Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kemampuan berhitung menjadi salah satu dasar yang digunakan siswa dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Namun, kemampuan matematika tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menuliskan jawaban dari sebuah soal. Siswa juga perlu memahami hubungan antarangka, melakukan perhitungan secara tepat, serta menggunakan penalaran ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan beberapa langkah berpikir.
Di SD Al Ma’soem, Mental Arithmetic tercantum sebagai salah satu mata pelajaran tambahan dalam kurikulum sekolah. Program tersebut berada dalam rangkaian pembelajaran yang melengkapi kurikulum pendidikan nasional dan kurikulum Al Ma’soem. Kehadirannya memberikan ruang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman berhitung melalui pendekatan yang berbeda dari pembelajaran matematika secara umum.
Mental Arithmetic secara sederhana berkaitan dengan kemampuan melakukan perhitungan menggunakan proses berpikir, tanpa selalu bergantung pada pencatatan setiap langkah secara tertulis. Kemampuan ini membutuhkan siswa untuk memahami angka dan operasi hitung sehingga proses perhitungan dapat dilakukan dengan lebih terstruktur.
Bagi siswa sekolah dasar, kemampuan tersebut tidak berarti anak harus mampu menghitung semua persoalan matematika dengan cepat. Ketepatan tetap menjadi bagian penting. Siswa perlu memahami operasi yang digunakan dan mengetahui langkah yang harus dilakukan sebelum menghasilkan jawaban.
Karena itu, pembelajaran Mental Arithmetic dapat dilihat sebagai salah satu bentuk latihan untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara angka, operasi matematika, dan proses berpikir siswa.
Dalam kehidupan sehari-hari, siswa sering berhadapan dengan situasi yang membutuhkan perhitungan sederhana. Menghitung jumlah benda, memperkirakan selisih, membandingkan angka, atau menentukan hasil operasi dasar merupakan contoh aktivitas yang menggunakan kemampuan berhitung.
Kemampuan menghitung secara mental dapat membantu siswa melakukan perhitungan sederhana tanpa selalu bergantung pada alat bantu. Namun, tujuan yang lebih penting adalah membangun pemahaman terhadap angka. Anak mulai mengenali bahwa angka dapat diolah dengan berbagai cara untuk memperoleh hasil tertentu.
Pemahaman tersebut dapat menjadi dasar ketika siswa mempelajari konsep matematika yang lebih kompleks pada tingkat berikutnya. Materi seperti pecahan, persentase, perbandingan, dan pemecahan masalah membutuhkan dasar numerasi yang cukup kuat.
Mental Arithmetic sering dikaitkan dengan kemampuan menghitung secara cepat. Meskipun kecepatan dapat berkembang melalui latihan, pembelajaran matematika tidak seharusnya hanya berorientasi pada seberapa cepat siswa memperoleh jawaban.
Ketepatan dan pemahaman tetap memiliki peran penting. Siswa yang mampu memperoleh jawaban dengan cepat tetapi tidak memahami prosesnya akan mengalami kesulitan ketika bentuk soal berubah. Sebaliknya, siswa yang memahami hubungan antarangka memiliki dasar untuk menyesuaikan strategi ketika menghadapi persoalan baru.
Karena itu, latihan berhitung dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk memperhatikan cara siswa berpikir. Kesalahan perhitungan juga dapat digunakan untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Perhitungan secara mental membutuhkan perhatian terhadap angka dan operasi yang sedang digunakan. Siswa perlu mempertahankan informasi tertentu dalam pikirannya sambil melakukan langkah perhitungan berikutnya.
Proses tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan mengerjakan soal dengan menuliskan seluruh tahapan di kertas. Anak perlu mendengarkan atau membaca informasi dengan teliti, mengingat angka yang relevan, kemudian mengolahnya sesuai kebutuhan.
Latihan yang dilakukan secara bertahap dapat membantu siswa menjadi lebih terbiasa mempertahankan perhatian terhadap sebuah persoalan. Namun, kemampuan konsentrasi tetap berkembang melalui berbagai kegiatan belajar, bukan hanya dari latihan berhitung.
Tidak semua siswa memiliki kemampuan numerasi yang sama. Ada anak yang dapat memahami operasi hitung dengan cepat, sementara siswa lainnya membutuhkan contoh, pengulangan, atau waktu lebih panjang untuk memahami konsep tertentu.
Dalam kondisi tersebut, latihan perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Guru dapat menggunakan soal dengan tingkat kesulitan yang bertahap dan memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan cara berpikirnya.
Pendekatan tersebut juga membantu guru membedakan antara kesalahan karena belum memahami konsep dengan kesalahan karena kurang teliti. Keduanya membutuhkan pendampingan yang berbeda.
Mental Arithmetic tidak berdiri terpisah dari matematika. Kemampuan berhitung mental dapat mendukung siswa ketika mereka mengerjakan berbagai materi matematika yang membutuhkan pemahaman angka dan operasi dasar.
Misalnya, ketika siswa mempelajari perbandingan, mereka perlu memahami hubungan antara beberapa angka. Saat mengerjakan soal cerita, mereka juga perlu menentukan operasi apa yang sesuai dengan informasi dalam soal.
Dasar numerasi yang baik dapat membantu siswa menghadapi persoalan tersebut dengan lebih terarah. Mereka tidak hanya melihat angka sebagai simbol yang harus dihitung, tetapi mulai memahami hubungan antara angka dan konteks persoalan.
Kemampuan matematika berkembang melalui proses. Siswa tidak harus langsung menguasai perhitungan yang kompleks. Materi dapat dimulai dari operasi yang sesuai dengan kemampuan anak kemudian berkembang secara bertahap.
Tahapan tersebut memungkinkan siswa membangun pemahaman sebelum menghadapi tingkat kesulitan berikutnya. Jika anak terlalu cepat diberikan persoalan yang belum sesuai dengan kemampuannya, kegiatan berhitung justru dapat membuat mereka lebih fokus pada mencari jawaban daripada memahami proses.
Di sekolah dasar, pembentukan dasar seperti ini penting karena pengalaman siswa terhadap matematika dapat memengaruhi cara mereka menghadapi materi pada jenjang berikutnya.
SD Al Ma’soem mengembangkan pembelajaran dengan menggabungkan Kurikulum Pendidikan Nasional dan kurikulum Al Ma’soem. Dalam profil resmi sekolah, Mental Arithmetic tercantum bersama sejumlah mata pelajaran tambahan seperti Bahasa Arab, BTHA, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Islam, Bahasa Inggris, serta pengetahuan dan praktik dasar komputer.
Keberadaan Mental Arithmetic dalam struktur pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa kemampuan numerasi ditempatkan sebagai salah satu bagian dari pengalaman belajar siswa. Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada materi utama, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan kemampuan tertentu yang dapat mendukung proses akademik.
Bagi siswa SD Al Ma’soem, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan dasar kemampuan berhitung yang kemudian digunakan kembali dalam pelajaran matematika dan berbagai kegiatan yang membutuhkan pemahaman angka.
Kemampuan berhitung yang baik bukan hanya membantu siswa mendapatkan jawaban. Anak juga dapat belajar memeriksa kembali hasil, memperkirakan apakah jawaban masuk akal, serta memilih cara yang sesuai untuk menyelesaikan persoalan.
Kebiasaan tersebut menjadi semakin relevan ketika siswa mulai menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu operasi hitung. Mereka perlu membaca informasi, menentukan apa yang diketahui, memilih langkah perhitungan, kemudian mengevaluasi hasilnya.
Mental Arithmetic dapat menjadi salah satu bagian dari proses tersebut. Dengan latihan yang sesuai dan tidak semata-mata mengejar kecepatan, kegiatan berhitung dapat membantu siswa membangun pemahaman angka yang lebih terarah dan menjadi bekal untuk menghadapi pembelajaran matematika pada tahap berikutnya.