Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Belajar bersama teman di sekolah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan karena siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi juga berinteraksi, berdiskusi, dan saling membantu. Namun, dalam kegiatan sehari-hari, terkadang ada situasi ketika seorang siswa merasa terganggu oleh perilaku teman saat sedang belajar. Gangguan tersebut bisa berupa ajakan mengobrol, bercanda terus-menerus, meminjam barang tanpa memperhatikan waktu, mengajak bermain, atau membuat suara yang terlalu ramai ketika suasana kelas sedang membutuhkan konsentrasi.
Situasi seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi dalam lingkungan sekolah. Setiap siswa memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda. Ada siswa yang mudah fokus dalam kondisi ramai, sementara siswa lainnya membutuhkan suasana yang lebih tenang agar dapat memahami pelajaran. Karena itu, kemampuan menghadapi teman yang mengganggu tidak harus dilakukan dengan marah atau menjauh sepenuhnya. Siswa dapat belajar menyampaikan batasan dengan cara yang sopan sekaligus tetap menjaga hubungan pertemanan.
Sebelum memberikan respons, siswa perlu memahami terlebih dahulu bentuk gangguan yang sedang dialami. Tidak semua interaksi dengan teman dapat disebut sebagai gangguan. Bertanya mengenai tugas, meminta bantuan memahami materi, atau mengajak berdiskusi merupakan bagian dari proses belajar. Gangguan biasanya terjadi ketika interaksi tersebut membuat siswa kesulitan mempertahankan konsentrasi atau menghambat kegiatan belajar yang sedang dilakukan.
Misalnya, seorang siswa sedang membaca materi untuk mempersiapkan ujian, kemudian temannya beberapa kali mengajak berbicara mengenai hal di luar pelajaran. Sekali atau dua kali mungkin tidak menjadi masalah. Namun, jika percakapan terus berlangsung dan membuat waktu belajar berkurang, siswa perlu menyampaikan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk fokus.
Memahami situasi dengan baik membantu siswa menghindari reaksi berlebihan. Siswa tidak perlu langsung menganggap temannya berniat buruk. Bisa saja teman tersebut tidak menyadari bahwa perilakunya mengganggu. Dengan melihat masalah secara lebih tenang, komunikasi dapat dilakukan tanpa membuat persoalan kecil berkembang menjadi konflik.
Salah satu cara paling mudah menghadapi teman yang mengganggu adalah menyampaikan keinginan secara langsung. Tidak perlu menggunakan kalimat yang panjang atau terdengar kasar. Siswa dapat mengatakan bahwa dirinya sedang ingin berkonsentrasi dan akan berbicara setelah tugas selesai.
Contohnya, ketika teman mengajak mengobrol saat siswa sedang mengerjakan tugas, siswa dapat mengatakan, “Aku selesaikan ini dulu, nanti kita ngobrol lagi.” Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa siswa tidak menolak pertemanan, tetapi sedang menetapkan waktu untuk belajar.
Cara menyampaikan juga perlu diperhatikan. Nada bicara yang tenang biasanya lebih mudah diterima daripada nada tinggi atau ekspresi yang menunjukkan kemarahan. Jika siswa menyampaikan batasan dengan sopan sejak awal, kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dapat dikurangi. Kebiasaan tersebut juga membantu siswa belajar berkomunikasi secara asertif.
Sebagian siswa merasa tidak enak ketika harus menolak ajakan teman. Mereka khawatir dianggap sombong, tidak mau berteman, atau terlalu serius belajar. Padahal, mengatakan “tidak” terhadap suatu ajakan tidak selalu berarti menolak hubungan pertemanan. Ada kalanya seseorang memang perlu memprioritaskan kegiatan tertentu.
Siswa dapat belajar mengatakan tidak dengan tetap memberikan alasan yang jelas. Misalnya, ketika diajak bermain saat sedang menyelesaikan tugas, siswa dapat menjelaskan bahwa tugas tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu. Setelah pekerjaan selesai, siswa bisa kembali bergabung dengan teman jika waktunya memungkinkan.
Kemampuan mengatakan tidak secara sopan merupakan keterampilan yang penting. Di sekolah, siswa mungkin menghadapi berbagai ajakan dari teman. Tidak semuanya harus diikuti. Dengan memiliki kemampuan menentukan prioritas, siswa dapat memilih kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawabnya tanpa harus memutus hubungan dengan lingkungan pertemanan.
Terkadang, komunikasi sudah dilakukan tetapi gangguan tetap terjadi. Dalam kondisi seperti ini, siswa dapat mempertimbangkan untuk mengubah posisi belajar. Misalnya, jika suasana di satu bagian kelas terlalu ramai, siswa dapat memilih tempat yang lebih kondusif selama aturan sekolah memungkinkan.
Perpindahan tempat bukan berarti siswa sedang bermusuhan dengan teman. Tujuannya adalah mencari kondisi yang membantu dirinya kembali berkonsentrasi. Jika sedang menggunakan perpustakaan atau ruang belajar tertentu, siswa juga dapat memilih area yang lebih tenang agar kegiatan membaca atau mengerjakan tugas berjalan lebih nyaman.
Kebiasaan mencari lingkungan yang sesuai dapat membantu siswa memahami kebutuhan belajarnya sendiri. Ada siswa yang dapat belajar sambil berdiskusi, sementara yang lain lebih nyaman mengerjakan tugas secara mandiri terlebih dahulu. Mengenali kondisi yang paling mendukung konsentrasi membuat siswa lebih mudah mengatur strategi belajar.
Ketika merasa terganggu, reaksi spontan yang muncul terkadang adalah membalas. Misalnya, teman membuat suara berisik, lalu siswa sengaja melakukan hal yang sama. Cara seperti ini justru dapat membuat suasana menjadi semakin ramai dan masalah sulit diselesaikan.
Membalas gangguan juga berpotensi mengubah persoalan sederhana menjadi pertengkaran. Kedua pihak bisa saling merasa tidak dihargai. Karena itu, siswa sebaiknya berusaha menghentikan pola tersebut sejak awal. Jika teman mengganggu, sampaikan keberatan secara langsung daripada membalas dengan tindakan yang sama.
Sikap tenang bukan berarti siswa harus selalu mengalah. Siswa tetap memiliki hak untuk menyampaikan ketidaknyamanan. Perbedaannya terletak pada cara menyampaikan. Masalah dapat dibicarakan tanpa mempermalukan teman atau membuat suasana kelas semakin tidak kondusif.
Ada kalanya teman yang sering mengganggu sebenarnya ingin mendapatkan perhatian atau merasa bosan dengan kegiatan belajar. Dalam situasi tertentu, siswa dapat mengubah interaksi tersebut menjadi kegiatan yang lebih positif dengan mengajak teman belajar bersama.
Misalnya, daripada membiarkan percakapan terus keluar dari topik pelajaran, siswa dapat mengajak temannya membahas soal yang sedang dikerjakan. Jika ada materi yang sulit, keduanya dapat saling bertukar pemahaman. Dengan cara ini, interaksi tetap terjadi tetapi arahnya mendukung kegiatan belajar.
Belajar bersama juga dapat membuat siswa merasa lebih nyaman menghadapi materi yang sulit. Teman yang sebelumnya dianggap mengganggu bisa saja menjadi partner belajar yang membantu. Namun, cara ini tetap perlu disesuaikan dengan kondisi. Jika tugas memang harus dikerjakan secara mandiri, siswa tetap perlu menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk bekerja sendiri.
Siswa juga perlu mengetahui apa yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Ketika memiliki tugas, jadwal ujian, atau pekerjaan kelompok, siswa dapat menentukan prioritas agar tidak mudah terdistraksi oleh aktivitas lain. Prioritas tersebut dapat disampaikan kepada teman secara sederhana.
Misalnya, seorang siswa memiliki waktu istirahat yang terbatas dan perlu menyelesaikan beberapa soal. Ia dapat memilih menyelesaikan soal terlebih dahulu, kemudian menggunakan waktu berikutnya untuk berbincang. Dengan memiliki rencana sederhana, siswa tidak perlu merasa bingung ketika mendapatkan ajakan dari teman.
Kebiasaan menentukan prioritas akan berguna dalam berbagai kegiatan sekolah. Siswa belajar bahwa tidak semua hal harus dilakukan pada saat yang sama. Ada waktu untuk belajar, berdiskusi, bermain, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan beristirahat. Kemampuan mengatur urutan kegiatan membuat siswa lebih siap menghadapi aktivitas yang semakin beragam.
Jika gangguan terjadi terus-menerus dan sudah menghambat kegiatan belajar, siswa dapat meminta bantuan guru. Langkah ini bukan berarti langsung melaporkan teman untuk mendapatkan hukuman. Guru dapat membantu memahami situasi dan mencari cara agar kegiatan belajar tetap berjalan.
Sebelum meminta bantuan, siswa sebaiknya sudah mencoba komunikasi secara langsung jika situasinya memungkinkan. Namun, apabila perilaku teman sudah membuat siswa merasa tidak aman, sangat tertekan, atau kegiatan belajar terganggu secara serius, meminta bantuan orang dewasa di sekolah merupakan pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Guru juga dapat membantu membangun kesepakatan kelas mengenai suasana belajar. Dengan aturan yang dipahami bersama, siswa tidak perlu saling menegur secara berlebihan. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan yang mendukung kegiatan belajar.
Pertemanan dan kegiatan belajar sebenarnya dapat berjalan berdampingan. Siswa tidak perlu memilih antara memiliki teman atau menjadi fokus belajar. Yang diperlukan adalah kemampuan memahami batas dan waktu. Teman yang baik seharusnya dapat memahami ketika seseorang sedang membutuhkan konsentrasi, begitu pula sebaliknya.
Di lingkungan sekolah seperti Al Ma’soem Bandung, interaksi antarsiswa menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Berbagai kegiatan membuat siswa bertemu dengan teman yang memiliki karakter berbeda. Perbedaan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk belajar berkomunikasi, menghargai kebutuhan orang lain, dan menyelesaikan persoalan secara dewasa.
Menghadapi teman yang suka mengganggu bukan hanya soal bagaimana membuat suasana kembali tenang. Situasi tersebut dapat menjadi latihan bagi siswa untuk menyampaikan batasan, mengontrol emosi, menentukan prioritas, dan menjaga hubungan sosial. Keterampilan sederhana seperti berbicara dengan sopan, mengatakan tidak pada waktu yang tepat, serta meminta bantuan ketika diperlukan dapat membantu siswa menjalani kegiatan sekolah dengan lebih nyaman.