Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Perkembangan teknologi membuat kemampuan membuat konten digital semakin dekat dengan kehidupan siswa. Video, foto, presentasi, podcast, desain grafis, dan berbagai bentuk media digital kini tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana menyampaikan informasi dan menunjukkan hasil belajar.
Karena itu, kemampuan membuat konten tidak harus selalu dipandang sebagai aktivitas di luar pendidikan. Jika diarahkan dengan baik, proses membuat konten dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa SD, SMP, dan SMA. Anak dapat belajar merencanakan ide, mencari informasi, menyusun pesan, menggunakan perangkat, hingga mengevaluasi apakah informasi yang dibuat sudah tepat.
Di Al Ma’soem, lingkungan pendidikan juga memiliki sejumlah fasilitas yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dan media. Untuk jenjang SMA, misalnya, informasi fasilitas Tahun Ajaran 2027–2028 mencantumkan ruang multimedia, laboratorium komputer, Free WiFi, serta Studio Mini & Podcast.
Membuat konten sebenarnya melibatkan lebih banyak kemampuan daripada sekadar mengoperasikan kamera atau komputer. Ketika siswa diminta membuat video mengenai suatu materi pelajaran, mereka perlu memahami terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan.
Setelah itu, siswa perlu memilih informasi yang relevan, menentukan urutan pembahasan, menyusun kalimat, dan menyesuaikan cara penyampaian dengan orang yang akan melihat konten tersebut. Artinya, satu proyek digital dapat melibatkan kemampuan bahasa, pemahaman materi, kreativitas, dan penggunaan teknologi secara bersamaan.
Hal ini membuat kegiatan produksi konten menarik untuk dikaitkan dengan pembelajaran di sekolah. Siswa tidak hanya menjadi pengguna media, tetapi juga belajar memahami bagaimana sebuah informasi dibuat dan disampaikan.
Untuk siswa SD, kegiatan membuat konten tentu perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan. Anak tidak harus langsung membuat video yang kompleks. Mereka dapat memulai dari kegiatan sederhana seperti membuat presentasi bergambar, mendokumentasikan hasil pengamatan, membuat cerita visual, atau menjelaskan suatu benda yang dipelajari di kelas.
SD Al Ma’soem sendiri mencantumkan Computer Lab serta program computer introduction and practice sebagai bagian dari pengalaman belajar siswa. Fasilitas tersebut dapat menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk mengenal komputer secara terarah, bukan hanya menggunakan perangkat untuk hiburan.
Pada tahap ini, yang lebih penting bukan menghasilkan konten yang terlihat profesional. Anak dapat terlebih dahulu belajar menggunakan teknologi untuk menyampaikan gagasan dengan cara sederhana dan memahami bahwa perangkat digital merupakan alat untuk berkarya.
Memasuki SMP, siswa biasanya sudah dapat diberikan proyek digital yang lebih beragam. Mereka dapat belajar mengolah informasi, membuat presentasi yang lebih terstruktur, mengembangkan desain sederhana, atau mengenal kegiatan yang berkaitan dengan coding dan robotik.
SMP Al Ma’soem memiliki laboratorium komputer dan berbagai fasilitas pendukung teknologi. Informasi sekolah juga mencantumkan kegiatan robotik dan TIK sebagai salah satu ruang bagi siswa untuk mengenal logika, coding, pemecahan masalah, dan teknologi secara lebih produktif.
Pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek yang menggabungkan teknologi dan kreativitas. Misalnya, siswa dapat membuat media edukasi sederhana, merancang presentasi interaktif, atau mendokumentasikan proses sebuah proyek. Dengan begitu, teknologi tidak berhenti pada kemampuan menggunakan perangkat, tetapi mulai berkaitan dengan proses menghasilkan sesuatu.
Di jenjang SMA, kegiatan produksi media dapat dikembangkan dengan tuntutan yang lebih tinggi. Siswa dapat belajar memperhatikan struktur informasi, kualitas sumber, penyusunan naskah, visual, audio, serta cara menyampaikan informasi kepada audiens tertentu.
Fasilitas SMA Al Ma’soem untuk Tahun Ajaran 2027–2028 mencantumkan Ruang Multimedia dan Studio Mini & Podcast selain Laboratorium Komputer dan Free WiFi. Keberadaan ruang semacam ini dapat mendukung kegiatan yang membutuhkan media digital, meskipun bentuk penggunaan dan jadwal setiap fasilitas tetap bergantung pada program sekolah.
Siswa SMA juga dapat mulai memahami bahwa sebuah konten memiliki tujuan. Konten untuk menjelaskan materi pelajaran tentu berbeda dengan konten untuk wawancara, dokumentasi kegiatan, atau presentasi proyek. Perbedaan tujuan tersebut membuat siswa perlu memikirkan siapa audiensnya dan informasi apa yang memang dibutuhkan.
Podcast merupakan salah satu contoh media yang membutuhkan lebih dari sekadar perangkat perekam. Siswa yang membuat podcast perlu menentukan topik, menyiapkan pertanyaan atau alur pembicaraan, memilih informasi, serta memperhatikan cara berkomunikasi.
Studio Mini & Podcast yang tercantum dalam fasilitas SMA Al Ma’soem dapat menjadi salah satu ruang yang relevan dengan aktivitas semacam ini. Dalam konteks pendidikan, kegiatan audio dapat dikaitkan dengan tugas wawancara, diskusi mengenai materi pelajaran, atau penyampaian informasi tertentu.
Menariknya, produksi podcast juga dapat melatih siswa untuk berbicara secara terstruktur. Mereka perlu membedakan antara berbicara spontan dengan menyampaikan informasi yang sudah dipersiapkan. Kemampuan tersebut dapat berguna dalam berbagai kegiatan akademik.
Tidak. Produksi konten justru dapat dimulai dari aktivitas yang tidak menggunakan perangkat secara langsung.
Siswa perlu melakukan pengamatan, membaca referensi, berdiskusi, menyusun ide, dan menentukan informasi sebelum membuka komputer atau kamera. Setelah konten selesai dibuat, mereka juga perlu melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan informasi yang disampaikan sesuai dengan sumber.
Karena itu, teknologi sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari proses, bukan seluruh proses pembelajaran. Buku, laboratorium, kegiatan lapangan, diskusi kelas, olahraga, seni, dan interaksi langsung tetap memiliki fungsi masing-masing.
Kemampuan membuat konten juga perlu disertai kemampuan memeriksa informasi. Siswa dapat menemukan banyak informasi di internet, tetapi tidak semuanya memiliki kualitas yang sama.
Dalam proyek digital, siswa dapat dibiasakan mencari sumber yang jelas, membandingkan informasi, dan tidak langsung menggunakan sebuah klaim hanya karena terlihat menarik. Kebiasaan tersebut menjadi semakin penting ketika mereka membuat konten yang akan dilihat orang lain.
Untuk siswa SMP dan SMA, proses ini dapat dikembangkan menjadi latihan sederhana dalam mengecek sumber dan membedakan fakta, pendapat, serta informasi yang masih membutuhkan verifikasi. Sementara itu, siswa SD dapat diperkenalkan pada kebiasaan dasar seperti bertanya kepada guru dan tidak langsung mempercayai semua informasi yang ditemukan.
Pada tahun ajaran 2027–2028, teknologi digital bukan lagi sekadar perangkat tambahan dalam kehidupan siswa. Cara orang belajar, berkomunikasi, membuat karya, dan mencari informasi terus berkembang.
Namun, kemampuan digital tidak hanya berarti cepat menggunakan aplikasi. Siswa juga perlu memahami tujuan penggunaan teknologi, mampu memilih informasi, dan mengetahui bagaimana menyampaikan gagasan dengan tepat.
Lingkungan seperti Al Ma’soem yang memiliki fasilitas komputer, multimedia, dan studio podcast pada jenjang tertentu dapat memberikan pilihan ruang untuk mengembangkan pengalaman tersebut. Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan masing-masing jenjang.
Perbedaan antara sekadar menggunakan teknologi dan membuat karya dengan teknologi terletak pada proses berpikir di baliknya. Ketika siswa membuat sebuah konten, mereka perlu menentukan apa yang ingin disampaikan, mengapa informasi tersebut penting, bagaimana cara menyampaikannya, dan siapa yang akan menerimanya.
Bagi siswa SD, proses tersebut dapat dimulai dengan karya sederhana. Siswa SMP dapat mengembangkan proyek teknologi dan media secara lebih beragam, sementara siswa SMA dapat berlatih membuat karya dengan struktur dan tujuan yang semakin jelas.
Dengan fasilitas dan pendampingan yang sesuai, teknologi di lingkungan sekolah dapat menjadi lebih dari sekadar perangkat. Laboratorium komputer, ruang multimedia, koneksi internet, hingga studio podcast dapat menjadi bagian dari pengalaman siswa dalam memahami teknologi sekaligus menggunakannya untuk belajar, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.