Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Pernah merasa baru bermain gim sebentar, tetapi ketika melihat jam ternyata sudah berlalu cukup lama? Pengalaman seperti ini cukup umum. Seseorang dapat merasa waktu berjalan sangat cepat ketika sedang melakukan aktivitas yang menarik dan membuat perhatian terpusat.
Menariknya, jam sebenarnya tetap berjalan dengan kecepatan yang sama. Yang berubah adalah cara otak memperhatikan dan merasakan waktu. Ketika seseorang sangat terlibat dalam suatu aktivitas, perhatian dapat lebih banyak diarahkan pada permainan, tantangan, strategi, atau target yang sedang dikerjakan daripada pada berlalunya waktu.
Fenomena ini tidak hanya terjadi saat bermain gim. Siswa juga dapat mengalaminya ketika membaca buku yang disukai, mengerjakan proyek, menonton film, menggambar, berolahraga, atau melakukan aktivitas lain yang membuat mereka sangat tertarik.
Otak tidak memiliki satu “jam internal” sederhana yang selalu menghasilkan pengalaman waktu yang sama. Persepsi terhadap waktu dapat dipengaruhi oleh perhatian, emosi, tingkat keterlibatan, dan situasi yang sedang dialami.
Ketika seseorang sedang menunggu sesuatu yang membosankan, perhatian justru lebih mudah tertuju pada waktu. Lima belas menit dapat terasa sangat lama karena seseorang terus memeriksa jam dan menyadari setiap menit yang berlalu.
Sebaliknya, ketika sedang fokus melakukan aktivitas yang menarik, perhatian lebih banyak digunakan untuk memproses informasi dari aktivitas tersebut. Kesadaran terhadap waktu dapat berkurang sehingga setelah aktivitas selesai, seseorang merasa waktu berlalu lebih cepat.
Karena itu, pengalaman “baru sebentar, ternyata sudah lama” tidak berarti waktu benar-benar bergerak lebih cepat.
Gim dirancang dengan berbagai elemen yang membuat pemain terus memperhatikan apa yang sedang terjadi. Ada tujuan yang jelas, tantangan, umpan balik, skor, level, karakter, serta perubahan situasi yang membutuhkan respons.
Setiap kali menyelesaikan satu tantangan, pemain dapat memperoleh target baru. Pola seperti ini membuat perhatian terus diarahkan pada langkah berikutnya.
Selain itu, gim biasanya memberikan informasi secara langsung. Ketika pemain melakukan sesuatu, hasilnya dapat segera terlihat. Respons yang cepat tersebut membuat aktivitas terasa interaktif dan berbeda dari kegiatan yang hanya membutuhkan menunggu.
Namun, pengalaman yang menarik bukan berarti selalu buruk. Bermain gim dapat menjadi bentuk hiburan. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengatur waktu dan memastikan aktivitas tersebut tidak mengganggu kebutuhan lain, seperti tidur, belajar, makan, bergerak, atau berinteraksi dengan keluarga dan teman.
Dalam psikologi, ada konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan pengalaman ketika seseorang sangat tenggelam dalam suatu aktivitas, yaitu flow. Konsep ini dikembangkan oleh psikolog Mihaly Csikszentmihalyi.
Flow menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki tingkat keterlibatan yang tinggi terhadap aktivitas yang dilakukan. Biasanya terdapat tujuan yang cukup jelas, tantangan yang sesuai dengan kemampuan, dan umpan balik yang membantu seseorang mengetahui perkembangan pekerjaannya.
Ketika mengalami kondisi tersebut, seseorang dapat menjadi sangat fokus hingga kurang memperhatikan hal-hal di luar aktivitasnya, termasuk waktu.
Pengalaman seperti ini sebenarnya tidak terbatas pada gim. Seorang siswa yang sedang menyelesaikan proyek sains, berlatih alat musik, membuat ilustrasi, atau bermain olahraga juga dapat sangat fokus hingga tidak terlalu menyadari waktu.
Tidak selalu. Perasaan bahwa waktu berlalu cepat tidak dapat digunakan sebagai ukuran yang akurat mengenai berapa lama seseorang telah melakukan suatu aktivitas.
Karena itu, mengandalkan perasaan seperti “rasanya baru sebentar” dapat membuat seseorang salah memperkirakan durasi. Aktivitas yang terasa berlangsung singkat ternyata mungkin sudah menghabiskan waktu cukup lama.
Hal ini menjadi penting bagi siswa yang memiliki banyak kegiatan. Jika hanya mengandalkan rasa, mereka dapat kesulitan memperkirakan kapan harus berhenti dan berpindah ke kegiatan berikutnya.
Cara yang lebih sederhana adalah menggunakan batas waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu siswa tetap menikmati aktivitas tanpa kehilangan kendali terhadap waktu.
1. Tentukan batas sebelum mulai.
Sebelum bermain atau melakukan aktivitas yang sangat menarik, tentukan kapan aktivitas tersebut akan selesai. Batas yang dibuat sebelum mulai biasanya lebih mudah diikuti dibandingkan keputusan yang baru dibuat ketika sudah terlalu larut.
2. Gunakan pengingat waktu.
Alarm atau pengingat dapat membantu memberikan sinyal bahwa sudah waktunya berhenti atau beristirahat. Ini berguna karena persepsi waktu dapat berubah ketika seseorang sedang sangat fokus.
3. Tentukan titik berhenti.
Untuk aktivitas yang memiliki tahapan, tentukan kondisi yang menjadi tanda untuk berhenti. Misalnya, setelah menyelesaikan satu sesi atau satu bagian pekerjaan.
4. Beri jeda.
Jika melakukan aktivitas dalam waktu cukup lama, berikan kesempatan untuk berdiri, minum, bergerak, atau melihat aktivitas lain. Jeda juga membantu seseorang menyadari kembali bagaimana waktu telah digunakan.
5. Catat durasi sesekali.
Siswa dapat membandingkan perkiraan waktu dengan waktu sebenarnya. Kebiasaan ini menarik karena dapat menunjukkan seberapa akurat seseorang memperkirakan durasi ketika sedang sangat fokus.
Menariknya, hubungan antara perhatian dan waktu tidak selalu menghasilkan pengalaman yang sama.
Ketika seseorang melakukan aktivitas yang membosankan, perhatian dapat lebih sering kembali kepada waktu. Misalnya, ketika menunggu giliran atau berada dalam kegiatan yang kurang menarik, seseorang mungkin berkali-kali melihat jam.
Akibatnya, waktu dapat terasa lebih lambat ketika aktivitas sedang berlangsung.
Namun, pengalaman waktu juga dapat berubah ketika seseorang melihat kembali suatu periode yang sudah berlalu. Hari yang penuh dengan berbagai pengalaman baru dapat terasa panjang ketika diingat karena memiliki banyak peristiwa, meskipun saat menjalaninya waktu terasa cepat.
Ini menunjukkan bahwa merasakan waktu saat suatu aktivitas berlangsung dan mengingat durasi setelah aktivitas selesai merupakan dua pengalaman yang dapat berbeda.
Fokus juga dapat berubah ketika seseorang terus berpindah perhatian. Misalnya, seorang siswa sedang mengerjakan tugas, kemudian membuka gim, melihat pesan, berpindah ke video, lalu kembali ke tugas.
Dalam kondisi seperti itu, waktu tetap berjalan, tetapi aktivitas yang dilakukan menjadi terpecah-pecah. Seseorang mungkin merasa sudah belajar cukup lama karena duduk di depan meja selama satu jam, padahal waktu yang benar-benar digunakan untuk berkonsentrasi pada tugas jauh lebih sedikit.
Karena itu, mengelola waktu bukan hanya tentang menghitung berapa lama seseorang berada di depan layar atau meja belajar. Yang juga penting adalah memahami bagaimana waktu tersebut digunakan.
Siswa dapat mulai membangun kesadaran terhadap waktu melalui kebiasaan sederhana. Salah satunya adalah memperkirakan durasi suatu aktivitas sebelum melakukannya, kemudian membandingkan perkiraan tersebut dengan waktu sebenarnya.
Misalnya, siswa memperkirakan bahwa mengerjakan lima soal matematika membutuhkan waktu 15 menit. Setelah selesai, mereka dapat melihat apakah perkiraannya mendekati kenyataan.
Latihan seperti ini membantu membangun kemampuan memperkirakan durasi dan merencanakan kegiatan. Kemampuan tersebut berguna ketika siswa harus membagi waktu antara belajar, kegiatan sekolah, istirahat, dan hiburan.
Semakin sering seseorang memperhatikan bagaimana waktu digunakan, semakin mudah baginya mengenali aktivitas yang membuat dirinya kehilangan kesadaran terhadap waktu.
Memahami persepsi waktu bukan berarti siswa harus menghindari gim atau aktivitas yang menyenangkan. Justru, pemahaman tersebut dapat membantu mereka menggunakan aktivitas hiburan secara lebih sadar.
Sebuah aktivitas dapat terasa hanya berlangsung sebentar karena perhatian sedang sangat terpusat. Karena itu, keputusan untuk berhenti sebaiknya tidak hanya bergantung pada perasaan “sudah lama atau belum”, tetapi juga pada batas waktu dan kebutuhan lain yang perlu dipenuhi.
Kemampuan mengatur waktu pada akhirnya bukan sekadar kemampuan melihat jam. Siswa belajar mengenali bagaimana perhatian mereka bekerja, mengapa aktivitas tertentu terasa sangat menyita waktu, dan bagaimana membuat batas agar berbagai kegiatan tetap memiliki ruang masing-masing.
Dengan memahami hal tersebut, siswa dapat menikmati aktivitas yang mereka sukai sekaligus tetap memiliki kendali terhadap waktu yang digunakan.