Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Bulan purnama merupakan salah satu fase Bulan yang paling mudah dikenali. Pada fase ini, permukaan Bulan yang menghadap Bumi tampak terang karena mendapatkan cahaya Matahari. Namun, ada pertanyaan menarik yang dapat muncul ketika siswa mempelajari Tata Surya: jika Bulan purnama terjadi setiap sekitar satu bulan sekali, mengapa Gerhana Bulan tidak terjadi setiap kali Bulan purnama?
Sekilas, jawabannya mungkin terlihat sederhana. Gerhana Bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Akan tetapi, posisi ketiga benda langit tersebut ternyata tidak selalu benar-benar berada dalam satu garis. Di sinilah siswa dapat menemukan bahwa astronomi tidak hanya berbicara tentang planet dan satelit, tetapi juga tentang sudut, jarak, posisi, dan geometri.
Ketika Bulan berada pada fase purnama, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan memang berada dalam susunan yang memungkinkan terjadinya gerhana. Namun, susunan tersebut tidak selalu cukup tepat untuk membuat bayangan Bumi mengenai Bulan.
Bulan mengelilingi Bumi melalui orbit yang sedikit miring terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibat kemiringan tersebut, ketika purnama terjadi, Bulan sering kali berada sedikit di atas atau di bawah jalur bayangan Bumi.
Konsep ini menarik untuk diperagakan di kelas. Guru dapat menggunakan lampu sebagai Matahari, bola sebagai Bumi, dan benda berbentuk bola yang lebih kecil sebagai Bulan. Ketika ketiganya disejajarkan, bayangan Bumi dapat mengenai Bulan. Namun, ketika posisi Bulan sedikit digeser ke atas atau ke bawah, bayangannya dapat melewati Bulan.
Dari simulasi sederhana tersebut, siswa dapat melihat bahwa perubahan posisi yang kecil dapat menghasilkan hasil yang berbeda.
Bumi mengelilingi Matahari pada suatu bidang yang dalam astronomi disebut bidang ekliptika. Sementara itu, orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5 derajat terhadap bidang tersebut.
Angka 5 derajat mungkin terlihat kecil ketika dituliskan di buku. Namun, dalam skala Tata Surya, kemiringan tersebut sangat penting. Karena orbit Bulan miring, sebagian besar waktu Bulan tidak tepat berada di jalur bayangan Bumi ketika purnama berlangsung.
Materi ini dapat dikaitkan dengan pembelajaran geometri. Siswa dapat belajar bahwa dua bidang yang memiliki kemiringan tertentu akan menghasilkan hubungan posisi yang berbeda ketika sebuah objek bergerak di dalamnya.
Dengan bantuan gambar atau model tiga dimensi, konsep yang awalnya sulit dibayangkan dapat menjadi lebih mudah dipahami.
Orbit Bulan memotong bidang ekliptika pada dua titik yang disebut simpul orbit atau nodes. Salah satunya dikenal sebagai simpul naik dan lainnya sebagai simpul turun.
Gerhana dapat terjadi ketika Bulan berada dekat salah satu simpul tersebut pada saat fase Bulan yang sesuai. Untuk Gerhana Bulan, fase tersebut adalah Bulan purnama.
Artinya, terdapat dua kondisi yang perlu diperhatikan. Pertama, Bulan harus berada pada fase purnama. Kedua, posisinya harus cukup dekat dengan simpul orbit sehingga berada pada jalur bayangan Bumi.
Penjelasan ini dapat membantu siswa memahami mengapa gerhana hanya muncul pada waktu-waktu tertentu. Bukan karena Bulan bergerak secara tidak teratur, melainkan karena kombinasi posisi yang tepat hanya terjadi pada periode tertentu.
Ketika Bumi menghalangi cahaya Matahari, terbentuk wilayah bayangan di belakang Bumi. Bayangan tersebut tidak hanya memiliki satu bagian.
Bagian paling gelap disebut umbra. Sementara itu, penumbra merupakan wilayah yang masih menerima sebagian cahaya Matahari.
Jika Bulan masuk seluruhnya atau sebagian ke dalam umbra, dapat terjadi Gerhana Bulan total atau sebagian. Sementara itu, ketika Bulan hanya melewati penumbra, fenomenanya disebut Gerhana Bulan penumbra.
Pembagian tersebut dapat menjadi materi eksperimen sederhana di sekolah. Siswa dapat menggunakan sumber cahaya dan beberapa benda untuk melihat bagaimana bayangan memiliki tingkat kegelapan yang berbeda.
Dari kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mengetahui istilah umbra dan penumbra, tetapi juga memahami bahwa bayangan memiliki bentuk dan struktur yang dapat diamati.
Gerhana Bulan total memiliki penampakan yang menarik karena Bulan dapat terlihat berwarna merah atau jingga. Perubahan warna tersebut bukan berarti Bulan berubah secara fisik.
Ketika Bulan berada di dalam umbra Bumi, sebagian cahaya Matahari masih dapat melewati atmosfer Bumi. Atmosfer menyebarkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek lebih kuat, sementara cahaya dengan komponen merah dan jingga dapat melewati atmosfer dan mencapai permukaan Bulan.
Akibatnya, Bulan dapat terlihat kemerahan selama gerhana total.
Fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan pelajaran IPA tentang cahaya dan atmosfer. Siswa dapat mempelajari bahwa warna cahaya yang terlihat dari suatu objek dapat dipengaruhi oleh material atau medium yang dilewati cahaya sebelum mencapai mata pengamat.
Gerhana Bulan terjadi di luar angkasa, tetapi pengamatannya tetap bergantung pada lokasi seseorang di Bumi. Gerhana hanya dapat diamati dari wilayah yang sedang mengalami malam dan memiliki Bulan di atas horizon ketika peristiwa berlangsung.
Hal tersebut dapat menjadi contoh lain tentang pentingnya posisi pengamat. Dua siswa yang tinggal di wilayah berbeda mungkin mendapatkan kesempatan pengamatan yang berbeda meskipun gerhana yang terjadi sebenarnya sama.
Dalam kegiatan sekolah, guru dapat meminta siswa membandingkan informasi waktu gerhana dengan lokasi masing-masing. Mereka dapat mempelajari kapan Bulan terbit, kapan gerhana dimulai, dan apakah seluruh fase gerhana dapat diamati dari wilayah mereka.
Dengan begitu, astronomi dapat dikaitkan dengan geografi dan perhitungan waktu.
Gerakan Bulan mengelilingi Bumi dan gerakan Bumi mengelilingi Matahari mengikuti pola yang dapat dipelajari dan dihitung. Astronom menggunakan informasi mengenai orbit dan posisi benda langit untuk memperkirakan kapan gerhana dapat terjadi.
Siswa dapat melihat bahwa prediksi gerhana bukan sekadar perkiraan berdasarkan kebiasaan. Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan dapat dimodelkan menggunakan matematika dan mekanika orbit.
Dalam pembelajaran, siswa dapat diperkenalkan pada data waktu gerhana kemudian mencoba membuat diagram sederhana mengenai posisi ketiga benda tersebut. Kegiatan ini dapat menggabungkan matematika, fisika, dan astronomi dalam satu materi.
Hal tersebut juga memperlihatkan bagaimana perhitungan matematika dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi jutaan kilometer dari Bumi.
Gerhana Bulan juga dapat menjadi kegiatan observasi yang menarik bagi siswa. Ketika peristiwa tersebut dapat diamati dari wilayah tempat tinggal mereka, siswa dapat mencatat perubahan tampilan Bulan dari sebelum gerhana, saat mulai memasuki penumbra, ketika masuk ke umbra, hingga setelah keluar dari bayangan Bumi.
Catatan dapat dibuat dalam bentuk waktu, gambar, atau foto. Jika dilakukan secara berkelompok, siswa dapat membandingkan hasil pengamatan dan melihat apakah perubahan yang mereka catat berlangsung sesuai dengan prediksi astronomi.
Kegiatan semacam ini melatih ketelitian karena siswa harus memperhatikan perubahan secara bertahap. Mereka juga belajar bahwa pengamatan ilmiah membutuhkan pencatatan data yang teratur, bukan sekadar melihat fenomena kemudian mengingatnya.
Gerhana Bulan memperlihatkan bahwa dalam astronomi, perubahan posisi yang terlihat kecil dapat menghasilkan perbedaan yang besar. Bulan hanya perlu berada sedikit di atas atau di bawah jalur bayangan Bumi untuk membuat gerhana tidak terjadi.
Inilah salah satu alasan mengapa gerhana menjadi materi yang menarik untuk dipelajari siswa. Dari satu fenomena, mereka dapat mengenal konsep orbit, gravitasi, cahaya, bayangan, geometri, posisi pengamat, hingga penggunaan matematika untuk membuat prediksi.
Bulan terus mengelilingi Bumi dan mengalami fase purnama secara teratur. Namun, hanya pada saat posisi Bulan dan bayangan Bumi bertemu dalam susunan yang tepat, fenomena Gerhana Bulan dapat terlihat dari wilayah Bumi yang sesuai.