubah informasi menjadi bahasa sendiri bukan berarti mengubah makna atau membuat isi informasi menjadi berbeda. Siswa tetap perlu mempertahankan gagasan utama dari sumber yang dibaca, tetapi menyampaikannya dengan susunan kata yang lebih mudah dipahami. Kemampuan ini penting karena membuat siswa tidak hanya menghafalkan kalimat, tetapi juga berusaha memahami maksud dari informasi yang dipelajari.
Ketika membaca materi pelajaran, siswa terkadang dapat mengingat kalimat tertentu tanpa benar-benar memahami maksudnya. Hal tersebut bisa terjadi ketika siswa terlalu fokus menghafalkan kata demi kata. Saat diminta menjelaskan kembali dengan kalimat berbeda, mereka mungkin kesulitan karena belum memahami hubungan antara satu informasi dengan informasi lainnya.
Sebaliknya, ketika siswa mencoba menggunakan bahasa sendiri, mereka harus memproses informasi terlebih dahulu. Mereka perlu menentukan bagian yang paling penting, memahami maksudnya, kemudian menyusun kembali penjelasan dengan cara yang lebih sederhana.
Misalnya, setelah membaca penjelasan tentang suatu proses dalam pelajaran sains, siswa dapat mencoba menjelaskan proses tersebut seolah-olah sedang menceritakannya kepada teman. Jika penjelasannya masih membingungkan, hal itu dapat menjadi petunjuk bahwa ada bagian materi yang perlu dipelajari kembali.
Menggunakan bahasa sendiri bukan berarti setiap kata dari sumber diganti dengan sinonim. Prosesnya lebih dari itu. Siswa perlu memahami gagasan yang disampaikan terlebih dahulu sebelum menjelaskannya kembali.
Jika siswa hanya mengganti beberapa kata tetapi tetap tidak memahami makna keseluruhan, hasilnya belum menunjukkan pemahaman yang baik. Karena itu, guru dapat mengajak siswa menjawab pertanyaan sederhana seperti:
Pertanyaan tersebut membantu siswa bergerak dari sekadar membaca menuju proses memahami dan mengolah informasi.
Bahasa sendiri biasanya membuat siswa lebih leluasa memilih kata yang familiar bagi mereka. Materi yang awalnya terasa rumit dapat dijelaskan dengan kalimat yang lebih sederhana tanpa menghilangkan konsep utamanya.
Contohnya, sebuah istilah dalam buku mungkin memiliki definisi yang cukup panjang. Setelah memahaminya, siswa dapat membuat catatan singkat mengenai inti definisi tersebut. Catatan tersebut tidak harus sama persis dengan buku, selama maknanya tetap benar.
Kebiasaan ini dapat membantu ketika siswa melakukan kegiatan belajar mandiri. Saat membuka kembali catatan beberapa hari kemudian, mereka akan lebih mudah mengingat materi karena catatan tersebut dibuat berdasarkan proses pemahaman pribadi.
Dalam mengerjakan tugas, siswa terkadang memilih cara yang paling cepat dengan menyalin informasi dari sumber yang tersedia. Cara tersebut memang dapat menghasilkan tulisan dengan cepat, tetapi belum tentu membuat siswa memahami materi yang sedang dikerjakan.
Membiasakan siswa mengolah informasi dengan bahasa sendiri dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada kegiatan menyalin. Siswa perlu membaca, memahami, mengambil inti informasi, kemudian menyusunnya kembali.
Kebiasaan ini juga membantu siswa memahami bahwa tugas sekolah bukan hanya tentang menghasilkan halaman tulisan. Yang lebih penting adalah proses berpikir yang terjadi ketika mereka mengerjakan tugas tersebut.
Kemampuan menjelaskan dengan bahasa sendiri dapat dilatih secara bertahap. Siswa tidak harus langsung membuat rangkuman panjang. Latihan sederhana dapat dimulai dari satu paragraf atau satu konsep.
Guru dapat memberikan sebuah bacaan pendek, kemudian meminta siswa menuliskan inti informasi dalam dua atau tiga kalimat. Setelah itu, beberapa siswa dapat membacakan hasilnya dan membandingkan cara masing-masing dalam menjelaskan materi.
Latihan lain dapat dilakukan melalui metode menjelaskan kepada teman. Seorang siswa membaca materi tertentu, kemudian menjelaskan kembali tanpa melihat buku. Temannya dapat memberikan pertanyaan apabila ada bagian yang belum jelas.
Salah satu cara yang efektif untuk mengubah informasi menjadi bahasa sendiri adalah memberikan contoh. Konsep yang abstrak terkadang menjadi lebih mudah dipahami ketika dikaitkan dengan sesuatu yang pernah dialami siswa.
Misalnya, ketika mempelajari konsep kerja sama, siswa dapat menghubungkannya dengan kegiatan kelompok di sekolah. Saat mempelajari pengelolaan energi, siswa dapat mengaitkannya dengan penggunaan listrik di ruang kelas atau rumah.
Dengan memberikan contoh, siswa menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mengingat definisi. Mereka mulai memahami bagaimana suatu konsep dapat ditemukan dalam situasi nyata.
Meskipun siswa dianjurkan menggunakan bahasa sendiri, mereka tetap harus berhati-hati agar tidak mengubah informasi menjadi sesuatu yang keliru. Bahasa boleh dibuat lebih sederhana, tetapi makna utama harus tetap dipertahankan.
Hal ini dapat dilatih dengan cara membandingkan tulisan siswa dengan sumber awal. Setelah membuat penjelasan sendiri, siswa dapat memeriksa apakah informasi penting masih terdapat dalam tulisannya.
Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:
Kebiasaan memeriksa kembali tersebut membantu siswa menjadi lebih teliti ketika mengolah informasi.
Kemampuan menggunakan bahasa sendiri tidak hanya dibutuhkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Hampir semua mata pelajaran membutuhkan kemampuan memahami dan menjelaskan informasi.
Dalam matematika, siswa perlu menjelaskan bagaimana mereka mendapatkan sebuah jawaban. Dalam sains, mereka perlu menjelaskan proses atau hasil pengamatan. Dalam ilmu sosial, mereka perlu memahami hubungan antara peristiwa dan kondisi tertentu. Bahkan dalam pelajaran seni atau olahraga, siswa dapat diminta menjelaskan teknik, proses, maupun alasan di balik suatu kegiatan.
Karena itu, kemampuan mengolah informasi menjadi bahasa sendiri dapat menjadi keterampilan belajar yang digunakan secara luas. Siswa tidak perlu menghafalkan seluruh kalimat dari buku untuk menunjukkan bahwa mereka memahami materi.
Kemampuan ini juga berkaitan dengan keberanian siswa saat melakukan presentasi. Siswa yang terbiasa memahami materi sebelum menjelaskannya cenderung memiliki lebih banyak bahan untuk dibicarakan dibandingkan siswa yang hanya menghafalkan teks.
Ketika lupa satu kalimat, siswa yang memahami isi materi masih dapat menjelaskan dengan susunan kata lain. Sebaliknya, jika presentasi hanya mengandalkan hafalan, perubahan kecil dalam pertanyaan atau urutan pembahasan dapat membuat siswa lebih mudah kehilangan arah.
Latihan menjelaskan dengan bahasa sendiri dapat dilakukan secara sederhana. Siswa dapat membaca materi, menutup buku, lalu mencoba menjelaskan kembali inti pembahasan selama beberapa menit. Dari latihan tersebut, siswa dapat mengetahui bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih perlu dipelajari.
Mengubah informasi menjadi bahasa sendiri membuat kegiatan membaca menjadi lebih aktif. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi melakukan sesuatu terhadap informasi tersebut. Mereka memilih gagasan utama, menghubungkan konsep, menyusun kalimat, memberikan contoh, dan memeriksa kembali pemahamannya.
Kebiasaan ini dapat diterapkan saat membuat catatan, mengerjakan tugas, mempersiapkan ujian, maupun berdiskusi dengan teman. Semakin sering siswa berlatih, semakin terbiasa mereka memandang belajar sebagai proses memahami, bukan sekadar mengingat.
Di lingkungan sekolah, kemampuan tersebut juga dapat membantu siswa berkomunikasi dengan lebih jelas. Ketika memahami sesuatu, mereka dapat menjelaskannya dengan cara yang sesuai dengan lawan bicara, baik kepada teman, guru, maupun anggota kelompok. Hal sederhana seperti menjelaskan kembali materi dengan kata-kata sendiri pada akhirnya dapat menjadi bagian penting dari keterampilan belajar dan berpikir siswa.