Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Masa sekolah dasar merupakan periode penting untuk membentuk kebiasaan dan karakter anak. Pada usia ini, anak mulai semakin sering mendapatkan penilaian dari guru, orang tua, maupun teman. Penilaian tersebut tidak selalu berupa pujian. Ada kalanya anak mendapatkan kritik, koreksi, atau saran karena hasil pekerjaannya belum sesuai harapan. Situasi seperti ini sebenarnya menjadi bagian yang wajar dari proses belajar. Namun, tidak semua anak langsung mampu menerimanya dengan baik.
Sebagian anak mungkin merasa sedih ketika jawabannya dianggap kurang tepat. Ada juga yang langsung kehilangan semangat ketika hasil gambarnya dikoreksi, tugasnya diminta diperbaiki, atau penampilannya mendapatkan masukan. Bahkan, kritik sederhana dapat dianggap sebagai tanda bahwa dirinya tidak pintar. Karena itu, kemampuan menerima kritik perlu dikenalkan secara bertahap sejak sekolah dasar. Anak perlu memahami bahwa dikoreksi bukan berarti dirinya buruk, melainkan ada bagian tertentu yang masih dapat diperbaiki.
Salah satu hal pertama yang perlu dipahami anak adalah perbedaan antara kritik terhadap hasil pekerjaan dan penilaian terhadap dirinya sebagai pribadi. Ketika guru mengatakan tulisan anak masih perlu dirapikan, misalnya, yang sedang diperbaiki adalah tulisannya, bukan harga dirinya. Begitu pula ketika guru meminta anak memperbaiki jawaban matematika. Kesalahan dalam mengerjakan soal tidak otomatis berarti anak tidak mampu belajar matematika.
Pemahaman tersebut penting karena anak usia SD masih membangun rasa percaya dirinya. Jika setiap koreksi dianggap sebagai bentuk penolakan, anak bisa menjadi takut mencoba. Sebaliknya, jika kritik dipahami sebagai informasi untuk melakukan perbaikan, anak akan lebih terbuka terhadap proses belajar. Kebiasaan ini juga membantu anak memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang harus selalu sempurna sejak awal.
Orang tua dan guru dapat menggunakan bahasa yang sederhana ketika memberikan koreksi. Alih-alih mengatakan, “Kamu memang tidak teliti,” akan lebih baik jika mengatakan, “Coba periksa lagi bagian ini, sepertinya ada yang terlewat.” Kalimat kedua membuat anak melihat adanya masalah yang dapat diperbaiki tanpa merasa dirinya mendapatkan label negatif.
Anak akan terus berada dalam lingkungan yang memberikan umpan balik. Di sekolah, guru memberikan koreksi terhadap tugas dan perilaku. Dalam kegiatan kelompok, teman mungkin memberikan pendapat berbeda. Ketika mengikuti ekstrakurikuler, pelatih dapat menunjukkan teknik yang perlu diperbaiki. Bahkan dalam kegiatan seperti kompetisi, anak akan menemukan bahwa hasil yang diperoleh tidak selalu sesuai dengan harapan.
Jika anak terbiasa menerima masukan secara sehat, berbagai situasi tersebut dapat menjadi pengalaman belajar. Anak tidak hanya belajar dari keberhasilan, tetapi juga dari kesalahan dan kekurangan. Kemampuan ini juga dapat membantu membangun beberapa keterampilan penting, seperti:
Dalam lingkungan sekolah yang memiliki berbagai aktivitas pembelajaran dan pengembangan minat, kemampuan menerima masukan menjadi semakin relevan. Anak yang mengikuti olahraga, seni, sains, bahasa, robotik, atau kegiatan lainnya akan bertemu dengan proses latihan dan evaluasi. Kesalahan merupakan bagian dari latihan, sehingga anak perlu melihat koreksi sebagai sesuatu yang membantu dirinya berkembang.
Mengajarkan anak menerima kritik tidak cukup dilakukan dengan mengatakan, “Jangan marah kalau dikritik.” Anak membutuhkan contoh konkret tentang bagaimana menghadapi masukan. Ketika anak mendapatkan koreksi dari guru, misalnya, orang tua dapat mengajaknya membicarakan apa yang sebenarnya disampaikan. Tanyakan bagian mana yang perlu diperbaiki dan apa yang bisa dilakukan setelah mendapatkan masukan tersebut.
Orang tua juga dapat mengajarkan anak untuk tidak langsung bereaksi ketika mendengar kritik. Anak bisa dibiasakan berhenti sebentar, mendengarkan sampai selesai, kemudian bertanya jika belum memahami maksudnya. Kebiasaan sederhana ini membantu anak menghindari respons spontan seperti membantah, menangis, atau langsung mengatakan bahwa dirinya tidak bisa.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilatih:
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua mudah marah ketika mendapatkan kritik, anak dapat meniru pola tersebut. Sebaliknya, ketika orang tua mampu mengatakan, “Oh, ternyata bagian ini masih perlu diperbaiki,” anak melihat bahwa menerima masukan merupakan hal yang normal.
Hal yang sama berlaku ketika orang tua memberikan evaluasi kepada anak. Kritik sebaiknya diarahkan pada perilaku atau pekerjaan tertentu, bukan menyerang kepribadian anak. Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman karena perbandingan dapat membuat koreksi terasa seperti ancaman terhadap harga diri.
Misalnya, daripada mengatakan, “Lihat temanmu, dia bisa lebih rapi,” orang tua dapat mengatakan, “Tulisanmu sebenarnya sudah bagus, sekarang coba kita rapikan bagian yang masih sulit dibaca.” Pendekatan seperti ini membuat anak memahami bahwa proses memperbaiki diri tidak harus disertai rasa malu.
Lingkungan sekolah juga memiliki peran besar dalam membangun cara pandang anak terhadap kritik. Evaluasi akan terasa lebih positif apabila guru menjelaskan apa yang sudah dilakukan dengan baik sekaligus menunjukkan bagian yang masih perlu dikembangkan. Dengan demikian, anak tidak hanya mengetahui kesalahannya, tetapi juga memahami bahwa dirinya sudah memiliki kemampuan yang dapat terus ditingkatkan.
Kegiatan seperti kerja kelompok, presentasi, olahraga, seni, maupun kompetisi dapat menjadi kesempatan untuk melatih keterbukaan terhadap masukan. Anak dapat belajar bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dalam sebuah kelompok, misalnya, seorang anak mungkin lebih baik dalam menyampaikan ide, sedangkan temannya lebih teliti dalam menyusun hasil pekerjaan. Masukan dari teman dapat membantu keduanya bekerja lebih baik.
Konsep pendidikan karakter seperti “Cageur, Bageur, Pinter” juga dapat dikaitkan dengan kebiasaan menerima evaluasi secara sehat. Anak tidak hanya diarahkan untuk memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu berkembang sebagai pribadi yang mampu bersikap baik, menghargai orang lain, dan terus belajar memperbaiki diri.
Menerima kritik bukan berarti anak harus selalu menganggap semua komentar orang lain benar. Anak juga perlu belajar membedakan antara kritik yang membangun dengan perkataan yang merendahkan. Jika guru mengatakan tugas perlu diperbaiki karena ada kesalahan, anak dapat menggunakan masukan tersebut untuk belajar. Namun, jika seseorang mengejek anak atau merendahkan dirinya, hal tersebut bukan contoh kritik yang sehat.
Karena itu, anak perlu memiliki keberanian untuk mengatakan jika sebuah komentar membuatnya tidak nyaman. Mereka dapat diajarkan untuk meminta penjelasan, berbicara kepada guru, atau meminta bantuan orang tua ketika menghadapi perkataan yang menyakitkan. Kemampuan menerima kritik harus berjalan bersama dengan kemampuan menghargai diri sendiri.
Pada akhirnya, anak yang mampu menerima kritik memiliki kesempatan lebih besar untuk melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Ia tidak harus selalu benar pada percobaan pertama. Yang lebih penting adalah mampu mendengarkan, memahami, memperbaiki, kemudian mencoba kembali. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi bekal berharga ketika anak menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan sosial yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia.