Images (1)

Bagaimana Siswa Bisa Belajar Menyusun Pertanyaan Sebelum Meminta Bantuan?

Meminta bantuan merupakan bagian yang wajar dalam proses belajar. Ada materi yang membutuhkan penjelasan tambahan, tugas yang memiliki instruksi kurang dipahami, atau situasi tertentu yang membuat siswa membutuhkan arahan dari orang lain. Namun, meminta bantuan akan menjadi lebih efektif apabila siswa mampu menjelaskan dengan jelas apa yang sedang menjadi masalah.

Menyusun pertanyaan sebelum meminta bantuan dapat menjadi salah satu kebiasaan yang melatih kemandirian siswa. Kebiasaan ini bukan berarti siswa harus menemukan jawabannya sendiri terlebih dahulu untuk semua persoalan. Justru, siswa belajar memahami kesulitannya sehingga bantuan yang diterima dapat lebih tepat sasaran.

Mengapa Pertanyaan Perlu Dipersiapkan?

Ketika merasa bingung, seseorang terkadang langsung mengatakan, “Aku tidak mengerti.” Kalimat tersebut memang menunjukkan adanya kesulitan, tetapi belum menjelaskan bagian mana yang menjadi masalah. Orang yang akan membantu akhirnya harus bertanya kembali untuk mengetahui persoalannya.

Jika siswa sudah memikirkan pertanyaannya terlebih dahulu, komunikasi dapat berlangsung lebih cepat. Siswa dapat menjelaskan bagian yang sudah dipahami dan bagian yang masih membingungkan. Guru atau teman kemudian dapat langsung memberikan penjelasan pada bagian tersebut.

Menyusun pertanyaan juga membuat siswa berhenti sejenak untuk memikirkan masalahnya. Dalam beberapa kasus, ketika mencoba merumuskan pertanyaan, siswa justru menemukan sendiri bagian yang sebenarnya membuatnya bingung.

Mengenali Masalah Sebelum Bertanya

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menentukan apa yang sebenarnya tidak dipahami. Kesulitan dalam belajar dapat memiliki bentuk yang berbeda.

Misalnya, siswa memahami materi tetapi tidak tahu cara mengerjakan soal. Ada juga siswa yang memahami contoh soal tetapi bingung ketika angka atau bentuk pertanyaannya diubah. Pada kasus lain, siswa mungkin memahami tugasnya tetapi tidak mengetahui format hasil yang diminta.

Sebelum bertanya, siswa dapat mencoba mengatakan kepada dirinya sendiri, “Bagian mana yang membuat aku berhenti?” Pertanyaan sederhana tersebut membantu mempersempit masalah sehingga tidak semua hal dianggap sulit.

Membandingkan Bagian yang Sudah dan Belum Dipahami

Salah satu cara menyusun pertanyaan adalah dengan membandingkan bagian yang sudah dimengerti dengan bagian yang belum. Metode ini dapat membantu siswa melihat batas pemahamannya.

Contohnya, seorang siswa sudah mengetahui rumus dalam sebuah pelajaran, tetapi belum memahami cara menentukan angka yang harus dimasukkan ke dalam rumus tersebut. Pertanyaan yang dibuat dapat berfokus pada proses menentukan angka tersebut.

Cara seperti ini lebih efektif dibandingkan mengatakan bahwa seluruh materi tidak dipahami. Siswa juga dapat menunjukkan bahwa dirinya sudah berusaha mengikuti pembelajaran sebelum meminta bantuan.

Membaca Kembali Instruksi

Sebelum bertanya tentang tugas, siswa dapat membaca kembali instruksi yang diberikan. Banyak kebingungan sebenarnya muncul karena ada bagian petunjuk yang belum diperhatikan.

Siswa dapat mencari informasi mengenai apa yang harus dikerjakan, bentuk hasil yang diminta, jumlah tugas, sumber yang diperbolehkan, dan batas waktu. Setelah membaca ulang, mungkin hanya ada satu bagian yang masih belum jelas.

Jika siswa kemudian bertanya, pertanyaannya dapat dibuat lebih spesifik. Misalnya, siswa dapat menanyakan apakah tugas harus dibuat secara individu atau kelompok, bukan sekadar mengatakan bahwa dirinya tidak memahami tugas tersebut.

Kebiasaan membaca instruksi sebelum bertanya juga membuat siswa tidak terlalu bergantung kepada teman untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya sudah tersedia.

Menuliskan Pertanyaan Terlebih Dahulu

Bagi sebagian siswa, menyusun pertanyaan secara lisan bisa terasa sulit. Menuliskannya terlebih dahulu dapat menjadi cara yang membantu.

Siswa dapat membuat catatan singkat mengenai hal yang ingin ditanyakan. Tidak perlu menggunakan kalimat panjang. Beberapa kata kunci sudah cukup untuk mengingat bagian yang ingin dibahas.

Catatan tersebut juga dapat digunakan ketika siswa memiliki beberapa pertanyaan sekaligus. Dengan membuat daftar kecil, siswa dapat menghindari pertanyaan yang terlupakan dan dapat menyampaikan persoalan secara lebih teratur.

Pertanyaan yang Baik Tidak Harus Panjang

Pertanyaan yang efektif tidak selalu berupa penjelasan panjang. Yang lebih penting adalah pertanyaan tersebut memiliki konteks yang cukup sehingga orang lain memahami apa yang dimaksud.

Beberapa unsur yang dapat membantu antara lain:

  • Menjelaskan materi atau kegiatan yang sedang dibahas.
  • Menyebutkan bagian yang sudah dipahami.
  • Menunjukkan bagian yang masih membingungkan.
  • Menjelaskan apa yang sudah dicoba.
  • Menyampaikan pertanyaan secara langsung.

Sebagai contoh, daripada hanya bertanya “Ini bagaimana?”, siswa dapat menjelaskan bahwa ia sudah mengikuti langkah pertama dan kedua tetapi bingung mengapa pada langkah berikutnya harus menggunakan cara tertentu.

Pertanyaan seperti ini memberikan informasi yang lebih lengkap tanpa harus terlalu panjang.

Jangan Takut Jika Pertanyaan Terlihat Sederhana

Siswa terkadang khawatir pertanyaannya dianggap terlalu mudah. Kekhawatiran tersebut dapat membuat siswa memilih diam meskipun sebenarnya belum memahami materi.

Padahal, pertanyaan yang terlihat sederhana bagi satu orang belum tentu sederhana bagi orang lain. Setiap siswa memiliki pengalaman dan pengetahuan awal yang berbeda.

Yang penting adalah cara menyampaikannya tetap sopan dan sesuai konteks pembelajaran. Jika pertanyaan memang berkaitan dengan materi yang sedang dipelajari, siswa memiliki alasan yang wajar untuk meminta penjelasan.

Memilih Orang yang Tepat untuk Ditanya

Tidak semua pertanyaan harus ditujukan kepada orang yang sama. Siswa dapat mempertimbangkan siapa yang paling tepat membantu berdasarkan jenis masalahnya.

Untuk materi pelajaran, guru biasanya menjadi sumber utama. Untuk koordinasi kegiatan kelompok, teman atau koordinator kegiatan mungkin lebih sesuai. Untuk informasi administratif, siswa dapat mengikuti jalur yang telah ditentukan sekolah.

Menentukan orang yang tepat membuat proses mencari bantuan menjadi lebih efisien. Siswa juga belajar bahwa mendapatkan bantuan bukan hanya tentang bertanya, tetapi tentang mengetahui ke mana pertanyaan seharusnya diarahkan.

Belajar dari Jawaban yang Diterima

Setelah mendapatkan bantuan, siswa sebaiknya tidak hanya mencatat jawaban akhir. Ia dapat memperhatikan bagaimana masalah tersebut dijelaskan atau diselesaikan.

Jika memungkinkan, siswa dapat mencoba mengerjakan kembali persoalan tersebut tanpa bantuan. Cara ini membantu memastikan bahwa penjelasan yang diterima benar-benar dipahami.

Misalnya, setelah guru menjelaskan sebuah langkah pengerjaan, siswa dapat mencoba satu soal lain dengan pola serupa. Jika berhasil, berarti penjelasan tersebut mulai dapat diterapkan secara mandiri. Jika masih bingung, siswa dapat menyusun pertanyaan lanjutan yang lebih spesifik.

Meminta Bantuan Tetap Bagian dari Kemandirian

Kemandirian sering kali disalahartikan sebagai kemampuan melakukan semuanya sendiri. Padahal, siswa yang mandiri justru perlu mengetahui kapan harus mencari bantuan dan bagaimana cara memintanya.

Menyusun pertanyaan sebelum meminta bantuan menunjukkan bahwa siswa sudah berusaha memahami masalah. Ia tidak sekadar menyerahkan persoalan kepada orang lain, tetapi aktif mencari jalan keluar.

Di lingkungan sekolah seperti Al Ma’soem Bandung, proses pembelajaran dapat menjadi ruang untuk melatih kebiasaan tersebut. Ketika siswa terbiasa mengenali masalah, menyusun pertanyaan, memilih orang yang tepat, dan mencoba kembali setelah mendapat penjelasan, proses meminta bantuan berubah menjadi bagian dari pembelajaran yang aktif.

Kebiasaan menyusun pertanyaan juga akan berguna di luar sekolah. Dalam organisasi, perkuliahan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari, kemampuan menjelaskan apa yang dibutuhkan dapat membuat komunikasi menjadi lebih jelas. Siswa tidak hanya belajar mencari jawaban, tetapi juga belajar memahami masalah sebelum meminta orang lain membantu menyelesaikannya.