Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kurikulum sekolah sering kali dibicarakan dalam konteks mata pelajaran, jadwal belajar, dan metode pembelajaran. Padahal, kurikulum memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Di dalamnya terdapat arah pendidikan, pengalaman yang ingin dibangun, kompetensi yang dikembangkan, serta nilai yang ingin ditanamkan melalui kegiatan sekolah.
Hal tersebut menjadi semakin menarik ketika sebuah lembaga pendidikan tidak hanya menggunakan kurikulum nasional, tetapi juga memiliki unsur kurikulum yang dikembangkan oleh yayasan. Pola seperti ini memungkinkan lembaga memberikan karakter tertentu pada proses pendidikan tanpa harus meninggalkan standar pendidikan nasional.
Yayasan Al Ma’soem Bandung merupakan salah satu contoh lembaga yang menarik untuk dilihat dari sudut pandang tersebut. Pada beberapa jenjang pendidikannya, terdapat kombinasi antara kurikulum nasional dengan kurikulum Al Ma’soem. Model tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kurikulum dapat menjadi salah satu cara sebuah yayasan menerjemahkan visi pendidikan ke dalam kegiatan yang lebih konkret.
Setiap sekolah tetap membutuhkan kerangka pendidikan nasional sebagai acuan. Kerangka tersebut memberikan arah mengenai kompetensi, pembelajaran, dan berbagai standar yang perlu dipenuhi oleh satuan pendidikan.
Namun, keberadaan kurikulum nasional tidak berarti setiap sekolah harus memiliki pengalaman pendidikan yang sepenuhnya sama.
Sekolah memiliki ruang untuk mengembangkan karakteristik pendidikan sesuai dengan konteks lembaga. Di sinilah kurikulum yayasan dapat memiliki peran.
Kurikulum yayasan dapat menjadi lapisan tambahan yang menghubungkan standar pendidikan nasional dengan nilai, tradisi, serta tujuan khusus yang ingin dikembangkan oleh sebuah lembaga.
Kurikulum yayasan dapat dipahami sebagai berbagai materi, kegiatan, pembiasaan, atau pendekatan pendidikan yang dikembangkan oleh lembaga untuk memperkuat karakter pendidikan yang menjadi cirinya.
Bentuknya tidak selalu berupa mata pelajaran baru. Bisa saja berupa program pembiasaan, kegiatan pengembangan karakter, penguatan keagamaan, aktivitas khusus, maupun pendekatan tertentu dalam pembelajaran.
Pada SD Al Ma’soem, misalnya, pendidikan umum dipadukan dengan pendidikan yang dikembangkan oleh Al Ma’soem. Profil sekolah tersebut menyebut adanya materi tambahan seperti Bahasa Arab, BTHA, Akidah Akhlak, Fiqih, Tarikh Islam, Mental Aritmatika, Bahasa Inggris, serta pengenalan dan praktik komputer.
Artinya, kurikulum yayasan dapat digunakan untuk memperluas pengalaman pendidikan tanpa harus menggantikan kurikulum nasional.
Salah satu alasannya adalah identitas. Setiap lembaga pendidikan memiliki latar belakang, nilai, dan tujuan yang ingin dipertahankan.
Jika seluruh kegiatan hanya mengikuti kerangka yang sama tanpa ada pengembangan khas lembaga, karakter sebuah sekolah dapat menjadi kurang terlihat.
Kurikulum yayasan memberikan ruang untuk memasukkan hal-hal yang dianggap penting bagi lembaga. Dengan demikian, visi yang sebelumnya hanya tertulis dalam dokumen dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang benar-benar ditemui dalam kegiatan pendidikan.
Bagi yayasan yang telah berkembang selama puluhan tahun, hal tersebut juga menjadi cara untuk menjaga kesinambungan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pendidikan akademik dan pendidikan nilai sering kali dianggap sebagai dua hal yang berbeda. Padahal, keduanya dapat berjalan bersamaan.
Peserta didik dapat mempelajari matematika, sains, bahasa, teknologi, dan bidang akademik lainnya sekaligus memperoleh pembiasaan yang berkaitan dengan tanggung jawab, etika, dan kehidupan sosial.
Kurikulum yayasan dapat menjadi penghubung di antara keduanya.
Misalnya, sebuah materi akademik tidak hanya diarahkan agar peserta didik mampu memperoleh jawaban yang benar, tetapi juga memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
Pendekatan seperti ini membuat kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai daftar materi, tetapi menjadi rancangan pengalaman pendidikan.
Menariknya, kurikulum yayasan tidak harus diterapkan dengan bentuk yang sama pada setiap jenjang.
Anak usia dini membutuhkan pengalaman belajar yang berbeda dari siswa sekolah dasar. Siswa SMP membutuhkan pendekatan yang berbeda dari siswa SMA. Mahasiswa juga memiliki kebutuhan akademik yang berbeda lagi.
Karena itu, sebuah yayasan yang memiliki banyak unit pendidikan perlu menerjemahkan nilai yang sama ke dalam bentuk yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Pada jenjang dasar, penguatan kebiasaan mungkin lebih banyak dilakukan melalui aktivitas sederhana dan pembelajaran yang konkret. Pada jenjang menengah, materi dapat dikembangkan menjadi diskusi, proyek, atau kegiatan yang membutuhkan tanggung jawab lebih besar.
Nilai yang menjadi dasar tetap dapat dipertahankan, tetapi cara menyampaikannya berkembang mengikuti usia.
Memiliki kurikulum tambahan juga menciptakan tantangan tersendiri. Materi dan kegiatan yang terlalu banyak dapat membuat beban pendidikan menjadi tidak seimbang.
Karena itu, kurikulum yayasan perlu dirancang dengan mempertimbangkan keseluruhan pengalaman peserta didik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Pengelolaan tersebut penting agar kurikulum tambahan benar-benar memberikan nilai tambah, bukan sekadar menambah jumlah materi yang harus dipelajari.
Dokumen kurikulum tidak akan memiliki banyak arti jika tidak dapat diterjemahkan ke dalam pembelajaran sehari-hari.
Guru memiliki peran penting dalam proses tersebut. Guru perlu memahami bukan hanya apa yang harus diajarkan, tetapi juga mengapa materi tersebut menjadi bagian dari sistem pendidikan lembaga.
Dalam konteks kurikulum yang menggabungkan beberapa sumber, kemampuan guru untuk menghubungkan materi menjadi semakin penting.
Misalnya, pembelajaran umum dapat dikaitkan dengan kegiatan pengembangan karakter atau pengalaman praktis. Dengan cara tersebut, peserta didik tidak merasa sedang mengikuti dua sistem yang terpisah.
Sebaliknya, mereka dapat melihat bahwa berbagai kegiatan yang dilakukan di sekolah merupakan bagian dari pengalaman pendidikan yang saling berhubungan.
Kurikulum yang telah berjalan selama bertahun-tahun bukan berarti tidak perlu dievaluasi.
Perubahan teknologi, kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perubahan karakter generasi membuat lembaga pendidikan perlu meninjau kembali program yang dimilikinya.
Evaluasi tidak selalu berarti menghapus program lama. Bisa saja hasil evaluasi menunjukkan bahwa program tersebut masih relevan, tetapi cara pelaksanaannya perlu diperbarui.
Sebaliknya, ada pula materi yang mungkin perlu dikurangi karena sudah tidak memberikan dampak yang cukup besar dibandingkan waktu dan sumber daya yang digunakan.
Dengan demikian, kurikulum yayasan sebaiknya dipandang sebagai sistem yang dapat berkembang, bukan dokumen yang tidak berubah.
Salah satu persoalan dalam pengembangan kurikulum adalah keinginan untuk memasukkan terlalu banyak hal.
Setiap program dapat terlihat penting jika dilihat secara terpisah. Namun, peserta didik menjalani seluruh program tersebut secara bersamaan.
Karena itu, pengelola perlu melihat kurikulum dari perspektif keseluruhan. Pertanyaannya bukan hanya apakah sebuah materi penting, tetapi juga apakah materi tersebut memberikan kontribusi yang berbeda dari materi lain.
Kurikulum yang baik tidak selalu merupakan kurikulum dengan jumlah kegiatan paling banyak. Yang lebih penting adalah keterhubungan antara setiap kegiatan dan kejelasan tujuan yang ingin dicapai.
Salah satu kesalahpahaman mengenai identitas sekolah adalah anggapan bahwa sebuah lembaga harus memiliki sistem yang sepenuhnya berbeda dari sekolah lain.
Padahal, ciri khas dapat muncul dari cara berbagai komponen pendidikan digabungkan.
Sekolah dapat menggunakan kurikulum nasional yang sama dengan sekolah lain, tetapi memiliki pendekatan, pembiasaan, program, atau materi tambahan yang berbeda.
Dalam konteks Al Ma’soem, perpaduan pendidikan umum dengan unsur pendidikan yang dikembangkan yayasan menjadi salah satu cara membangun karakter tersebut.
Dengan pendekatan seperti ini, identitas lembaga tidak harus dibangun melalui sesuatu yang sepenuhnya baru. Identitas dapat muncul dari cara lembaga menyusun dan menjalankan berbagai komponen pendidikan.
Pada akhirnya, kurikulum dapat menjadi salah satu cermin paling jelas untuk melihat apa yang dianggap penting oleh sebuah lembaga pendidikan.
Jika sebuah yayasan memberikan ruang besar bagi pendidikan agama, karakter, teknologi, bahasa, sains, atau pengembangan keterampilan, pilihan tersebut menunjukkan prioritas yang ingin dibangun.
Hal tersebut membuat kurikulum menjadi lebih dari sekadar perangkat administrasi.
Bagi Yayasan Al Ma’soem Bandung, keberadaan kurikulum yang dikembangkan bersama dengan kurikulum nasional memperlihatkan adanya upaya untuk menggabungkan standar pendidikan umum dengan karakter pendidikan yang menjadi bagian dari lembaga.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan bahwa perkembangan sebuah yayasan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari jumlah unit, fasilitas, atau program yang dimiliki. Perkembangan dapat dilihat dari bagaimana lembaga menerjemahkan gagasan pendidikannya menjadi sistem yang dapat dijalankan secara konsisten.
Kurikulum kemudian menjadi salah satu titik penting dalam proses tersebut. Di dalamnya terdapat keputusan mengenai apa yang perlu dipelajari, pengalaman apa yang perlu diberikan, nilai apa yang perlu dibangun, dan kemampuan apa yang ingin dikembangkan. Karena itu, ketika kurikulum dikelola dengan baik, identitas sebuah lembaga pendidikan dapat terasa bukan hanya melalui nama, tetapi melalui pengalaman pendidikan yang dijalani setiap hari.