Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Membaca merupakan kegiatan yang hampir selalu muncul dalam kehidupan siswa. Buku pelajaran, artikel, cerita, instruksi tugas, soal ujian, hingga informasi di lingkungan sekolah membutuhkan kemampuan membaca. Namun, membaca tidak selalu memiliki tujuan yang sama. Siswa membaca cerita untuk menikmati alurnya, membaca buku pelajaran untuk memahami konsep, dan membaca petunjuk untuk mengetahui langkah yang harus dilakukan.
Karena tujuan setiap bacaan dapat berbeda, siswa perlu belajar menentukan apa yang ingin mereka dapatkan sebelum mulai membaca. Kebiasaan sederhana ini dapat membuat proses membaca menjadi lebih terarah. Siswa tidak hanya membaca setiap kalimat secara berurutan, tetapi juga mengetahui informasi seperti apa yang perlu diperhatikan.
Tujuan membaca adalah alasan seseorang membaca sebuah teks. Alasan tersebut dapat berupa mencari informasi tertentu, memahami sebuah konsep, mengikuti instruksi, mendapatkan gambaran umum, atau menikmati sebuah cerita.
Misalnya, ketika siswa membuka buku pelajaran sebelum ulangan, tujuan utamanya mungkin memahami kembali materi yang pernah dipelajari. Sementara ketika membaca pengumuman sekolah, tujuan membaca lebih sederhana, yaitu mengetahui informasi penting seperti waktu, tempat, dan kegiatan yang akan dilakukan.
Menentukan tujuan tidak berarti siswa harus membuat kalimat yang rumit. Cukup dengan mengetahui pertanyaan sederhana seperti, “Saya membaca ini untuk mencari apa?” atau “Setelah selesai membaca, saya ingin memahami bagian mana?”
Tanpa tujuan yang jelas, siswa terkadang membaca seluruh teks dengan perhatian yang sama. Hal ini dapat membuat informasi penting bercampur dengan informasi pendukung sehingga proses memahami bacaan menjadi kurang terarah.
Dengan tujuan yang sudah ditentukan, siswa dapat memberikan perhatian lebih kepada bagian yang relevan. Jika sedang mencari jadwal kegiatan, misalnya, mereka tidak perlu menghafalkan seluruh isi pengumuman.
Tujuan membaca juga membantu siswa memilih cara membaca. Teks yang membutuhkan pemahaman mendalam tentu perlu dibaca dengan cara yang berbeda dari teks yang hanya membutuhkan satu informasi tertentu.
Sebelum membaca, siswa dapat melihat terlebih dahulu jenis bacaan yang akan dihadapi. Bentuk teks biasanya memberikan petunjuk mengenai tujuan membaca.
Beberapa contohnya adalah:
Dengan mengenali jenis teks, siswa dapat menentukan perhatian yang diperlukan selama membaca.
Salah satu cara menentukan tujuan adalah membuat pertanyaan sederhana sebelum membaca. Pertanyaan tersebut dapat menjadi panduan selama siswa mengikuti isi bacaan.
Misalnya, sebelum membaca materi tentang suatu fenomena, siswa dapat bertanya, “Apa penyebabnya?”, “Bagaimana prosesnya?”, dan “Apa dampaknya?” Ketika membaca, perhatian siswa akan lebih terarah pada informasi yang dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan tidak harus selalu ditulis. Siswa cukup mengingat satu atau dua hal yang ingin diketahui sebelum membuka bacaan.
Judul dan subjudul dapat membantu siswa memperkirakan isi bacaan. Sebelum membaca seluruh teks, siswa dapat melihat struktur yang tersedia.
Misalnya, sebuah bab memiliki subjudul tentang pengertian, jenis, proses, dan manfaat. Dari struktur tersebut, siswa sudah mendapatkan gambaran mengenai informasi yang akan ditemukan.
Kebiasaan melihat judul dan subjudul juga membantu siswa menentukan tujuan yang lebih spesifik. Mereka dapat mengetahui bagian mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika membaca.
Ada situasi ketika siswa tidak perlu membaca setiap bagian secara mendalam. Misalnya, mereka sedang mencari tanggal kegiatan, nama tempat, jumlah peserta, atau informasi tertentu dalam sebuah teks.
Dalam kondisi seperti ini, tujuan membaca adalah menemukan informasi spesifik. Siswa dapat menggunakan judul, kata yang menonjol, daftar, atau bagian tertentu untuk mempercepat pencarian.
Setelah menemukan informasi yang dicari, siswa tetap perlu membaca kalimat di sekitarnya agar tidak mengambil informasi di luar konteks.
Ketika membaca buku pelajaran, tujuan siswa biasanya bukan sekadar menemukan satu kata. Mereka perlu memahami hubungan antara berbagai informasi.
Dalam kondisi tersebut, membaca dapat dilakukan dengan lebih perlahan. Siswa dapat memperhatikan definisi, contoh, proses, sebab-akibat, dan hubungan antarkonsep.
Setelah selesai membaca satu bagian, siswa dapat mencoba menjelaskan kembali menggunakan bahasa sendiri. Cara tersebut dapat membantu mengetahui apakah tujuan membaca sudah tercapai.
Instruksi memiliki tujuan yang berbeda dari cerita atau artikel. Ketika membaca instruksi, siswa perlu mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan dan urutan langkahnya.
Misalnya, sebuah tugas meminta siswa menyiapkan alat, melakukan beberapa langkah, kemudian mencatat hasil. Jika siswa membaca secara terburu-buru, salah satu langkah mungkin terlewat.
Karena itu, tujuan membaca instruksi adalah memahami tindakan yang diperlukan. Siswa dapat mencatat bagian yang berisi perintah atau mengulang langkah tertentu sebelum mulai mengerjakan.
Tidak semua kegiatan membaca harus menghasilkan catatan atau jawaban. Ketika membaca cerita, siswa dapat memiliki tujuan untuk menikmati alur, mengenal karakter, dan memahami pengalaman tokoh.
Cara membaca seperti ini memberikan ruang bagi siswa untuk menikmati bahasa dan imajinasi. Mereka tidak perlu selalu mencari informasi akademik dari setiap paragraf.
Namun, jika tugas membaca meminta analisis tertentu, tujuan membaca dapat disesuaikan. Siswa mungkin perlu memperhatikan karakter tokoh, konflik, latar, atau pesan yang terdapat dalam cerita.
Tujuan membaca juga dapat membantu siswa menentukan seberapa mendalam sebuah teks perlu dibaca. Tidak semua bacaan membutuhkan waktu yang sama.
Jika siswa hanya ingin mendapatkan gambaran umum, mereka dapat melihat judul, subjudul, paragraf awal, dan bagian penting. Jika ingin memahami materi untuk ujian, mereka perlu membaca lebih teliti dan melakukan pengulangan.
Dengan mengetahui tujuan, siswa dapat menggunakan waktu secara lebih terarah tanpa harus memperlakukan semua bacaan dengan cara yang sama.
Catatan yang dibuat siswa juga dapat disesuaikan dengan tujuan membaca. Jika tujuan membaca adalah memahami konsep, siswa dapat mencatat definisi, hubungan, dan contoh. Jika tujuannya mencari informasi, mereka dapat mencatat data yang dibutuhkan.
Hal tersebut membuat catatan menjadi lebih ringkas dan relevan. Siswa tidak perlu menyalin seluruh isi bacaan hanya karena merasa semua informasi harus dicatat.
Beberapa bentuk catatan yang dapat digunakan antara lain:
Setelah selesai membaca, siswa dapat melakukan pemeriksaan sederhana. Mereka dapat bertanya, “Apakah saya sudah mendapatkan informasi yang saya cari?”
Jika jawabannya belum, siswa dapat kembali ke bagian yang relevan. Jika tujuan membaca sudah tercapai, mereka tidak selalu perlu membaca ulang seluruh teks.
Misalnya, tujuan awal adalah memahami tiga konsep utama. Setelah membaca, siswa dapat mencoba menyebutkan ketiganya tanpa melihat buku. Jika masih ada konsep yang belum dapat dijelaskan, bagian tersebut dapat dipelajari kembali.
Membaca dengan tujuan membuat siswa lebih aktif karena mereka memiliki sesuatu yang ingin dicapai. Mereka tidak hanya melewati kalimat demi kalimat, tetapi memperhatikan informasi yang berhubungan dengan kebutuhan mereka.
Sikap aktif juga dapat membuat siswa lebih mudah menyadari ketika mereka tidak memahami sebuah bagian. Mereka dapat berhenti, membaca kembali, mencari penjelasan, atau mencatat pertanyaan.
Dengan demikian, membaca menjadi proses memahami informasi, bukan sekadar menyelesaikan sejumlah halaman.
Tujuan membaca tidak selalu tetap dari awal sampai akhir. Setelah mendapatkan informasi tertentu, siswa mungkin menemukan pertanyaan baru yang membutuhkan perhatian.
Misalnya, awalnya siswa membaca sebuah artikel untuk mengetahui penyebab suatu peristiwa. Setelah menemukan jawabannya, mereka menjadi tertarik mengetahui dampaknya. Tujuan membaca kemudian dapat berkembang.
Hal tersebut merupakan bagian alami dari proses belajar. Yang penting, siswa tetap mengetahui informasi apa yang sedang mereka cari agar kegiatan membaca tidak kehilangan arah.
Menentukan tujuan membaca tidak membutuhkan waktu lama. Sebelum membuka sebuah teks, siswa dapat meluangkan beberapa detik untuk melihat judul dan bertanya apa yang ingin mereka dapatkan dari bacaan tersebut.
Kebiasaan sederhana ini dapat diterapkan ketika membaca buku pelajaran, artikel, instruksi tugas, pengumuman, maupun cerita. Semakin sering dilakukan, siswa akan semakin terbiasa menyesuaikan cara membaca dengan kebutuhan.
Dengan memiliki tujuan yang jelas, siswa dapat membaca dengan perhatian yang lebih terarah, memilih informasi yang relevan, dan mengetahui kapan sebuah bacaan sudah memberikan jawaban yang mereka butuhkan.