Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kemampuan bertanya sering kali terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menjadi salah satu bagian penting dalam proses belajar anak. Ketika seorang anak berani bertanya, ia sedang menunjukkan bahwa dirinya ingin memahami sesuatu lebih jauh. Pertanyaan juga dapat menjadi tanda bahwa anak sedang menghubungkan informasi yang baru diterimanya dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Sayangnya, tidak semua anak terbiasa menyampaikan pertanyaan ketika berada di kelas. Ada anak yang takut dianggap tidak memahami pelajaran, ada yang malu berbicara di depan teman-temannya, dan ada pula yang sebenarnya memiliki pertanyaan tetapi belum tahu bagaimana cara menyampaikannya. Karena itu, kemampuan bertanya perlu dilatih secara bertahap agar anak memahami bahwa bertanya bukan tanda bahwa dirinya kurang pintar. Justru, pertanyaan yang muncul dari rasa ingin tahu dapat menjadi awal dari proses belajar yang lebih mendalam.
Anak SD memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar terhadap lingkungan di sekitarnya. Mereka dapat mempertanyakan berbagai hal yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari fenomena alam, cara kerja benda, alasan suatu aturan dibuat, hingga hubungan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya. Jika rasa ingin tahu tersebut mendapatkan ruang yang baik, anak dapat berkembang menjadi pembelajar yang aktif.
Bertanya juga membantu anak mengetahui bagian mana yang belum dipahaminya. Dalam pembelajaran matematika misalnya, anak mungkin sudah memahami cara menghitung tetapi belum mengerti mengapa rumus tertentu digunakan. Dalam pelajaran sains, anak bisa saja mengetahui bahwa tumbuhan membutuhkan air, tetapi kemudian penasaran mengapa tanaman yang terlalu banyak air juga dapat mengalami masalah. Pertanyaan seperti ini membuat proses belajar tidak berhenti pada hafalan.
Kebiasaan bertanya juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Anak mulai belajar bahwa sebuah informasi dapat dipahami dengan mencari alasan, bukti, atau penjelasan. Kemampuan tersebut akan semakin berguna ketika anak bertambah besar dan harus menghadapi informasi yang semakin beragam.
Rasa malu merupakan salah satu alasan yang cukup umum. Anak mungkin takut pertanyaannya dianggap mudah oleh teman-teman atau khawatir mendapatkan respons yang membuatnya tidak nyaman. Pada usia SD, penerimaan dari lingkungan sosial juga dapat terasa penting sehingga komentar sederhana dari teman terkadang membuat anak enggan mencoba lagi.
Ada pula anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun pikirannya. Ketika guru bertanya apakah ada yang ingin ditanyakan, anak sebenarnya mungkin sedang mencoba memahami apa yang ingin ia sampaikan. Jika kesempatan terlalu cepat beralih, anak bisa memilih diam meskipun masih memiliki kebingungan.
Karena itu, lingkungan belajar yang aman sangat dibutuhkan. Anak perlu mengetahui bahwa tidak ada kewajiban untuk selalu menghasilkan pertanyaan yang sempurna. Pertanyaan sederhana sekalipun dapat menjadi bagian dari pembelajaran. Guru dan orang tua dapat membantu dengan memberikan respons yang menghargai usaha anak dalam mengungkapkan rasa ingin tahunya.
Kemampuan bertanya dapat dimulai dari percakapan sederhana di rumah. Orang tua tidak harus membuat sesi belajar formal. Ketika sedang memasak, bepergian, menonton tayangan edukatif, atau membaca buku bersama, orang tua dapat mengajak anak memperhatikan sesuatu kemudian membicarakannya.
Anak dapat dibiasakan menggunakan beberapa pola pertanyaan seperti:
Pola tersebut dapat membantu anak memiliki gambaran mengenai cara memulai pertanyaan. Seiring waktu, anak tidak lagi sekadar bertanya karena diminta, tetapi mulai mampu membentuk pertanyaannya sendiri berdasarkan rasa ingin tahu.
Orang tua juga dapat menghindari kebiasaan langsung memberikan jawaban untuk semua pertanyaan. Dalam situasi tertentu, justru menarik apabila anak diajak mencari jawabannya bersama. Misalnya, ketika anak bertanya mengapa bayangan berubah posisi, orang tua dapat mengajaknya mengamati bayangan pada waktu berbeda. Dengan demikian, anak belajar bahwa pertanyaan dapat menjadi awal dari sebuah penyelidikan sederhana.
Di sekolah, guru dapat memberikan kesempatan bertanya dalam berbagai bentuk. Anak yang belum percaya diri berbicara di depan kelas misalnya dapat terlebih dahulu menuliskan pertanyaannya. Pertanyaan tersebut kemudian dapat dibahas bersama. Cara seperti ini dapat menjadi jembatan bagi anak sebelum mereka merasa nyaman berbicara secara langsung.
Guru juga dapat memberikan waktu khusus setelah menjelaskan suatu materi untuk memastikan anak memiliki kesempatan mengolah informasi. Pertanyaan tidak harus selalu muncul secara spontan. Terkadang anak membutuhkan beberapa menit untuk memikirkan kembali materi yang baru diterimanya.
Pembelajaran berbasis aktivitas juga dapat memunculkan lebih banyak pertanyaan secara alami. Ketika anak melakukan percobaan sederhana, mengamati lingkungan, mengerjakan proyek, atau mengikuti kegiatan di luar kelas, mereka memperoleh pengalaman langsung. Pengalaman tersebut dapat memunculkan rasa penasaran yang lebih kuat dibandingkan hanya menerima penjelasan.
Di lingkungan SD Al Ma’soem Bandung, keberadaan kegiatan seperti Sains Club, Math Club, Robotik, Program Days, dan aktivitas di luar kelas dapat menjadi contoh ruang yang memungkinkan anak belajar melalui pengalaman. Kegiatan seperti itu dapat mendorong anak mengamati, mencoba, menemukan masalah, lalu mencari penjelasan berdasarkan apa yang dialaminya.
Respons orang dewasa terhadap pertanyaan anak sangat berpengaruh terhadap kebiasaan mereka di masa berikutnya. Ketika anak mendapatkan respons seperti “masa begitu saja tidak tahu?” atau ditertawakan karena pertanyaannya dianggap sederhana, mereka dapat menjadi lebih berhati-hati untuk bertanya kembali.
Sebaliknya, respons sederhana seperti “menarik, kenapa kamu berpikir begitu?” dapat membuat anak merasa bahwa pemikirannya dihargai. Orang tua atau guru kemudian dapat mengembangkan percakapan berdasarkan pertanyaan tersebut.
Tidak berarti semua pertanyaan harus dijawab dengan panjang. Yang terpenting adalah memberikan ruang agar anak merasa aman untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya. Jika orang dewasa belum mengetahui jawabannya, hal tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mencari informasi bersama. Anak pun belajar bahwa orang dewasa tidak harus mengetahui semua hal dan bahwa mencari jawaban merupakan bagian dari proses belajar.
Aktif bertanya bukan berarti anak boleh berbicara kapan saja tanpa memperhatikan situasi. Anak juga perlu belajar mengenai waktu dan cara menyampaikan pertanyaan dengan sopan. Ketika guru sedang menjelaskan sesuatu, misalnya, anak dapat belajar mengangkat tangan atau menunggu sampai diberikan kesempatan berbicara.
Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa komunikasi membutuhkan dua kemampuan, yaitu menyampaikan pikiran dan mendengarkan orang lain. Anak dapat tetap kritis sekaligus menghargai orang yang sedang berbicara.
Di rumah, orang tua juga dapat memberikan contoh. Ketika anak sedang bercerita, berikan kesempatan kepadanya menyelesaikan cerita sebelum memberikan tanggapan. Dengan melihat pola komunikasi tersebut, anak akan belajar bahwa setiap orang membutuhkan kesempatan untuk berbicara dan didengarkan.
Rasa ingin tahu anak dapat berkembang dari banyak hal di luar buku pelajaran. Pertanyaan tentang lingkungan, makanan, hewan, olahraga, teknologi, pertemanan, bahkan aktivitas sehari-hari dapat menjadi bahan belajar. Orang tua tidak perlu membatasi rasa penasaran anak hanya pada materi sekolah.
Misalnya, ketika anak melihat proses hujan, orang tua dapat mengajaknya membicarakan dari mana air hujan berasal. Ketika anak melihat kendaraan di jalan, ia dapat diajak memperhatikan bagaimana kendaraan dapat bergerak. Ketika anak mengikuti kegiatan olahraga, ia dapat bertanya mengapa tubuh terasa lelah setelah beraktivitas.
Semakin sering anak terbiasa mengamati dan mempertanyakan sesuatu, semakin besar kemungkinan ia membawa kebiasaan tersebut ke dalam pembelajaran formal. Ia tidak hanya menunggu informasi diberikan, tetapi mulai memiliki dorongan untuk mencari tahu.
Kemampuan bertanya pada akhirnya bukan sekadar keterampilan berbicara. Di balik satu pertanyaan terdapat rasa ingin tahu, keberanian, kemampuan mengamati, dan keinginan untuk memahami sesuatu. Ketika sekolah dan keluarga memberikan ruang yang aman bagi anak untuk bertanya, mereka sedang membantu membangun kebiasaan belajar yang dapat terus berkembang hingga jenjang pendidikan berikutnya.