Images (1)

Bagaimana Siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung Belajar Menyusun Pertanyaan yang Berkualitas?

Belajar tidak selalu berarti menerima informasi yang diberikan oleh guru atau membaca materi dari buku. Dalam proses pendidikan, siswa juga perlu memiliki kemampuan untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan dapat menjadi cara untuk mengetahui sesuatu yang belum dipahami, memperdalam materi, menguji sebuah informasi, atau membuka pembahasan yang lebih luas.

Namun, kemampuan bertanya tidak hanya berkaitan dengan keberanian mengangkat tangan di kelas. Pertanyaan yang baik juga membutuhkan pemikiran. Siswa perlu mengetahui apa yang ingin dicari, bagian mana yang masih belum jelas, serta informasi seperti apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap.

Bagi siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung, kemampuan menyusun pertanyaan yang berkualitas dapat menjadi bagian dari kebiasaan belajar. Keterampilan tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas, diskusi kelompok, kegiatan praktik, organisasi, ekstrakurikuler, maupun ketika mencari informasi secara mandiri.

Mengapa Kemampuan Bertanya Penting?

Pertanyaan menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa siswa sedang terlibat dalam proses belajar. Ketika siswa menemukan sesuatu yang belum dipahami, pertanyaan dapat membantu mengarahkan proses pencarian jawaban.

Misalnya, ketika mempelajari suatu fenomena dalam pelajaran, siswa tidak hanya perlu mengetahui apa yang terjadi. Mereka juga dapat bertanya mengenai penyebab, proses, dampak, atau hubungan fenomena tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Pertanyaan yang berbeda akan membawa siswa pada jenis pemahaman yang berbeda pula.

Kebiasaan bertanya juga dapat membuat siswa lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Mereka tidak hanya menunggu penjelasan selesai, tetapi ikut menentukan bagian mana yang ingin dipahami lebih lanjut.

Pertanyaan Sederhana Tetap Memiliki Nilai

Ada anggapan bahwa pertanyaan yang baik harus selalu sulit atau terdengar rumit. Padahal, pertanyaan sederhana dapat menjadi sangat penting apabila menyentuh bagian yang memang belum dipahami siswa.

Seorang siswa dapat bertanya mengenai arti sebuah istilah, alasan terjadinya suatu proses, atau hubungan antara dua konsep. Pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi orang lain, tetapi dapat menjadi kunci bagi siswa untuk memahami materi berikutnya.

Karena itu, siswa tidak perlu merasa bahwa pertanyaannya harus selalu terlihat cerdas. Hal yang lebih penting adalah pertanyaan tersebut benar-benar membantu proses memahami sesuatu.

Belajar Membedakan Pertanyaan yang Terlalu Umum

Salah satu keterampilan yang dapat dilatih adalah membuat pertanyaan menjadi lebih spesifik. Pertanyaan yang terlalu umum terkadang menghasilkan jawaban yang sangat luas sehingga siswa justru kesulitan menentukan bagian yang ingin dipahami.

Misalnya, pertanyaan “Apa itu lingkungan?” memiliki cakupan yang sangat luas. Jika siswa sedang membahas pencemaran air, pertanyaan dapat diarahkan menjadi “Apa saja faktor yang menyebabkan kualitas air menurun?” Dengan begitu, pembahasan menjadi lebih terarah.

Siswa SMP dapat mulai berlatih membuat pertanyaan berdasarkan materi yang sedang dipelajari. Siswa SMA kemudian dapat mengembangkan pertanyaan yang lebih mendalam dengan mempertimbangkan hubungan sebab-akibat, perbandingan, data, atau dampak suatu persoalan.

Menggunakan Pertanyaan untuk Memperdalam Materi

Setelah memahami informasi dasar, siswa dapat melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mendalam. Misalnya, setelah mengetahui suatu peristiwa memiliki penyebab tertentu, siswa dapat bertanya apa dampaknya atau apakah terdapat faktor lain yang ikut memengaruhinya.

Pertanyaan semacam ini membantu siswa bergerak dari sekadar mengetahui menuju memahami. Mereka mulai melihat bahwa satu informasi dapat memiliki hubungan dengan informasi lain.

Dalam pembelajaran, guru juga dapat membantu siswa mengembangkan pertanyaan lanjutan. Jawaban dari satu pertanyaan terkadang justru membuka pertanyaan baru. Proses tersebut dapat membuat pembelajaran menjadi lebih aktif dan tidak berhenti pada satu jawaban.

Pertanyaan Dapat Membantu Ketika Berdiskusi

Diskusi kelompok membutuhkan pertanyaan yang dapat menggerakkan pembicaraan. Tanpa pertanyaan yang jelas, anggota kelompok mungkin hanya menyampaikan pendapat masing-masing tanpa memiliki arah pembahasan yang sama.

Siswa dapat mengajukan pertanyaan seperti apa alasan di balik sebuah pendapat, bukti apa yang mendukungnya, bagaimana penerapannya, atau apa kemungkinan dampaknya. Pertanyaan tersebut dapat membantu anggota kelompok menjelaskan pemikirannya secara lebih lengkap.

Kemampuan bertanya juga dapat membuat siswa belajar mendengarkan. Agar dapat mengajukan pertanyaan yang relevan, siswa perlu memperhatikan apa yang sudah disampaikan oleh orang lain. Dengan demikian, bertanya dan mendengarkan sebenarnya merupakan dua keterampilan yang saling berkaitan.

Bertanya Berdasarkan Hasil Pengamatan

Kegiatan pengamatan dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan menyusun pertanyaan. Setelah mengamati sebuah objek, lingkungan, percobaan, atau kegiatan, siswa dapat mencatat hal-hal yang menarik perhatian mereka.

Pertanyaan dapat muncul dari sesuatu yang berbeda dari perkiraan, perubahan yang terlihat, atau hubungan antara beberapa kondisi. Dari sana, siswa dapat menentukan informasi apa yang perlu dicari untuk menjelaskan hasil pengamatan tersebut.

Cara ini membuat pertanyaan tidak muncul secara acak. Pertanyaan dibangun berdasarkan sesuatu yang benar-benar dilihat atau ditemukan siswa. Hal tersebut dapat membantu mereka belajar membedakan antara dugaan dengan informasi yang sudah diamati.

Pertanyaan dalam Kegiatan Praktik

Pada kegiatan praktik, pertanyaan dapat digunakan sebelum, selama, dan setelah kegiatan berlangsung. Sebelum praktik, siswa dapat bertanya mengenai tujuan atau prosedur. Saat kegiatan berlangsung, pertanyaan dapat muncul ketika hasil yang diperoleh berbeda dari perkiraan. Setelah selesai, siswa dapat bertanya mengenai alasan di balik hasil tersebut.

Pola seperti ini membuat siswa tidak hanya mengikuti instruksi secara mekanis. Mereka mulai memperhatikan hubungan antara tindakan yang dilakukan dengan hasil yang diperoleh.

Dalam kegiatan yang dilakukan secara berkelompok, pertanyaan juga dapat membantu pembagian pekerjaan. Siswa dapat mendiskusikan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, alat apa yang dibutuhkan, serta bagaimana hasil pekerjaan akan diperiksa.

Belajar Menentukan Tujuan Sebelum Bertanya

Pertanyaan akan menjadi lebih efektif ketika siswa mengetahui tujuan di balik pertanyaan tersebut. Apakah mereka ingin memahami sebuah konsep? Mencari penyebab? Membandingkan dua hal? Memastikan sebuah informasi? Atau mencari solusi terhadap masalah?

Tujuan tersebut dapat membantu menentukan bentuk pertanyaan. Jika ingin mencari penyebab, siswa dapat menggunakan pola pertanyaan “mengapa” atau “faktor apa”. Jika ingin memahami proses, pertanyaan mengenai tahapan atau mekanisme dapat digunakan. Sementara itu, jika ingin membandingkan sesuatu, siswa dapat menanyakan persamaan, perbedaan, kelebihan, atau karakteristik masing-masing.

Dengan memahami tujuan, siswa tidak sekadar bertanya karena belum mengetahui jawaban. Mereka mulai menggunakan pertanyaan sebagai alat untuk memperoleh jenis informasi tertentu.

Tidak Semua Jawaban Harus Langsung Diberikan

Dalam proses belajar, pertanyaan tidak selalu harus menghasilkan jawaban secara langsung dari guru. Ada pertanyaan yang dapat menjadi tugas pencarian informasi bagi siswa.

Guru dapat mengarahkan siswa untuk membaca sumber tertentu, melakukan pengamatan, berdiskusi, atau mencari data yang relevan. Setelah mendapatkan informasi, siswa dapat kembali memeriksa apakah pertanyaan awalnya sudah terjawab.

Proses seperti ini dapat membangun kemandirian belajar. Siswa mulai memahami bahwa ketika menemukan sesuatu yang belum diketahui, mereka memiliki beberapa cara untuk mencari jawabannya.

Memanfaatkan Pertanyaan Saat Mencari Informasi Digital

Kemampuan menyusun pertanyaan juga berguna ketika siswa menggunakan mesin pencari atau sumber digital. Pencarian yang terlalu umum dapat menghasilkan informasi yang sangat banyak dan sulit disaring.

Sebaliknya, pertanyaan yang lebih spesifik dapat membantu siswa menemukan informasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan. Siswa juga perlu memperhatikan sumber yang digunakan dan tidak langsung menganggap semua hasil pencarian sebagai informasi yang benar.

Dengan demikian, kemampuan bertanya dapat berkaitan dengan kemampuan mencari dan menilai informasi. Pertanyaan yang jelas membantu menentukan informasi yang dicari, sedangkan sikap kritis membantu menentukan apakah informasi tersebut layak digunakan.

Dari Bertanya Menuju Cara Berpikir yang Lebih Kritis

Kemampuan menyusun pertanyaan pada akhirnya dapat menjadi bagian dari cara berpikir siswa. Ketika terbiasa bertanya tentang alasan, bukti, proses, dampak, dan kemungkinan lain, siswa akan lebih terbiasa melihat sebuah persoalan dari berbagai sisi.

Siswa SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung dapat mengembangkan kebiasaan tersebut melalui berbagai aktivitas sederhana. Pertanyaan dapat muncul dari materi pelajaran, percakapan di kelas, hasil pengamatan, kegiatan organisasi, ekstrakurikuler, maupun pengalaman sehari-hari.

Semakin sering siswa berlatih menyusun pertanyaan, semakin mudah bagi mereka untuk mengenali bagian yang belum dipahami. Dari sebuah pertanyaan, siswa dapat menemukan informasi baru, membuka diskusi, memeriksa sebuah pendapat, dan mengembangkan pemahaman yang lebih luas. Dengan begitu, kemampuan bertanya bukan sekadar keberanian berbicara di kelas, tetapi menjadi salah satu keterampilan yang membantu siswa menjalani proses belajar secara lebih aktif dan terarah.