রাজকুমার আর প্রজাপতির পরিবার

Apa Perbedaan Program Ziyadah dan Mutqin dalam Pembelajaran Tahfidz di SMP Al Ma’soem?

Pembelajaran Al-Qur’an menjadi salah satu bagian penting dalam pendidikan di SMP Al Ma’soem. Selain memberikan pembelajaran akademik melalui Kurikulum Holistik, kelas internasional, peminatan olimpiade, dan berbagai kegiatan kokurikuler, SMP Al Ma’soem juga memiliki Program Tahfidz sebagai bagian dari pembinaan keagamaan siswa. Pada Tahun Ajaran 2027–2028, program tersebut secara khusus mencantumkan Ziyadah dan Mutqin sebagai bagian dari Program Tahfidz.

Bagi orang tua yang sedang mencari sekolah untuk putra-putrinya, istilah Ziyadah dan Mutqin mungkin menimbulkan pertanyaan. Apa sebenarnya perbedaan keduanya? Mengapa keduanya menjadi bagian dari pembelajaran Tahfidz? Dan bagaimana kedua pendekatan tersebut dapat mendukung proses siswa dalam menghafal Al-Qur’an?

Untuk memahami hal tersebut, penting melihat posisi Program Tahfidz di SMP Al Ma’soem secara keseluruhan. Berdasarkan informasi sekolah, program Tahfidz dan ibadah memiliki target minimal 3 juz, disertai dengan pelaksanaan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama. Dengan demikian, pembelajaran Tahfidz tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas menghafal, tetapi menjadi bagian dari pembiasaan keagamaan siswa selama menjalani pendidikan di sekolah.

Mengenal Program Ziyadah dalam Pembelajaran Tahfidz

Secara umum dalam pembelajaran Tahfidz, istilah ziyadah berkaitan dengan proses menambah hafalan Al-Qur’an. Ziyadah dapat dipahami sebagai kegiatan ketika siswa mempelajari dan menghafalkan ayat atau bagian Al-Qur’an yang baru sehingga jumlah hafalannya terus bertambah.

Dalam konteks Program Tahfidz SMP Al Ma’soem, Ziyadah menjadi salah satu bagian dari sistem pembelajaran Tahfidz yang tercantum secara langsung dalam informasi penerimaan siswa Tahun Ajaran 2027–2028.

Proses penambahan hafalan tentu membutuhkan kedisiplinan. Siswa perlu membangun kebiasaan untuk membaca, mengulang, dan menghafalkan ayat secara rutin. Dengan adanya proses ziyadah, siswa diarahkan untuk terus mengalami perkembangan dalam jumlah hafalan yang dikuasainya.

Target minimal 3 juz yang dicantumkan SMP Al Ma’soem juga menunjukkan bahwa proses Tahfidz memiliki capaian yang ingin dibangun selama pendidikan. Namun, pencapaian jumlah hafalan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Hafalan yang sudah diperoleh juga membutuhkan proses penguatan agar tetap terjaga.

Di sinilah konsep Mutqin memiliki peran penting.

Apa yang Dimaksud dengan Mutqin?

Berbeda dengan ziyadah yang berfokus pada penambahan hafalan baru, mutqin secara umum berkaitan dengan penguatan dan pemantapan hafalan yang telah dimiliki.

Siswa yang sudah menghafalkan sejumlah ayat atau juz tidak cukup hanya melanjutkan ke hafalan berikutnya. Hafalan yang sudah diperoleh perlu terus diulang agar semakin kuat dan tidak mudah terlupakan. Proses pemantapan inilah yang menjadi bagian penting dari konsep mutqin.

Dengan demikian, pembelajaran Tahfidz yang mencantumkan Ziyadah dan Mutqin memiliki dua sisi yang saling melengkapi. Ziyadah membantu siswa menambah hafalan, sedangkan Mutqin membantu siswa menjaga dan memperkuat hafalan yang sudah dimiliki.

Jika hanya berfokus pada penambahan hafalan, siswa mungkin dapat mencapai jumlah hafalan tertentu tetapi tetap membutuhkan penguatan terhadap hafalan sebelumnya. Sebaliknya, jika hanya melakukan pengulangan tanpa menambah hafalan baru, perkembangan jumlah hafalan akan berjalan lebih lambat. Karena itu, keseimbangan antara penambahan dan pemantapan menjadi bagian penting dalam pembelajaran Tahfidz.

Perbedaan Ziyadah dan Mutqin

Secara sederhana, perbedaan kedua program tersebut dapat dilihat dari tujuan kegiatannya.

Ziyadah berorientasi pada hafalan baru, sedangkan Mutqin berorientasi pada pemantapan hafalan yang telah dipelajari.

Ziyadah dapat diibaratkan sebagai proses membangun hafalan secara bertahap. Siswa mempelajari bagian Al-Qur’an yang baru dan menambahkannya ke dalam hafalan yang sudah ada.

Sementara itu, Mutqin berfungsi seperti proses memperkuat fondasi. Hafalan yang sebelumnya sudah dipelajari diulang kembali sehingga siswa semakin terbiasa dengan ayat-ayat yang telah dihafalkan.

Keduanya bukan dua program yang saling terpisah, melainkan dapat dipandang sebagai bagian yang saling mendukung dalam perjalanan Tahfidz. Siswa tidak hanya diarahkan untuk memiliki hafalan yang semakin banyak, tetapi juga menjaga hafalan tersebut agar tetap kuat.

Tahfidz sebagai Bagian dari Pembelajaran Pesantren

Program Tahfidz di SMP Al Ma’soem juga berada dalam lingkungan pembelajaran pesantren. Materi pembelajaran pesantren yang tercantum dalam informasi sekolah meliputi Al-Qur’an Tajwid, Tahfidz, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran Tahfidz ditempatkan bersama sejumlah pembelajaran keagamaan lainnya. Dengan adanya pembelajaran Al-Qur’an dan Tajwid, misalnya, siswa tidak hanya berhadapan dengan kegiatan menghafal, tetapi juga mendapatkan pembelajaran yang berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an.

Lingkungan seperti ini dapat mendukung pembentukan kebiasaan keagamaan siswa. SMP Al Ma’soem juga mencantumkan shalat wajib berjamaah dan Dhuha bersama sebagai bagian dari program Tahfidz dan ibadah.

Dengan demikian, kegiatan Tahfidz menjadi bagian dari lingkungan pendidikan yang lebih luas, bukan kegiatan yang berdiri sendiri.

Bagaimana Ziyadah dan Mutqin Saling Melengkapi?

Bayangkan seorang siswa mulai menghafalkan Al-Qur’an dari juz pertama. Ketika siswa berhasil menghafalkan bagian baru, proses tersebut merupakan bagian dari ziyadah. Namun, setelah hafalan bertambah, siswa tetap perlu mengulang hafalan sebelumnya agar tidak hilang atau melemah.

Pengulangan dan pemantapan hafalan tersebut menjadi bagian dari konsep mutqin.

Dari sini dapat terlihat bahwa perjalanan Tahfidz memiliki dua kebutuhan utama. Pertama, siswa membutuhkan perkembangan, yaitu bertambahnya hafalan. Kedua, siswa membutuhkan pemeliharaan, yaitu menjaga hafalan yang sudah diperoleh.

Ziyadah memenuhi kebutuhan perkembangan tersebut, sementara Mutqin membantu memenuhi kebutuhan pemeliharaan hafalan.

Kombinasi keduanya juga relevan dengan target Program Tahfidz SMP Al Ma’soem yang menetapkan minimal 3 juz. Target tersebut tidak hanya perlu dilihat dari jumlah juz yang berhasil dicapai, tetapi juga dari proses siswa dalam menjaga hafalannya.

Mendukung Karakter CAGEUR, BAGEUR, dan PINTER

Pembelajaran Tahfidz di SMP Al Ma’soem juga berada dalam visi pembentukan generasi CAGEUR, BAGEUR, dan PINTER. CAGEUR dijelaskan sebagai takwa, disiplin, dan tangguh; BAGEUR sebagai akhlak, jujur, dan manfaat; sedangkan PINTER sebagai cerdas, adaptif, dan mandiri.

Jika dikaitkan dengan proses Tahfidz, kegiatan menghafal dan menjaga hafalan membutuhkan konsistensi serta kedisiplinan. Siswa perlu membiasakan diri untuk belajar secara teratur dan bertanggung jawab terhadap hafalan yang sedang dipelajarinya.

Ziyadah dapat memberikan pengalaman kepada siswa untuk terus berkembang dan menambah hafalan. Sementara itu, Mutqin mengajarkan pentingnya menjaga sesuatu yang telah diperoleh melalui proses pengulangan dan pemantapan.

Karena itu, pembelajaran Tahfidz dapat berjalan sejalan dengan pembentukan karakter yang menjadi bagian dari identitas pendidikan SMP Al Ma’soem.

Dukungan Lingkungan Pendidikan

SMP Al Ma’soem menerapkan sistem Full Day & Boarding School serta menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan pendidikan dan pesantren. Fasilitas yang tercantum antara lain masjid, dome, ruang konselor, ruang seminar, ruang multimedia, reading corner, sarana olahraga, laboratorium, serta fasilitas lainnya.

Untuk siswa boarding, tersedia pula fasilitas pesantren seperti pondok putra dan putri yang terpisah, kamar berkapasitas 4–6 orang dengan kamar mandi di dalam, laundry dan catering, aula, keamanan 24 jam, CCTV, internet, sistem informasi santri berbasis Android, minimarket, dan fasilitas olahraga.

Lingkungan tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mendukung kegiatan belajar siswa, termasuk pembelajaran pesantren dan Tahfidz.

Jadi, perbedaan utama Program Ziyadah dan Mutqin dalam pembelajaran Tahfidz di SMP Al Ma’soem terletak pada fokus kegiatannya. Ziyadah berkaitan dengan proses menambah hafalan baru, sedangkan Mutqin berkaitan dengan memantapkan dan menjaga hafalan yang telah dimiliki.

Keduanya dapat berjalan secara beriringan. Siswa tidak hanya diarahkan untuk terus menambah hafalan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperkuat hafalan yang telah dipelajari. Hal ini menjadi penting karena Program Tahfidz SMP Al Ma’soem menetapkan target minimal 3 juz dan menjadi bagian dari pembelajaran serta pembiasaan ibadah di sekolah.

Dengan memasukkan Ziyadah dan Mutqin dalam Program Tahfidz, SMP Al Ma’soem memberikan kerangka pembelajaran yang mencakup dua aspek penting dalam menghafal Al-Qur’an: menambah hafalan dan mempertahankan hafalan. Program tersebut juga ditempatkan dalam pembelajaran pesantren yang mencakup Al-Qur’an Tajwid, Tahfidz, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab.

Pada akhirnya, proses Tahfidz bukan hanya mengenai seberapa banyak ayat atau juz yang dapat dihafalkan. Konsistensi dalam belajar, kedisiplinan dalam mengulang, serta upaya menjaga hafalan menjadi bagian penting dari perjalanan seorang siswa dalam mempelajari Al-Qur’an. Melalui perpaduan Ziyadah dan Mutqin, pembelajaran Tahfidz di SMP Al Ma’soem diarahkan untuk mendukung proses tersebut dalam lingkungan pendidikan yang menggabungkan pembelajaran umum, keagamaan, dan pembentukan karakter.