Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Lingkungan sekolah merupakan tempat yang mempertemukan siswa dengan berbagai kebiasaan, karakter, dan cara berpikir. Dalam kegiatan sehari-hari, tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan harapan setiap siswa. Ada kalanya siswa menemukan fasilitas yang kurang nyaman, kegiatan yang dianggap belum berjalan maksimal, aturan yang ingin dipahami lebih lanjut, atau situasi tertentu yang menurut mereka perlu diperbaiki. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan menyampaikan kritik dan saran menjadi salah satu keterampilan yang penting untuk dipelajari.
Kritik dan saran sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Jika disampaikan dengan cara yang tepat, keduanya dapat menjadi masukan yang membantu seseorang maupun sebuah kegiatan berkembang. Namun, menyampaikan pendapat juga membutuhkan pertimbangan. Siswa perlu belajar membedakan antara memberikan masukan terhadap suatu keadaan dengan menyerang pribadi seseorang. Perbedaan tersebut penting agar komunikasi tetap berjalan dengan baik dan pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami.
Kritik sering kali memiliki kesan negatif karena dikaitkan dengan komentar mengenai kekurangan seseorang. Padahal, kritik dapat memiliki tujuan yang berbeda-beda. Kritik yang membangun berfokus pada hal yang perlu diperbaiki, bukan pada usaha untuk mempermalukan pihak yang menerima kritik.
Misalnya, ketika sebuah kegiatan sekolah mengalami keterlambatan, siswa dapat menyampaikan bahwa pengaturan waktu perlu dibuat lebih terstruktur pada kegiatan berikutnya. Pernyataan seperti ini membahas kondisi yang terjadi dan memberikan arah perbaikan. Sebaliknya, komentar yang menyerang kemampuan atau karakter seseorang tidak membantu menemukan solusi.
Siswa perlu belajar bahwa pilihan kata dapat memengaruhi bagaimana sebuah pesan diterima. Masukan yang disampaikan dengan bahasa yang jelas dan sopan memiliki peluang lebih besar untuk didengarkan dibandingkan komentar yang menggunakan kata-kata kasar atau bernada merendahkan.
Sebelum memberikan kritik atau saran, siswa dapat belajar mengidentifikasi apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Apakah hal tersebut merupakan fakta yang dapat diamati, pendapat pribadi, atau perasaan yang muncul akibat suatu kejadian?
Ketiga hal tersebut dapat saling berkaitan, tetapi tidak selalu sama. Sebagai contoh, “kegiatan dimulai 30 menit lebih lambat dari jadwal” merupakan informasi mengenai waktu. Sementara “menurut saya, jadwal perlu disiapkan lebih jelas” merupakan pendapat. Adapun “saya merasa kurang nyaman karena harus menunggu terlalu lama” menggambarkan perasaan.
Kemampuan membedakan ketiganya membuat siswa lebih mudah menyampaikan pendapat secara terstruktur. Mereka tidak sekadar mengatakan bahwa sesuatu “buruk” atau “tidak bagus”, tetapi dapat menjelaskan bagian yang menjadi perhatian dan alasan mengapa hal tersebut perlu dipertimbangkan.
Cara menyampaikan kritik tidak hanya berkaitan dengan kata-kata. Waktu dan tempat juga perlu diperhatikan. Tidak semua masalah harus dibicarakan di depan banyak orang, terutama jika persoalan tersebut berkaitan dengan seseorang secara pribadi.
Jika kritik berkaitan dengan hal yang sensitif, menyampaikannya secara langsung dalam ruang yang lebih tepat dapat mengurangi kemungkinan pihak lain merasa dipermalukan. Sebaliknya, jika saran berkaitan dengan kegiatan yang memang perlu dibahas bersama, forum diskusi dapat menjadi tempat yang lebih sesuai.
Siswa dapat belajar mempertimbangkan situasi sebelum berbicara. Tujuannya bukan untuk membuat mereka takut menyampaikan pendapat, melainkan membantu mereka memilih cara yang lebih efektif agar pesan dapat diterima tanpa menimbulkan masalah baru.
Salah satu cara membuat kritik lebih membangun adalah menggunakan bahasa yang fokus pada persoalan. Siswa dapat menjelaskan kejadian, dampaknya, kemudian menawarkan kemungkinan solusi.
Contohnya, daripada mengatakan bahwa seseorang “selalu membuat kegiatan berantakan”, siswa dapat menjelaskan bagian tertentu yang menurutnya perlu diperbaiki. Dengan begitu, pembicaraan menjadi lebih spesifik dan pihak yang menerima masukan memiliki gambaran mengenai apa yang perlu dievaluasi.
Bahasa yang spesifik juga membuat diskusi lebih mudah diarahkan kepada solusi. Jika masalahnya adalah informasi kegiatan yang terlambat disampaikan, misalnya, saran dapat diarahkan pada penggunaan pengumuman terjadwal atau pembagian informasi melalui saluran yang sudah disepakati.
Siswa tidak harus selalu memiliki solusi yang sempurna ketika memberikan kritik. Namun, jika memiliki ide yang masuk akal, menyertakannya dapat membuat masukan menjadi lebih bermanfaat.
Beberapa bentuk saran yang dapat diberikan siswa misalnya:
Memberikan solusi menunjukkan bahwa siswa tidak hanya melihat kekurangan, tetapi juga bersedia ikut memikirkan perbaikannya. Dalam konteks pendidikan, kebiasaan seperti ini dapat membantu membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.
Kemampuan memberikan kritik sebaiknya diimbangi dengan kemampuan menerima kritik. Siswa mungkin merasa tidak nyaman ketika pendapat atau hasil kerja mereka dikomentari oleh orang lain. Perasaan tersebut wajar, tetapi masukan tetap dapat dipertimbangkan secara objektif.
Ketika menerima kritik, siswa dapat mendengarkan terlebih dahulu sebelum langsung membantah. Mereka dapat mencari bagian mana dari masukan yang memang relevan dan bagian mana yang mungkin merupakan perbedaan sudut pandang. Tidak semua kritik harus diterima begitu saja, tetapi tidak semua kritik juga perlu ditolak.
Kebiasaan mendengarkan masukan dapat membantu siswa melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Dalam kerja kelompok, organisasi siswa, maupun kegiatan kelas, kemampuan menerima saran menjadi bagian penting agar seseorang dapat berkembang bersama orang lain.
Perkembangan teknologi membuat siswa memiliki semakin banyak ruang untuk menyampaikan pendapat. Namun, kemudahan menulis komentar di internet juga membuat seseorang terkadang menyampaikan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya terlebih dahulu.
Siswa perlu memahami bahwa kritik yang ditulis secara daring tetap merupakan bentuk komunikasi. Kata-kata yang dianggap biasa ketika ditulis dengan emosi dapat ditafsirkan berbeda oleh orang lain. Karena itu, sebelum mengunggah komentar, siswa dapat membaca kembali tulisannya dan mempertimbangkan apakah pesan tersebut memang diperlukan serta apakah cara penyampaiannya sudah tepat.
Hal ini juga berkaitan dengan jejak digital. Unggahan atau komentar yang dibuat seseorang dapat tersimpan dan dilihat kembali. Membiasakan diri berpikir sebelum menulis dapat membantu siswa menjadi pengguna teknologi yang lebih bertanggung jawab.
Sekolah dapat membantu siswa belajar menyampaikan kritik dan saran dengan menyediakan ruang komunikasi yang sehat. Forum siswa, diskusi kelas, kotak saran, evaluasi kegiatan, atau pertemuan organisasi dapat menjadi tempat bagi siswa untuk menyampaikan pendapat.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pendapat tersebut ditanggapi. Ketika siswa merasa bahwa pendapat mereka dapat disampaikan secara aman dan didengarkan, mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar berkomunikasi secara terbuka. Sebaliknya, jika setiap pendapat langsung dianggap sebagai bentuk pembangkangan, siswa dapat kesulitan membedakan antara kritik yang membangun dengan perilaku yang memang tidak sesuai aturan.
Guru juga dapat memberikan contoh bagaimana sebuah kritik ditanggapi. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Dengan membiasakan dialog, siswa dapat melihat bahwa dua orang dapat memiliki pandangan berbeda sambil tetap menghormati satu sama lain.
Kemampuan menyampaikan kritik dan saran akan semakin dibutuhkan ketika siswa memasuki lingkungan yang lebih luas. Di perguruan tinggi, organisasi, dunia kerja, maupun masyarakat, seseorang akan bertemu dengan situasi yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya.
Siswa yang terbiasa menyampaikan pendapat secara jelas memiliki kesempatan untuk belajar memperjuangkan gagasan tanpa mengabaikan kepentingan orang lain. Mereka juga belajar bahwa memberikan masukan berarti siap menjelaskan alasan di balik pendapat tersebut.
Sekolah dapat menjadi tempat yang tepat untuk melatih kemampuan ini karena siswa memiliki banyak kesempatan untuk berdiskusi, bekerja sama, mengikuti kegiatan, dan melakukan evaluasi. Dengan membangun kebiasaan menyampaikan kritik berdasarkan masalah, menggunakan bahasa yang tepat, memilih situasi yang sesuai, serta mempertimbangkan solusi, siswa dapat belajar bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari proses berinteraksi dan memperbaiki keadaan bersama.