Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Sebagai umat muslim, kita perlu untuk mengenal dan meneladani sifat wajib bagi Rasul, salah satunya adalah Rasulullah SAW. Beliau ini adalah contoh suri tauladan yang baik dan memiliki 4 sifat wajib sekaligus 4 sifat mustahil yang melekat di kehidupannya. Kali ini kita akan membahas sifat tabligh dan bagaimana implementasi sifat tersebut di lingkungan pesantren.
Kata tabligh artinya menyampaikan. Jadi seorang rasul, bahkan Nabi Muhammad SAW sekalipun, tidak pernah menyimpan wahyu dari Allah untuk dirinya sendiri atau keluarganya sendiri. Itu sudah menjadi tugas para rasul untuk menyampaikan wahyu yang harus diimani oleh umat manusia.
Nabi Muhammad SAW sering menyampaikan berbagai wahyu yang diturunkan langsung oleh Allah SWT, seperti pengetahuan, syariat atau pedoman, atau risalah kenabian lainnya. Sekalipun itu merupakan berita yang tidak menyenangkan, Rasulullah SAW akan senantiasa menyampaikannya tanpa mengurangi satu huruf pun. Hal ini sesuai dengan surat Al Maidah ayat 67 yang artinya, “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”
Proses turunnya wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, dalam beberapa kesempatan, bukanlah hal mudah. Salah satu kisah yang populer adalah ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertamanya yaitu surat Al Alaq ayat 1-5. Dalam isi hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Aisyah RA menjelaskan ketika telah berdiam diri di gua hiro, Rasulullah didatangi oleh malaikat Jibril sembari berkata “Iqra”.
Rasulullah SAW pun menjawab “aku tidak bisa membaca”. Lalu, Jibril menarik serta menutupi Rasulullah SAW hingga beliau merasa kesulitan. Diulangi lah lagi pertanyaannya oleh malaikat Jibril tersebut (dan menarik Rasulullah SAW) hingga 3 kali. Barulah Malaikat Jibril menyuruh beliau membaca surat Al-Alaq ayat 1-5. Usai membacanya dengan lancar, Rasulullah SAW pulang dengan keadaan gelisah dan menggigil seperti demam, meminta Khadijah untuk menyelimutinya.
Sifat tabligh ini ternyata bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Sesuai artinya yaitu menyampaikan sesuatu ke orang lain, maka ini bisa dicapai melalui interaksi sosial atau komunikasi kepada orang lain. Misalnya menyampaikan kepada teman, keluarga maupun orang sekitar. Ini juga bisa diterapkan pada lingkungan pesantren.
Dalam lingkungan pesantren, ada perbedaan yang terasa dibanding sekolah biasa. Walaupun sama-sama menjadi tempat untuk menimba ilmu, berinteraksi antar murid dan mengasah minat atau bakat, tetapi dalam pesantren cukup intens dalam hal pendidikan agama. Para siswa santri akan ditempatkan pada lingkungan asrama khusus, mengikuti aktivitas rutin dari awal bangun hingga tidur malam, ditemani oleh wali santri.
Adapun bentuk jalinan komunikasi yang menggambarkan sifat tabligh di lingkungan pesantren antara lain:
l Wali santri menyampaikan ilmu yang dikuasainya kepada para santri.
l Wali santri memberikan nasihat baik dan motivasi kepada para santri agar tetap semangat belajar dan betah tinggal di lingkungan pesantren.
l Santri membantu temannya yang kesulitan memahami materi kelas di Pesantren.
l Santri yang memberikan nasihat kepada teman-temannya untuk tetap disiplin.
l Para santri mengikuti agenda khusus pesantren yang menampilkan bakat dan potensinya, baik di bidang agama, seni dan yang lainnya.
l Memberitahukan kepada wali santri apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh santri lainnya.
l Tidak pelit berbagi ilmu kepada teman santri lainnya.
Penulis: Gumilar Ganda