Images

Mengapa Siswa Perlu Belajar Menemukan Informasi yang Tersirat dalam Bacaan?

Membaca bukan hanya kegiatan mengenali kata dan memahami kalimat yang tertulis secara langsung. Dalam banyak bacaan, terutama ketika siswa mulai berhadapan dengan teks yang lebih panjang, terdapat informasi yang tidak disampaikan secara terang-terangan. Pembaca perlu memperhatikan petunjuk tertentu untuk memahami maksud yang ingin disampaikan penulis. Kemampuan seperti ini dikenal sebagai kemampuan menemukan informasi tersirat.

Informasi tersirat merupakan informasi yang tidak dituliskan secara langsung, tetapi dapat dipahami melalui hubungan antara kalimat, pilihan kata, situasi, atau fakta yang terdapat dalam bacaan. Kemampuan mengenalinya penting karena tidak semua pertanyaan dalam tugas sekolah dapat dijawab dengan sekadar mencari kalimat yang sama persis di dalam teks.

Apa yang Dimaksud dengan Informasi Tersirat?

Informasi tersirat adalah makna atau keterangan yang dapat dipahami dari sebuah bacaan meskipun tidak dinyatakan secara langsung. Pembaca perlu menggunakan petunjuk yang tersedia untuk memperoleh pemahaman tersebut.

Sebagai contoh, sebuah cerita mungkin menggambarkan seorang siswa membawa payung, mengenakan jaket, dan berjalan hati-hati karena jalan terlihat basah. Cerita tersebut tidak harus mengatakan secara langsung bahwa hujan baru saja turun. Namun, dari beberapa petunjuk tersebut, pembaca dapat memahami kemungkinan keadaan yang sedang terjadi.

Kemampuan membaca seperti ini membutuhkan perhatian terhadap detail. Siswa tidak cukup hanya membaca satu kalimat, tetapi perlu melihat hubungan antara beberapa informasi yang tersedia.

Mengapa Kemampuan Ini Penting bagi Siswa?

Dalam kegiatan belajar, siswa sering menemukan soal yang meminta mereka memahami maksud suatu paragraf, alasan sebuah kejadian, atau keadaan tokoh dalam cerita. Jawabannya terkadang tidak ditulis dalam satu kalimat tertentu.

Jika siswa hanya mencari jawaban yang tertulis secara langsung, mereka dapat kesulitan ketika menghadapi pertanyaan semacam itu. Sebaliknya, siswa yang terbiasa memperhatikan petunjuk dapat menghubungkan beberapa informasi dan memperoleh pemahaman yang lebih lengkap.

Kemampuan menemukan informasi tersirat juga berkaitan dengan cara siswa memahami materi secara mendalam. Mereka belajar tidak terburu-buru mengambil makna hanya dari satu bagian teks.

Membaca Setiap Petunjuk dengan Teliti

Langkah pertama untuk menemukan informasi tersirat adalah memperhatikan petunjuk yang diberikan penulis. Petunjuk tersebut dapat berupa tindakan tokoh, kondisi lingkungan, angka, pilihan kata, atau perubahan keadaan.

Misalnya, dalam sebuah bacaan disebutkan bahwa seorang siswa datang terlambat, terlihat terburu-buru, dan langsung meminta maaf kepada guru. Tidak ada kalimat yang menyebutkan bahwa siswa tersebut sedang menghadapi masalah dalam perjalanan. Namun, rangkaian kejadian tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang membuat perjalanannya tidak berjalan sesuai rencana.

Siswa tidak perlu langsung membuat kesimpulan. Mereka dapat mengumpulkan petunjuk terlebih dahulu sebelum menentukan makna yang paling masuk akal.

Menghubungkan Beberapa Kalimat

Informasi tersirat sering kali baru terlihat ketika beberapa kalimat dibaca secara bersamaan. Sebuah kalimat mungkin terlihat biasa jika berdiri sendiri, tetapi menjadi lebih bermakna ketika dikaitkan dengan kalimat sebelumnya atau sesudahnya.

Contohnya, sebuah teks menjelaskan bahwa tanaman di halaman sekolah terlihat layu. Beberapa kalimat kemudian disebutkan bahwa selama beberapa hari tidak turun hujan dan tanah terasa kering. Dari informasi tersebut, siswa dapat menghubungkan keadaan tanaman dengan kurangnya air.

Latihan menghubungkan kalimat membantu siswa memahami bahwa sebuah bacaan memiliki keterkaitan antargagasan. Informasi tidak selalu berdiri sendiri.

Membedakan Informasi Tersurat dan Tersirat

Sebelum mencari informasi tersirat, siswa perlu memahami perbedaan antara informasi tersurat dan tersirat.

Informasi tersurat adalah informasi yang disampaikan secara langsung dalam bacaan. Pembaca biasanya dapat menemukan jawabannya dengan menunjuk kalimat tertentu.

Informasi tersirat tidak dituliskan secara langsung. Pembaca perlu menggabungkan petunjuk atau memahami hubungan antarbagian teks untuk menemukannya.

Keduanya sama-sama penting. Siswa tidak perlu menganggap bahwa informasi tersirat selalu lebih sulit atau lebih penting daripada informasi tersurat. Keduanya merupakan bagian dari proses memahami bacaan secara menyeluruh.

Jangan Menambahkan Informasi dari Luar Teks

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi ketika mencari informasi tersirat adalah membuat kesimpulan yang terlalu jauh. Siswa mungkin menggunakan pengalaman pribadi atau pengetahuan di luar bacaan yang sebenarnya tidak didukung oleh teks.

Karena itu, setiap dugaan sebaiknya memiliki dasar berupa petunjuk yang terdapat dalam bacaan. Jika teks hanya memberikan beberapa tanda tertentu, siswa perlu membatasi kesimpulannya sesuai dengan informasi yang tersedia.

Cara ini membantu siswa membedakan antara kesimpulan yang memiliki dasar dan sekadar tebakan. Semakin kuat petunjuknya, semakin masuk akal kesimpulan yang dibuat.

Menggunakan Pertanyaan “Mengapa?”

Pertanyaan “mengapa?” dapat membantu siswa menggali informasi yang tidak langsung disebutkan. Ketika membaca sebuah peristiwa, siswa dapat bertanya mengenai alasan terjadinya sesuatu.

Misalnya, jika tokoh dalam cerita memilih berteduh, siswa dapat mencari petunjuk mengenai keadaan yang membuat tokoh tersebut melakukan tindakan itu. Jika bacaan menyebutkan langit gelap dan suara petir, siswa dapat menghubungkan informasi tersebut dengan tindakan tokoh.

Pertanyaan sederhana seperti “mengapa hal ini terjadi?” membuat siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencari hubungan di baliknya.

Menggunakan Pertanyaan “Apa yang Mungkin Terjadi?”

Pertanyaan lain yang dapat digunakan adalah “apa yang mungkin terjadi?” Pertanyaan ini membantu siswa memperhatikan petunjuk yang mengarah pada suatu keadaan.

Namun, kata “mungkin” perlu diperhatikan. Siswa tidak harus menganggap semua dugaan sebagai fakta. Mereka perlu melihat apakah ada bukti dalam bacaan yang mendukung dugaan tersebut.

Dalam pembelajaran, guru dapat memberikan beberapa bacaan pendek dan meminta siswa menyebutkan kemungkinan keadaan berdasarkan petunjuk yang tersedia. Setelah itu, siswa dapat menjelaskan bagian teks yang menjadi dasar jawabannya.

Memperhatikan Perubahan Sikap Tokoh

Dalam teks berbentuk cerita, informasi tersirat sering muncul melalui perubahan sikap tokoh. Tokoh yang awalnya bersemangat kemudian menjadi diam, misalnya, dapat menunjukkan adanya perubahan keadaan.

Siswa dapat memperhatikan apa yang terjadi sebelum perubahan tersebut. Apakah tokoh mendapatkan informasi baru? Apakah ada kejadian tertentu? Apakah seseorang mengatakan sesuatu kepadanya?

Dengan menghubungkan perubahan sikap dengan kejadian di sekitarnya, siswa dapat memahami keadaan tokoh tanpa harus menunggu penulis menjelaskannya secara langsung.

Memperhatikan Hubungan Sebab dan Akibat

Hubungan sebab dan akibat juga dapat membantu menemukan informasi tersirat. Sebuah bacaan mungkin hanya menyebutkan kejadian pertama dan hasil akhirnya, sementara alasan di antaranya harus dipahami pembaca melalui beberapa petunjuk.

Siswa dapat mencoba mengurutkan peristiwa yang terjadi. Setelah itu, mereka dapat bertanya apa yang menyebabkan perubahan tersebut.

Kemampuan ini berguna tidak hanya saat membaca cerita, tetapi juga ketika memahami artikel pengetahuan, laporan sederhana, atau materi pelajaran. Banyak informasi akademik memiliki hubungan sebab dan akibat yang perlu dipahami secara menyeluruh.

Latihan dengan Bacaan Pendek

Kemampuan menemukan informasi tersirat dapat dilatih secara bertahap. Siswa tidak harus langsung membaca teks yang sangat panjang. Bacaan pendek dengan situasi yang jelas dapat menjadi awal yang baik.

Setelah membaca, siswa dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti:

  • Apa yang sebenarnya terjadi?
  • Petunjuk apa yang mendukung jawaban tersebut?
  • Apa alasan tokoh melakukan sesuatu?
  • Apa yang dapat diperkirakan dari keadaan dalam bacaan?
  • Bagian mana dari teks yang membantu menemukan jawabannya?

Pertanyaan semacam ini membuat siswa terbiasa menjelaskan dasar dari jawabannya, bukan hanya memberikan jawaban singkat.

Membiasakan Diri Memberikan Alasan

Ketika siswa memberikan jawaban, mereka dapat dilatih untuk menyertakan alasan. Misalnya, bukan hanya mengatakan “tokoh sedang khawatir”, tetapi menjelaskan bahwa kesimpulan tersebut diperoleh karena tokoh terus melihat jam, berjalan mondar-mandir, dan terlihat gelisah.

Kebiasaan memberikan alasan membuat proses berpikir menjadi lebih terlihat. Guru maupun teman dapat memahami bagaimana siswa memperoleh jawaban tersebut.

Hal ini juga membantu siswa mengevaluasi pemikirannya sendiri. Jika mereka kesulitan menunjukkan petunjuk yang mendukung jawaban, mungkin kesimpulannya perlu diperiksa kembali.

Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis

Menemukan informasi tersirat merupakan salah satu bentuk latihan berpikir kritis. Siswa tidak hanya menerima informasi apa adanya, tetapi juga belajar menghubungkan fakta, membaca petunjuk, dan mempertimbangkan apakah sebuah kesimpulan memiliki dasar yang cukup.

Kemampuan tersebut dapat digunakan dalam berbagai situasi. Saat membaca berita, memahami soal pelajaran, mengikuti cerita, atau membaca informasi di internet, siswa akan sering menemukan bagian yang membutuhkan penafsiran.

Dengan membiasakan diri mencari bukti sebelum membuat kesimpulan, siswa dapat menjadi pembaca yang lebih teliti. Mereka belajar bahwa memahami bacaan bukan sekadar menemukan kata yang sama dengan pertanyaan, melainkan memahami keseluruhan informasi dan hubungan yang ada di dalamnya.