Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Bagi para santri, bulan Ramadhan di pondok pesantren bukan hanya tentang ibadah puasa, tetapi juga tentang momen spesial yang penuh dengan kebersamaan dan kenangan indah bersama dengan teman teman satu angkatan. Salah satu momen yang paling dinanti-nanti adalah waktu berbuka puasa.
Berbuka puasa di Pondok Pesantren merupakan hal yang akan menjadi pengalaman menarik bagi para santri di pondok pesantren. Hal seperti ini akan menjadi kenangan yang tidak mungkin mereka lupakan, karena kebersamaan dan kehangatan di pondok pasti akan menjadi hal yang bisa menjadi cerita bagi anak anak mereka kelak. Berbuka puasa di pondok pesantren memiliki hal hal unik dan menarik yang tidak mungkin bisa didapatkan siswa yang tidak pernah mondok. Dalam artikel ini kita akan membahas bagaimana suasana menyenangkan berbuka puasa di pondok pesantren yang membuat kami ingin mondok di pesantren.
Berbuka puasa di pesantren jauh berbeda dengan di rumah. Di pesantren, santri akan merasakan suasana yang hangat dan penuh dengan kebersamaan. Ratusan, bahkan ribuan santri, berkumpul bersama di masjid atau aula untuk menyantap hidangan berbuka puasa.
Setiap pondok pesantren memiliki beberapa tradisi yang berbeda beda. Al Masoem, salah satu pondok pesantren yang ada di Bandung memiliki tradisi yang unik yaitu berbuka puasa dengan sistem prasmanan. Sistem makan prasmanan merupakan sistem makan dengan cara menyediakan makanan dalam satu tempat yang bisa diambil sesuka hati oleh para santri. Sistem prasmanan ini membuat santri bisa membawa banyak makanan dalam sekali makan, tapi juga ketika mereka merasa kebanyakan bisa mengambil sedikit. Al Ma’soem memiliki sistem dimana setiap anak yang membawa makan di sistem prasmanan ini harus dan wajib dihabiskan jadi ketika santri membawa makan untuk berbuka puasa mereka akan diberikan kebebasan tapi wajib dihabiskan.
Banyak pesantren yang memiliki tradisi unik dan menarik saat berbuka puasa. Tradisi ini biasanya dilakukan untuk meningkatkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan di antara para santri. Contohnya, tradisi “ngabuburit” bersama, “adzan maghrib” yang dikumandangkan oleh santri secara bergantian, dan “buka bersama” dengan seluruh santri dan pengasuh.
Al Masoem memiliki tradisi yang berbeda, disini santri akan murajaah Al Quran seperti biasa untuk menunggu maghrib dan santri akan disuguhkan takjil dulu sebelum shalat, kemudian santri setelah shalat akan makan bersama dengan para guru atau tenaga pengajar di pesantren.
Selain itu, santri juga dianjurkan untuk shalat tarawih berjamaah di masjid Pesantren Siswa Al Ma’soem. Tarawih juga dilaksanakan sebanyak 19 rakaat dengan 3 rakaat untuk witir. Bahkan di setiap bulan suci ramadhan, ada kegiatan itikaf di masjid PSAM itu biasanya dilaksanakan pada malam Lailatul Qadar atau malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Meskipun hidangan berbuka puasa di pesantren biasanya sederhana, namun tetap terasa istimewa. Al Ma’soem biasanya menyajikan menu yang mirip atau tidak jauh berbeda dengan hari hari biasa seperti sayuran, daging dan buah buahan. Tapi khusus di bulan suci ramadhan ada tambahan kurma yang biasanya sedang ramai di bulan suci ramadhan. Tambahan kurma ini adalah sebagai bagian dari sunnah nabi untuk berbuka dengan yang manis dan kurma karena musimnya saat bulan suci ramadhan jadi kami jadikan sebagai salah satu sarana santapan santri selama bulan suci ramadhan.
Selain itu Al Masoem tidak melarang orang tua untuk mengirim atau membawa makanan dari berbagai macam wilayah mereka. Maka dari itu biasanya para santri akan merasakan berbagai macam hidangan khas dari daerah masing-masing yang dibawa oleh santri dari rumah. Ada yang membawa kue tradisional, lauk pauk, dan bahkan ada yang membawa makanan khas daerahnya.
Momen berbuka puasa di pesantren juga menjadi ajang untuk berbagi dan beramal. Para santri yang memiliki kelebihan rezeki biasanya akan menyisihkan sebagian hartanya untuk dibagikan kepada mereka yang kurang mampu. Biasanya santri bekerjasama dengan OSIS full day school untuk berbagi berbagai macam hal seperti makanan dan takjil kepada mereka yang sedang dalam perjalanan. Program ini dilaksanakan setiap tahun di bulan Ramadhan.
Bagi para santri, momen berbuka puasa di pesantren adalah pengalaman yang tak terlupakan. Pengalaman ini akan selalu dikenang sebagai salah satu momen terbaik dalam hidup mereka.momen berbuka puasa di pesantren tidak hanya sekedar kegiatan rutin, melainkan merupakan pengalaman yang membangun kenangan yang mendalam. Tradisi berbuka puasa di lingkungan pesantren membawa keunikan tersendiri, menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan nilai-nilai keislaman yang kuat.
Pengalaman ini mencakup aspek-aspek seperti berbagi hidangan lezat, menyantap makanan bersama-sama, serta berdoa dan berdzikir sebagai bagian dari ritual berbuka puasa. Kesederhanaan dan kebersamaan yang dihadirkan oleh tradisi ini menciptakan iklim yang memupuk rasa persaudaraan di antara santri dan penghuni pesantren.
Berbuka puasa di pondok pesantren bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik setelah seharian berpuasa, tetapi juga menjadi peristiwa yang memberi warna dan makna dalam perjalanan spiritual. Pengalaman berbuka puasa di pondok pesantren melibatkan lebih dari sekadar makanan, melainkan menciptakan kenangan tak terlupakan yang memperkaya perjalanan kehidupan santri dan melibatkan mereka dalam suasana kebersamaan yang mendalam dan penuh keberkahan.