Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Bagi siswa SMP dan SMA, tugas sekolah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar sehari-hari, tetapi ketika beberapa tugas diberikan dalam waktu yang berdekatan, siswa dapat merasa kesulitan menentukan pekerjaan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Situasi tersebut juga dapat dialami siswa yang menjalani berbagai aktivitas sekolah seperti di lingkungan SMP dan SMA Al Ma’soem Bandung, terutama ketika kewajiban akademik harus berjalan bersamaan dengan kegiatan ekstrakurikuler, aktivitas kelompok, maupun rutinitas lainnya.
Tugas yang menumpuk sebenarnya tidak selalu berarti siswa memiliki terlalu banyak pekerjaan, karena terkadang masalahnya terletak pada kebiasaan menunda, kurang mencatat tenggat waktu, atau belum menemukan cara yang tepat untuk membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil.
Tugas sekolah dapat terasa semakin berat ketika siswa melihat semua pekerjaan sebagai satu beban besar tanpa membaginya berdasarkan tingkat kesulitan dan batas waktu pengerjaan.
Misalnya, seorang siswa mungkin mendapatkan tugas membuat rangkuman, mengerjakan latihan soal, menyelesaikan proyek kelompok, dan mempersiapkan presentasi dalam minggu yang sama, sehingga semuanya terlihat harus dikerjakan sekaligus.
Padahal, setiap tugas memiliki karakter yang berbeda sehingga cara mengerjakannya juga tidak harus sama.
Beberapa penyebab tugas terasa semakin banyak antara lain:
Lupa mencatat tugas yang diberikan.
Tidak memperhatikan batas waktu pengumpulan.
Menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih awal.
Terlalu lama mengerjakan satu tugas.
Tidak membagi tugas besar menjadi beberapa bagian.
Menghabiskan waktu belajar tanpa menentukan target.
Menggabungkan waktu belajar dengan terlalu banyak aktivitas lain.
Dengan mengetahui penyebabnya, siswa dapat mulai mencari cara untuk mengubah kebiasaan yang membuat pekerjaan sekolah terasa lebih berat.
Langkah pertama yang cukup sederhana adalah membuat daftar seluruh tugas yang harus dikerjakan.
Siswa dapat menggunakan buku agenda, kalender, catatan di ponsel, atau media lain yang mudah digunakan untuk mencatat nama tugas, mata pelajaran, tanggal pengumpulan, dan perkiraan waktu yang dibutuhkan.
Setelah semua tugas dicatat, siswa dapat melihat pekerjaan secara lebih jelas daripada hanya mengingatnya di dalam kepala.
Cara ini juga dapat membantu menghindari situasi ketika siswa baru menyadari adanya tugas beberapa jam sebelum batas pengumpulan, karena tenggat waktu sudah terlihat sejak awal.
Daftar tugas sebaiknya diperiksa setiap hari sehingga siswa dapat mengetahui apakah ada pekerjaan baru yang perlu dimasukkan ke dalam jadwal.
Setelah memiliki daftar tugas, siswa dapat menentukan prioritas berdasarkan batas waktu dan tingkat kesulitan.
Tugas yang harus dikumpulkan besok tentu perlu mendapatkan perhatian lebih cepat daripada tugas yang baru dikumpulkan minggu depan, tetapi tugas dengan tenggat waktu lebih lama juga tidak sebaiknya terus ditunda jika membutuhkan waktu pengerjaan cukup panjang.
Pembagian sederhana dapat membantu siswa menentukan urutan:
Tugas dengan tenggat paling dekat, terutama yang harus dikumpulkan dalam satu atau dua hari.
Tugas yang membutuhkan waktu lama, seperti proyek, makalah, atau presentasi.
Tugas rutin, seperti latihan soal atau rangkuman materi.
Persiapan ujian, yang sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit.
Pekerjaan tambahan, yang dapat dikerjakan setelah kewajiban utama selesai.
Dengan urutan tersebut, siswa tidak perlu terus-menerus memikirkan semua tugas sekaligus.
Tugas yang besar sering kali membuat siswa bingung harus memulai dari mana, terutama jika pekerjaan tersebut membutuhkan beberapa tahapan.
Daripada menulis “selesaikan proyek IPA” dalam daftar tugas, siswa dapat membaginya menjadi kegiatan yang lebih kecil seperti mencari informasi, membuat kerangka, mengumpulkan bahan, mengerjakan bagian pertama, memeriksa hasil, dan mempersiapkan presentasi.
Cara tersebut membuat pekerjaan terasa lebih mudah karena siswa hanya perlu berfokus pada satu langkah dalam satu waktu.
Selain itu, membagi pekerjaan juga memungkinkan siswa mengerjakan tugas secara bertahap sehingga tidak perlu menyelesaikan semuanya dalam satu malam.
Siswa yang mengikuti kegiatan sekolah dalam waktu cukup panjang dapat memanfaatkan kesempatan yang tersedia di lingkungan sekolah untuk mengatur pekerjaan akademiknya.
Misalnya, ketika terdapat waktu luang yang memang dapat digunakan untuk belajar, siswa dapat menyelesaikan tugas sederhana, membaca kembali catatan, atau berdiskusi dengan teman mengenai tugas kelompok.
Jika terdapat materi yang belum dipahami, siswa juga dapat memanfaatkan kesempatan untuk bertanya kepada guru daripada membawa kebingungan tersebut hingga ke rumah.
Penggunaan waktu di sekolah secara efektif bukan berarti setiap waktu luang harus digunakan untuk mengerjakan tugas, karena siswa tetap membutuhkan waktu istirahat dan interaksi sosial agar aktivitas belajar tidak terasa terlalu berat.
Tugas kelompok mempunyai tantangan tersendiri karena siswa tidak hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri, tetapi juga perlu berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya.
Masalah dapat muncul ketika pembagian pekerjaan tidak jelas atau ada anggota yang baru mulai bekerja mendekati batas waktu pengumpulan.
Agar pekerjaan lebih teratur, kelompok dapat menentukan pembagian tugas sejak awal dan membuat tenggat internal yang lebih cepat daripada batas pengumpulan dari guru.
Misalnya, jika tugas harus dikumpulkan hari Jumat, kelompok dapat menargetkan seluruh bagian sudah selesai pada Rabu sehingga Kamis dapat digunakan untuk menggabungkan pekerjaan dan melakukan pemeriksaan.
Cara tersebut memberikan waktu tambahan jika terdapat bagian yang perlu diperbaiki.
Salah satu kebiasaan yang dapat membuat tugas semakin menumpuk adalah menunggu sampai merasa benar-benar ingin belajar.
Padahal, tidak setiap hari siswa memiliki tingkat energi dan motivasi yang sama, sehingga pekerjaan sekolah tetap perlu dilakukan meskipun suasana hati sedang kurang mendukung.
Siswa dapat menggunakan cara sederhana seperti menetapkan target kecil, misalnya menyelesaikan lima soal terlebih dahulu, membaca dua halaman materi, atau mengerjakan satu bagian dari sebuah proyek.
Setelah target kecil tersebut selesai, siswa dapat melanjutkan pekerjaan berikutnya atau mengambil jeda singkat sebelum kembali belajar.
Mengerjakan tugas dalam waktu yang terlalu lama tanpa jeda dapat membuat konsentrasi menurun, terutama setelah siswa menjalani aktivitas sekolah sepanjang hari.
Jeda singkat dapat digunakan untuk minum, berjalan sebentar, melakukan peregangan, atau sekadar beristirahat dari layar dan buku.
Namun, siswa perlu berhati-hati agar waktu istirahat tidak berubah menjadi waktu bermain yang terlalu panjang, terutama ketika menggunakan ponsel atau membuka media sosial.
Menentukan durasi istirahat sebelum mulai belajar dapat membantu siswa kembali ke tugas tanpa kehilangan terlalu banyak waktu.
Ketika tugas menumpuk, sebagian siswa mungkin memilih mengurangi waktu tidur agar pekerjaan selesai pada malam hari.
Cara tersebut mungkin terasa seperti solusi cepat, tetapi jika dilakukan terlalu sering, siswa dapat merasa lebih lelah pada hari berikutnya dan kesulitan berkonsentrasi ketika mengikuti pembelajaran.
Karena itu, pengaturan tugas sebaiknya dilakukan sejak jauh-jauh hari sehingga siswa tidak perlu terus-menerus menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam.
Waktu tidur tetap perlu menjadi bagian dari jadwal harian karena istirahat membantu siswa mempersiapkan diri untuk menjalani kegiatan sekolah berikutnya.
Menunda pekerjaan memang terasa menyenangkan untuk sementara karena siswa dapat melakukan aktivitas yang lebih santai, tetapi tugas tersebut tetap akan menunggu dan biasanya terasa semakin berat ketika batas pengumpulan semakin dekat.
Siswa dapat mulai mengurangi kebiasaan menunda dengan menerapkan aturan sederhana, yaitu mengerjakan tugas yang mudah terlebih dahulu jika membutuhkan waktu singkat atau langsung memulai bagian paling penting ketika tugas membutuhkan konsentrasi lebih besar.
Tidak perlu menunggu waktu yang sempurna untuk mulai mengerjakan tugas karena beberapa menit pertama biasanya merupakan bagian tersulit dari proses tersebut.
Bagi siswa SMP maupun SMA Al Ma’soem, kemampuan mengatur tugas secara mandiri dapat menjadi kebiasaan yang berguna selama menjalani aktivitas sekolah, terutama ketika jumlah mata pelajaran dan tanggung jawab akademik semakin bertambah.
Dengan mencatat tugas, menentukan prioritas, membagi pekerjaan menjadi bagian kecil, memanfaatkan waktu secara bijak, dan tetap memberikan ruang untuk istirahat, siswa dapat menghadapi pekerjaan sekolah secara lebih teratur tanpa harus menunggu semuanya menumpuk terlebih dahulu.