Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Smartphone adalah sebuah telepon cerdas yang secara umum bisa digunakan untuk mempermudah semua pekerjaan seorang penggunaanya. Setiap smartphone juga diera modern ini memiliki sistem operasi yang dimana setiap sistem operasi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing masing. Dalam sejarahnya smartphone merupakan sebuah bentuk upgrade dari PDA (Personal Digital Assistant) yang memiliki fungsi mirip dengan smartphone saat ini namun pada zaman itu PDA memiliki bentuk yang masih mirip dengan tablet yang memiliki desain yang lebih cocok untuk seorang Businessman tidak seperti smartphone yang memiliki bentuk yang compact walaupun ada beberapa yang besar namun tetap enak dalam genggaman, selain itu juga PDA memiliki fungsi yang mirip dengan tablet windows karena rata rata PDA atau Personal Digital Assistant ini memiliki OS atau sistem operasi berbasis windows tidak seperti smartphone saat ini yang menggunakan OS Android atau IOS.

Berbicara tentang smartphone beberapa pondok pesantren menjadikan smartphone sebagai barang sitaan yang sering dilakukan setiap bulannya. Artinya smartphone merupakan barang ilegal yang dibawa siswa ke pondok pesantren. Banyak alasan kenapa smartphone dilarang dibawa ke pesantren dan salah satu alasan yang paling masuk akal adalah karena itu akan menjadi barang yang mengganggu dalam proses belajar mengajar di pesantren dan di sekolah. Lagipula jika kita telaah secara logika apa keuntungan siswa membawa smartphone ke sekolah? Untuk pembelajaran? Yang jadi pertanyaan pembelajaran apa yang menggunakan smartphone? Mungkin untuk pembelajaran membuat sebuah program yang menggunakan smartphone itu bisa, tapi jika tidak ada siswa yang berminat bagaimana? Jelas tidak bisa. Beberapa ekstrakulikuler seperti robotik juga kadang membutuhkan smartphone untuk menjalankan program tapi itu tidak setiap waktu menggunakan juga jadi tidak ada alasan siswa boleh membawa smartphone. Apalagi di pondok pesantren sangat tidak ada alasan santri membawa smartphone.
Beberapa pesantren memiliki cara menarik yang dilakukan bagi siswa yang membawa smartphone seperti di salah satu pesantren yang viral di media massa beberapa tahun lalu yaitu menggeprek smartphone santrinya di hadapan santri yang lain baik itu memiliki smartphone dan santri lainnya. Secara faedah jelas ini tidak ada faedahnya selain memberi efek jera kepada santri yang melanggar, tapi dengan merusak smartphone yang dibawa santri pasti juga sudah ada dalam surat perjanjian ketika calon santri sedang mendaftar. Tapi kami sebagai lembaga pendidikan yang memang dengan tegas melarang penggunaan smartphone ke sekolah merasa masih ada cara lain untuk memberikan efek jera kepada santri dengan cara yang lain.

Hal seperti ini terdengar lebih bijaksana karena memang ada banyak cara untuk memberikan efek jera kepada santri tanpa harus menyakiti secara fisik. Karena pada dasarnya sekolah dan pesantren adalah tempat santri untuk bisa mendapatkan ilmu bukan tempat santri belajar baku hantam dengan wali santri atau dengan teman teman sebayanya. Ini adalah contoh yang bijaksana karena smartphone itu dibeli dengan uang, jika memang ketahuan lebih baik untuk dimusyawarahkan dulu dengan orang tua anak yang bersangkutan. Karena meskipun saat pendaftaran orang tua paham akan peraturan pondok pesantren, kadang beberapa orang tua asal menandatangani apa yang mereka dapatkan dari pendaftaran namun kadang yang seperti itu adalah hal yang penting seperti peraturan membawa smartphone ke pesantren.
Beberapa pondok pesantren memang dengan tegas menskors santrinya yang melanggar aturan pondok salah satunya adalah melanggar peraturan dalam membawa smartphone ke pesantren. Bentuk skors juga berbeda beda tergantung dari pesantren itu sendiri. Yang kami tahu ada yang sampai disuruh membersihkan toilet pesantren dan diwajibkan untuk membersihkan wilayah pesantren bagi yang melanggar. Seperti sapu sapu area taman, buruan dan ruang belajar.

Al Masoem menggunakan opsi ini bagi santri yang ketahuan membawa smartphone. Tapi ini ada tahapannya dulu tanpa langsung ambil tindakan begitu saja. Tapi kepada penyitaan dulu, bisa dibawa saat kepulangan (awal atau akhir bulan), jika ketahuan 2 kali akan disita dan orang tua yang bawa (wajib orang tua yang bawa) dan jika 3 kali ketahuan lagi maka akan langsung disita dan tidak akan dikembalikan lagi dan akan diberikan ke lembaga Musaadatul Ummah Bandung atau lembaga zakat dan bantuan bagi masyarakat yang berada dibawah PT dan Yayasan Al Masoem Bandung. Tentu saja bukan smartphonenya yang diberikan tapi dicarikan dulu (dijual) hasil penjualnya akan diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Kami rasa ini yang paling bijaksana dibandingkan harus di geprek menggunakan Palu.
Kami lembaga besar yang sudah berdiri dari tahun 1986, semua sistem dan program yang ada di Al Masoem sudah direncanakan secara matang begitu juga dengan kurikulum dan hal simpel seperti komunikasi antara orang tua dengan anak yang ada di pesantren. Pada tahun 99 sampai 2004 ketika masih zaman telepon umum kami memiliki banyak telepon umum di beberapa sudut Al Ma’soem sebagai sarana bagi santri berkomunikasi dengan orang tua di rumah. Tapi diera modern ini kami memberikan fasilitas santri diperbolehkan membawa handphone.

(kiri ke kanan) PDA, Smartphone dan Handphone
Telepon genggam atau telepon seluler atau handphone adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, tetapi dapat dibawa ke mana-mana dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel. Fungsi dari handphone ini juga adalah untuk berkomunikasi saja sebatas SMS dan telepon saja tanpa adanya fungsi lain seperti Internet, Konektivitas bluetooth, kamera dan lain sebagainya. Karena fungsinya yang sangat basic dan berfungsi sebagai alat komunikasi saja siswa dan santri tidak akan bisa mengakses hal hal yang aneh seperti pornografi dan lain sebagainya. Selain lebih aman juga lebih bebas dan tidak mengganggu waktu belajar dan fokus santri selama di pesantren Al Masoem.