Images 2026 09 21T093832.584

Bagaimana Siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Belajar Menyusun Pertanyaan untuk Wawancara?

Wawancara merupakan salah satu cara untuk memperoleh informasi secara langsung dari seseorang yang memiliki pengalaman, pengetahuan, atau sudut pandang tertentu. Kegiatan ini dapat digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari tugas sekolah, proyek penelitian sederhana, hingga kegiatan organisasi. Meskipun terlihat seperti percakapan biasa, wawancara membutuhkan persiapan agar informasi yang diperoleh sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

Salah satu bagian penting dalam persiapan wawancara adalah menyusun pertanyaan. Pertanyaan yang jelas dan terarah dapat membantu pewawancara memperoleh informasi secara lebih mendalam. Sebaliknya, pertanyaan yang terlalu umum, membingungkan, atau tidak berkaitan dengan topik dapat membuat percakapan berjalan kurang efektif. Oleh karena itu, siswa perlu memahami cara merancang pertanyaan sebelum melakukan wawancara.

Bagi siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung, keterampilan menyusun pertanyaan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mengembangkan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis. Melalui latihan sederhana, siswa dapat belajar menentukan informasi yang dibutuhkan, memilih kata yang tepat, serta menyusun urutan pertanyaan secara sistematis. Keterampilan ini juga dapat membantu mereka ketika harus mencari informasi dari berbagai sumber untuk menyelesaikan tugas akademik maupun kegiatan lainnya.

Menentukan Tujuan Sebelum Menyusun Pertanyaan

Langkah pertama dalam menyusun pertanyaan wawancara adalah menentukan tujuan kegiatan. Siswa perlu memahami informasi apa yang ingin diperoleh dan mengapa informasi tersebut diperlukan. Tanpa tujuan yang jelas, pertanyaan yang disusun berisiko melebar ke berbagai topik sehingga waktu wawancara tidak digunakan secara optimal.

Sebagai contoh, apabila siswa ingin mengetahui pengalaman seseorang dalam mengembangkan keterampilan musik, mereka dapat memusatkan pertanyaan pada proses belajar, tantangan selama latihan, serta pengalaman ketika tampil di depan orang lain. Dengan menentukan fokus tersebut, siswa akan lebih mudah memilih pertanyaan yang benar-benar mendukung kebutuhan informasi mereka.

Tujuan yang jelas juga membantu siswa menghindari pertanyaan yang tidak relevan. Sebelum memulai wawancara, mereka dapat memeriksa kembali setiap pertanyaan dan mempertimbangkan hubungannya dengan topik utama. Kebiasaan ini dapat melatih kemampuan menyusun informasi sekaligus membangun pola pikir yang lebih terarah ketika mengerjakan tugas penelitian atau proyek pembelajaran.

Memilih Pertanyaan Terbuka dan Tertutup

Dalam wawancara, terdapat pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup yang memiliki fungsi berbeda. Pertanyaan tertutup biasanya menghasilkan jawaban singkat, seperti ya, tidak, atau informasi tertentu. Sementara itu, pertanyaan terbuka memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menjelaskan pengalaman, alasan, dan pendapatnya secara lebih luas.

Misalnya, pertanyaan tertutup mengenai pengalaman mengikuti kegiatan organisasi dapat berbunyi, “Apakah Anda pernah mengikuti organisasi sekolah?” Pertanyaan terbuka dapat dikembangkan menjadi, “Bagaimana pengalaman Anda selama mengikuti organisasi sekolah?” Pertanyaan kedua memungkinkan narasumber menjelaskan berbagai hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh pewawancara sebelumnya.

Siswa SMP dan SMA Al Ma’soem dapat mempelajari penggunaan kedua jenis pertanyaan tersebut sesuai kebutuhan. Pertanyaan tertutup berguna untuk memastikan informasi dasar, sedangkan pertanyaan terbuka dapat digunakan ketika siswa ingin memperoleh penjelasan lebih mendalam. Menggabungkan keduanya secara tepat dapat membuat wawancara berjalan lebih terstruktur tanpa membatasi kesempatan narasumber untuk bercerita.

Menggunakan Bahasa yang Jelas dan Mudah Dipahami

Pertanyaan yang baik tidak harus menggunakan kalimat panjang atau istilah yang rumit. Justru, penggunaan bahasa yang sederhana dapat membantu narasumber memahami maksud pewawancara. Siswa perlu memperhatikan pemilihan kata, susunan kalimat, dan panjang pertanyaan agar informasi yang ditanyakan tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Pertanyaan yang mengandung terlalu banyak hal sekaligus dapat menyulitkan narasumber ketika menjawab. Misalnya, menanyakan pengalaman belajar, kendala, cara mengatasi masalah, dan hasil yang diperoleh dalam satu kalimat dapat membuat jawaban menjadi kurang terarah. Akan lebih mudah apabila setiap hal tersebut dipisahkan menjadi beberapa pertanyaan yang saling berkaitan.

Latihan menyederhanakan kalimat dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi. Mereka dapat membaca kembali daftar pertanyaan yang telah dibuat, kemudian memeriksa apakah setiap kalimat mudah dipahami. Jika diperlukan, siswa dapat meminta teman atau guru membaca pertanyaan tersebut untuk mengetahui apakah maksudnya sudah tersampaikan dengan jelas.

Menyusun Urutan Pertanyaan secara Sistematis

Urutan pertanyaan memiliki pengaruh terhadap kelancaran wawancara. Pertanyaan yang disusun secara acak dapat membuat percakapan terasa melompat-lompat. Sebaliknya, susunan yang sistematis membantu pewawancara dan narasumber mengikuti alur pembicaraan dengan lebih mudah.

Siswa dapat memulai wawancara dengan pertanyaan umum yang berkaitan dengan topik. Setelah memperoleh gambaran dasar, mereka dapat melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih khusus, seperti pengalaman, tantangan, atau pendapat narasumber. Pertanyaan penutup dapat digunakan untuk menggali informasi tambahan yang belum tercakup dalam pembicaraan sebelumnya.

Penyusunan urutan juga membantu siswa mengelola waktu. Jika waktu wawancara terbatas, mereka dapat menempatkan pertanyaan yang paling penting pada bagian awal atau tengah percakapan. Dengan demikian, informasi utama tetap dapat diperoleh meskipun terdapat pertanyaan tambahan yang tidak sempat diajukan.

Menghindari Pertanyaan yang Mengarahkan Jawaban

Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menyusun pertanyaan adalah menghindari kalimat yang secara tidak langsung mengarahkan narasumber pada jawaban tertentu. Pertanyaan semacam ini dapat memengaruhi objektivitas informasi yang diperoleh karena narasumber mungkin merasa harus menyetujui pendapat yang disampaikan pewawancara.

Sebagai contoh, pertanyaan “Mengapa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi semua siswa?” sudah mengandung anggapan bahwa kegiatan tersebut pasti bermanfaat bagi semua orang. Pertanyaan yang lebih netral dapat berbunyi, “Apa manfaat yang Anda rasakan dari kegiatan tersebut?” Susunan kedua memberikan ruang bagi narasumber untuk menyampaikan pengalaman sesuai keadaan sebenarnya.

Kemampuan menyusun pertanyaan yang netral dapat melatih siswa berpikir objektif. Mereka belajar membedakan antara informasi yang ingin diketahui dan pendapat pribadi yang mungkin memengaruhi proses pengumpulan data. Keterampilan ini juga berguna ketika siswa mencari informasi untuk tugas akademik agar hasil yang diperoleh tidak hanya mendukung dugaan awal mereka.

Mempersiapkan Pertanyaan Lanjutan

Daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya tidak selalu mencakup seluruh informasi yang dibutuhkan. Dalam wawancara, terkadang muncul jawaban menarik yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Oleh karena itu, siswa perlu memahami pentingnya pertanyaan lanjutan atau pertanyaan pendalaman.

Misalnya, ketika narasumber menceritakan pengalaman menghadapi kesulitan dalam suatu kegiatan, siswa dapat menanyakan langkah yang dilakukan untuk mengatasinya. Mereka juga dapat meminta contoh konkret agar jawaban yang diperoleh lebih mudah dipahami. Pertanyaan lanjutan sebaiknya tetap berkaitan dengan topik dan tidak membuat percakapan menyimpang terlalu jauh.

Kemampuan menyusun pertanyaan lanjutan membutuhkan perhatian terhadap jawaban narasumber. Siswa tidak cukup hanya membaca daftar pertanyaan yang sudah disiapkan, tetapi juga perlu mendengarkan dan memahami informasi yang disampaikan. Dengan demikian, wawancara dapat berlangsung lebih alami dan memberikan kesempatan untuk memperoleh penjelasan yang lebih mendalam.

Menghormati Narasumber melalui Pemilihan Pertanyaan

Menyusun pertanyaan juga berkaitan dengan etika berkomunikasi. Tidak semua informasi pribadi pantas ditanyakan dalam setiap wawancara. Siswa perlu mempertimbangkan relevansi pertanyaan, kenyamanan narasumber, serta tujuan kegiatan sebelum memutuskan untuk menanyakan suatu hal.

Jika topik wawancara berkaitan dengan pengalaman pribadi, siswa sebaiknya menggunakan bahasa yang sopan dan tidak memaksa narasumber untuk menjawab pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman. Apabila informasi tertentu tidak dapat disampaikan, pewawancara perlu menghormati keputusan tersebut. Sikap ini menunjukkan bahwa memperoleh informasi tidak boleh mengabaikan hak dan kenyamanan orang lain.

Dalam kegiatan pembelajaran di SMP dan SMA Al Ma’soem, etika wawancara dapat diperkenalkan melalui latihan menyusun pertanyaan dan simulasi percakapan. Siswa dapat mempraktikkan cara membuka wawancara, meminta izin, menyampaikan pertanyaan, serta mengakhiri percakapan dengan sopan. Pengalaman tersebut membantu mereka memahami bahwa keterampilan wawancara tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang diperoleh, tetapi juga dari cara informasi tersebut dikumpulkan.

Mengevaluasi Kualitas Pertanyaan Sebelum Wawancara

Setelah menyusun daftar pertanyaan, siswa perlu melakukan pemeriksaan ulang sebelum melaksanakan wawancara. Evaluasi dapat dimulai dengan memeriksa kesesuaian pertanyaan terhadap tujuan, kejelasan bahasa, urutan pembahasan, dan kemungkinan munculnya penafsiran yang berbeda. Proses ini membantu siswa menemukan bagian yang masih perlu diperbaiki sebelum bertemu narasumber.

Siswa juga dapat mencoba melakukan simulasi wawancara bersama teman. Melalui latihan tersebut, mereka dapat mengetahui apakah pertanyaan mudah dipahami dan apakah urutannya terasa alami. Jika terdapat pertanyaan yang sulit dijawab atau kurang berkaitan dengan topik, siswa dapat memperbaikinya berdasarkan hasil latihan.

Kebiasaan mengevaluasi pertanyaan membantu siswa memahami bahwa persiapan merupakan bagian penting dari pengumpulan informasi. Dengan merancang pertanyaan secara cermat, siswa dapat menjalankan wawancara dengan lebih percaya diri sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan menghargai sudut pandang orang lain.