Melatih Empati Anak Di Sekolah

Melatih Empati Anak di Sekolah

Kata empati sering digunakan untuk menjelaskan sifat kepedulian terhadap orang lain. Sifat ini cukup penting dimiliki oleh setiap orang, terutama bagi anak-anak. Rasa empati anak perlu dibangun sedari dini untuk mengembangkan kepribadiannya yang baik. Sekolah dapat berperan menjadi wadah yang tepat untuk melatih keterampilan tersebut. Bagaiman caranya melatih empati anak di sekolah? mari simak penjelasannya berikut!

Apa Itu Empati?

Sebelum memulai pembahasannya, mari berkenalan terlebih dahulu tentang empati dan bagaimana empati mempengaruhi kepribadian anak. Empati merupakan salah satu keterampilan yang cukup kompleks untuk dikembangkan. Kemampuan untuk memahami apa yang orang lain rasakan bukanlah sesuatu yang bisa tumbuh begitu saja, melainkan perlu dilatih.

Karena itu, setiap orang memiliki keterampilan empati yang berbeda tingkatannya. Salah satu pencetus nama “Kecerdasarn Emosional” yang bernama Daniel Goleman pernah mengidentifikasi tiga jenis empati dan bagaimana ketiga hal tersebut saling terhubung dengan tiga jenis empati, yaitu:

  • Empati Kognitif: upaya memahami sudut pandang orang lain.
  • Empati Sosial: upaya untuk mengaitkan perasaan orang lain atau memahami bagaimana perasaan orang lain.
  • Kepedulian Empati: dorongan untuk membantu orang lain.

Ketiga bentuk empati tersebut dapat membangun keterampilan interpersonal yang baik, caranya melalui peningkatan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Untuk mengajarkan keterampilan empati, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Contohnya seperti pola asuh orang tua, lingkungan di sekitarnya, pandangan pribadi dan lain sebagainya.

Orang tua memiliki andil besar untuk membangun rasa empati anak sedari dini. Mereka perlu mengajak sang anak untuk mengenal dan merasakan sifat empati tersebut untuk kemudian diterapkan pada dirinya sendiri. Hal ini pun akan terbantukan berkat kehadiran sekolah sebagai tempat untuk belajar bersama teman sebayanya. Harapannya para siswa yang bersekolah dapat mengembangkan kepribadian yang baik sekaligus bekal kesuksesan di tingkat akademis maupun karir kerja di masa mendatang.

Melatih Keterampilan Empati di Sekolah

Rasa empati terhadap sesama ibarat nyala api unggun, harus tetap dijaga agar tidak padam. Ini merupakan proses yang berkelanjutan, bahkan sepanjang umur sekalipun. Untuk itu, dibutuhkan kebiasaan baik yang bisa dibuat oleh guru di sekolah.

Hal ini bukanlah hal yang mudah, jelas. Namun paling tidak, mengasah kepekaan sosial itu sangat mungkin dilakukan di lingkungan sekolah. Apalagi sekolah diisi oleh berbagai karakteristik siswa yang membuat hubungan sosial di sekolah menjadi dinamis. Dalam sebuah artikel Harvard, dijelaskan bahwa awalan untuk para guru dan pengajar dapat melalui hal berikut:

  • Mengenali stereotip dan menolak stereotip tersebut;
  • Menghormati dan menghargai perbedaan;
  • Perluas jangkauan perhatian mereka;
  • Mendengarkan ucapan teman sebaya dan orang dewasa;
  • Kelola perasaan sulit seperti kesedihan, kemarahan, dan frustrasi;
  • Mengendalikan situasi sosial secara etis dan adil.

Hal tersebut dapat menjadi dasar keterampilan empati yang bisa diasah baik pada kegiatan belajar mengajar di kelas ataupun belajar di luar kelas. Walaupun memang, pada dasarnya poin-poin tersebut mungkin sudah pernah dialami oleh anak-anak atau para remaja dalam pengalaman hidupnya. Tugas guru adalah untuk mengasah kembali sifat tersebut agar siswa benar-benar mengenal makna dari empati.

Guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan jangkauan peduli yang telah mereka miliki. Biasanya hal ini dibutuhkan keterlibatan orang terdekat yang dikenal, baik itu di lingkungan sekolah ataupun lingkungan diluar sekolah. Siswa perlu menemukan sosok dewasa yang dapat menunjukkan kepedulian terhadap sesama, dan mengambil pelajaran darinya.

Hal yang bisa dilakukan selanjutnya oleh guru adalah mengajarkan siswa tentang tindakan empatik. Sesuai dengan tiga tingkatan empati yang sudah disebutkan di atas, tindakan empatik atau kepedulian empati adalah langkah yang cukup penting untuk dalam proses keterampilan empati. Terkadang kita menemukan situasi sudah merasakan empati terhadap seseorang yang terkena sesuatu, tetapi tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu. Maka peran guru disini adalah memberikan contoh atau mendorong mereka untuk melakukan tindakan, misalnya membela teman yang dicela, membantu memecahkan masalah, atau bisa pula mendengarkan curhatan atau keluhan teman.

 

Penulis: Gumilar Ganda