Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Komunikasi antara siswa dan guru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sekolah. Hampir setiap hari siswa berinteraksi dengan guru ketika mengikuti pembelajaran, bertanya mengenai tugas, meminta penjelasan, menyampaikan pendapat, atau membicarakan berbagai kegiatan sekolah. Cara siswa menyampaikan pesan dalam situasi tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan sosial yang akan berguna dalam berbagai lingkungan.
Etika berkomunikasi bukan berarti siswa harus selalu berbicara dengan cara yang kaku atau terlalu formal. Yang lebih penting adalah kemampuan menyesuaikan bahasa dan sikap dengan situasi, menghargai orang yang sedang diajak berbicara, serta menyampaikan maksud dengan jelas. Di lingkungan sekolah, kebiasaan tersebut dapat dilatih melalui interaksi sederhana yang dilakukan setiap hari.
Anak tidak selalu langsung mengetahui bagaimana cara berbicara yang tepat dalam setiap situasi. Mereka perlu mendapatkan contoh dan kesempatan untuk mempraktikkannya. Cara berbicara kepada teman dekat tentu dapat berbeda dengan cara menyampaikan pertanyaan kepada guru atau orang yang baru dikenal.
Sekolah menjadi tempat yang baik untuk mengenalkan perbedaan tersebut. Siswa dapat belajar bahwa sopan santun bukan hanya berkaitan dengan pilihan kata, tetapi juga mencakup waktu berbicara, nada suara, ekspresi, serta kesediaan mendengarkan.
Kemampuan ini dapat membantu siswa membangun hubungan yang lebih nyaman dengan guru. Ketika anak mampu menyampaikan pertanyaan atau kebutuhan dengan baik, komunikasi dapat berlangsung secara lebih jelas dan tidak mudah menimbulkan kesalahpahaman.
Hal sederhana seperti menyapa dapat menjadi bagian dari etika komunikasi. Ketika bertemu guru di lingkungan sekolah, siswa dapat memberikan salam atau sapaan yang sesuai dengan kebiasaan sekolah dan situasi yang sedang berlangsung.
Kebiasaan menyapa bukan sekadar formalitas. Dari tindakan tersebut, anak belajar memberikan perhatian kepada orang lain dan menunjukkan bahwa keberadaan orang tersebut dihargai.
Namun, sopan santun tidak berarti siswa harus selalu menggunakan kalimat panjang. Sapaan sederhana yang disampaikan dengan sikap baik sudah dapat menjadi bentuk komunikasi yang positif.
Ada situasi ketika guru sedang menjelaskan materi, berbicara dengan siswa lain, atau menjalankan kegiatan tertentu. Siswa perlu belajar memperhatikan keadaan sebelum menyampaikan sesuatu.
Jika pertanyaan tidak mendesak, misalnya, siswa dapat menunggu sampai guru memberikan kesempatan berbicara. Sebaliknya, jika terdapat hal penting yang perlu segera disampaikan, siswa dapat menggunakan cara yang sopan untuk mendapatkan perhatian guru.
Kebiasaan mempertimbangkan waktu ini dapat mengajarkan anak bahwa komunikasi bukan hanya mengenai apa yang ingin disampaikan, tetapi juga kapan pesan tersebut sebaiknya disampaikan.
Bertanya merupakan salah satu kegiatan penting dalam pembelajaran. Siswa tidak perlu merasa bahwa bertanya menunjukkan dirinya tidak mampu memahami materi. Justru pertanyaan dapat membantu guru mengetahui bagian yang belum dipahami.
Etika dalam bertanya dapat dimulai dari hal sederhana. Siswa dapat memperhatikan penjelasan terlebih dahulu, kemudian menyampaikan pertanyaan dengan kalimat yang jelas dan sesuai topik.
Jika belum memahami jawaban, siswa juga dapat meminta penjelasan ulang tanpa merasa malu. Komunikasi seperti ini membantu menciptakan proses belajar dua arah antara guru dan siswa.
Siswa tidak selalu harus memiliki pendapat yang sama dengan guru. Dalam kegiatan diskusi, anak mungkin memiliki sudut pandang berbeda atau menemukan alasan lain mengenai suatu topik.
Perbedaan tersebut dapat disampaikan dengan cara yang tetap menghormati lawan bicara. Siswa dapat menggunakan kalimat seperti “Menurut saya…” atau menjelaskan alasan yang mendukung pendapatnya tanpa menyerang pribadi guru.
Kemampuan menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan merupakan keterampilan penting. Anak belajar bahwa memiliki pendapat sendiri dan menghormati orang lain dapat dilakukan secara bersamaan.
Komunikasi yang baik tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara. Siswa juga perlu belajar mendengarkan ketika guru memberikan penjelasan atau menjawab pertanyaan.
Mendengarkan berarti memberikan perhatian terhadap pesan yang sedang disampaikan. Siswa dapat menghindari berbicara sendiri ketika guru sedang menjelaskan, tidak memotong pembicaraan tanpa alasan, dan memastikan dirinya memahami informasi sebelum memberikan respons.
Kebiasaan tersebut juga dapat diterapkan ketika siswa berbicara dengan teman. Dengan kemampuan mendengarkan, anak dapat memahami bahwa komunikasi merupakan proses dua arah.
Interaksi siswa dengan guru tidak selalu terjadi secara langsung. Dalam kegiatan sekolah tertentu, komunikasi dapat dilakukan melalui pesan digital atau platform pembelajaran.
Etika komunikasi tetap diperlukan dalam situasi tersebut. Siswa perlu memperhatikan salam pembuka, menjelaskan identitas jika diperlukan, menyampaikan tujuan pesan dengan jelas, serta menggunakan bahasa yang sesuai.
Pesan digital juga sebaiknya tidak dikirim berulang kali tanpa kebutuhan. Siswa dapat memberikan waktu kepada guru untuk membaca dan memberikan respons. Kebiasaan ini mengajarkan bahwa komunikasi melalui teknologi tetap membutuhkan kesopanan dan pertimbangan.
Etika komunikasi dapat dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Siswa tidak perlu menghafal aturan yang terlalu banyak karena sebagian besar dapat dipraktikkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Beberapa kebiasaan tersebut antara lain:
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membentuk pola komunikasi yang lebih baik. Anak tidak hanya belajar bagaimana berbicara kepada guru, tetapi juga belajar bagaimana memperlakukan orang lain dalam interaksi sehari-hari.
Etika komunikasi akan lebih mudah dipahami siswa ketika mereka mendapatkan contoh langsung dari lingkungan. Guru dapat menunjukkan cara memberikan kesempatan berbicara, mendengarkan pertanyaan, serta menyampaikan koreksi tanpa merendahkan siswa.
Interaksi dua arah seperti ini memberikan pengalaman kepada anak mengenai komunikasi yang saling menghargai. Siswa dapat melihat bahwa rasa hormat tidak hanya ditunjukkan oleh murid kepada guru, tetapi juga dapat dibangun melalui cara guru memperlakukan murid.
Di sekolah seperti Al Ma’soem Bandung, interaksi antara guru dan siswa berlangsung dalam berbagai kegiatan, mulai dari pembelajaran akademik hingga aktivitas pengembangan diri. Setiap interaksi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan komunikasi yang baik.
Keterampilan berkomunikasi dengan guru dapat menjadi dasar bagi siswa untuk berinteraksi dengan banyak orang di kemudian hari. Mereka akan bertemu dengan dosen, pembimbing, rekan kerja, atasan, pelanggan, maupun orang lain dengan latar belakang yang berbeda.
Kemampuan memilih kata, mendengarkan, menyampaikan pendapat, dan menyesuaikan sikap dengan situasi dapat membantu anak menghadapi berbagai lingkungan tersebut.
Karena itu, etika berkomunikasi di sekolah bukan sekadar aturan mengenai cara berbicara kepada guru. Kebiasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman pendidikan yang membantu siswa memahami bagaimana menyampaikan pesan dengan jelas sekaligus menghargai orang lain. Dari percakapan sederhana di ruang kelas hingga pesan yang dikirim melalui platform digital, setiap interaksi dapat menjadi latihan untuk membangun komunikasi yang lebih bertanggung jawab.