Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting bagi peserta didik. Bahasa Inggris tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengakses informasi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, dan mempersiapkan diri menghadapi lingkungan pendidikan yang lebih luas. Karena itu, sekolah dapat memberikan ruang pembelajaran bahasa Inggris melalui berbagai pendekatan, mulai dari pembelajaran reguler hingga program yang memberikan perhatian lebih besar terhadap kemampuan atau English proficiency.
Di lingkungan pendidikan Al Ma’soem, terdapat sejumlah program yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan bahasa dan wawasan internasional. Pada jenjang SMA, misalnya, program sekolah mencantumkan Kelas Internasional dan Native Teacher, selain Kurikulum Merdeka, kelas interaktif, dan Program Sukses PTN. Sementara itu, pada jenjang SMP terdapat Kelas Internasional, English Day, serta fasilitas laboratorium Bahasa sebagai bagian dari lingkungan pembelajaran siswa.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan fokus English proficiency dengan pembelajaran reguler?
Secara umum, istilah English proficiency berkaitan dengan tingkat kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa Inggris. Fokusnya bukan hanya mengetahui teori bahasa, tetapi juga bagaimana bahasa tersebut digunakan dalam berbagai situasi. Dalam konteks sekolah, pendekatan yang berorientasi pada English proficiency dapat dipahami sebagai pembelajaran yang memberikan perhatian lebih terhadap kemampuan siswa dalam memahami dan menggunakan bahasa Inggris.
Pada program Al Ma’soem, adanya Kelas Internasional dan Native Teacher menunjukkan bahwa sekolah menyediakan unsur pembelajaran yang memberikan pengalaman berbeda dalam penggunaan bahasa Inggris. Kehadiran native teacher dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar yang memperkenalkan siswa pada penggunaan bahasa Inggris secara lebih langsung.
Sementara pada jenjang SMP, terdapat English Day yang menjadi salah satu kegiatan kokurikuler bersama berbagai kegiatan lain seperti Math Day, Cooking Day, Sains Day, Sport Day, Career Day, dan Bulan Bahasa. Dalam materi brosur, English Day juga tercantum secara khusus sebagai salah satu kegiatan yang diberikan kepada siswa.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bahasa Inggris tidak hanya ditempatkan pada pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga dapat dihadirkan melalui kegiatan tertentu yang membuat siswa memperoleh pengalaman menggunakan atau berinteraksi dengan bahasa Inggris.
Berbeda dengan fokus English proficiency, pembelajaran reguler memiliki cakupan pendidikan yang lebih luas. Tujuan utamanya tidak hanya mengembangkan satu kemampuan bahasa, tetapi memberikan pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan program pendidikan sekolah.
Pada SMA Al Ma’soem, pembelajaran diselenggarakan dengan Kurikulum Merdeka dan didukung oleh kelas interaktif serta berbagai program pendidikan lainnya. Sekolah juga memiliki Program Sukses PTN, yang menunjukkan adanya perhatian terhadap persiapan akademik siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pembelajaran reguler juga berjalan berdampingan dengan berbagai kegiatan pembentukan karakter. Al Ma’soem menempatkan pembentukan generasi melalui konsep CAGEUR, BAGEUR, dan PINTER. CAGEUR mencakup takwa, disiplin, dan tangguh; BAGEUR mencakup akhlak, jujur, dan manfaat; sedangkan PINTER mencakup cerdas, adaptif, dan mandiri.
Dengan demikian, pembelajaran reguler tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik. Siswa juga mendapatkan berbagai kegiatan pendukung, seperti ekstrakurikuler, olahraga, kegiatan keagamaan, serta kegiatan lain yang dirancang untuk mendukung perkembangan siswa secara lebih menyeluruh.
Jika disederhanakan, perbedaan utama antara fokus English proficiency dan pembelajaran reguler terletak pada titik penekanannya.
Pendekatan English proficiency lebih berorientasi pada pengembangan kemampuan menggunakan bahasa Inggris. Sementara itu, pembelajaran reguler mencakup berbagai bidang pembelajaran dan pengembangan siswa secara lebih luas sesuai dengan program sekolah.
Sebagai contoh, siswa yang mengikuti kegiatan seperti English Day mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan bahasa Inggris melalui kegiatan khusus. Pada jenjang SMP Al Ma’soem, English Day menjadi bagian dari 10 kegiatan kokurikuler yang tersedia. Artinya, bahasa Inggris dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih kontekstual, bukan hanya materi yang dipelajari melalui teori.
Di sisi lain, pembelajaran reguler tetap memberikan ruang bagi siswa untuk mempelajari berbagai kompetensi lain. Sekolah menyediakan laboratorium Komputer, Biologi, Fisika, Kimia, dan Bahasa, ruang multimedia, reading corner, sarana olahraga, ruang seminar, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Penting untuk memahami bahwa memberikan perhatian lebih terhadap kemampuan bahasa Inggris bukan berarti mengurangi pentingnya pembelajaran reguler. Keduanya dapat saling melengkapi.
Kemampuan bahasa Inggris dapat menjadi salah satu keterampilan pendukung dalam proses pendidikan. Sementara pembelajaran reguler memberikan dasar pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas. Dengan kombinasi keduanya, siswa dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus keterampilan bahasa.
Pada SMA Al Ma’soem, misalnya, tes masuk mencakup Tes Bahasa Inggris bersama Psikotes, Tes Potensi Akademik, Tes Baca Al-Qur’an, dan wawancara. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam proses penerimaan siswa, meskipun pendidikan sekolah secara keseluruhan tetap mencakup berbagai aspek lainnya.
Pada jenjang SMP, Tes Bahasa Inggris juga tercantum dalam rangkaian tes masuk bersama Psikotes, Tes Potensi Akademik, Tes Baca Al-Qur’an, dan wawancara.
Pengembangan kemampuan bahasa juga didukung oleh fasilitas yang tersedia. Al Ma’soem mencantumkan laboratorium Bahasa sebagai salah satu fasilitas bersama laboratorium Komputer, Biologi, Fisika, dan Kimia.
Keberadaan fasilitas tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk memperoleh pengalaman belajar dengan dukungan sarana yang sesuai. Selain itu, fasilitas seperti ruang multimedia, studio mini dan podcast, serta reading corner juga dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar yang mendukung aktivitas siswa.
Pada jenjang SMP, fasilitas yang serupa juga tersedia, termasuk laboratorium Bahasa, ruang multimedia, studio mini dan podcast, serta reading corner.
Pembelajaran bahasa Inggris pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Di Al Ma’soem, pendidikan juga terintegrasi dengan pembentukan karakter, kegiatan keagamaan, ekstrakurikuler, dan kegiatan kokurikuler.
Pada SMP, misalnya, program Tahfidz dan ibadah menjadi bagian dari kegiatan sekolah, sementara English Day berjalan bersama berbagai kegiatan lainnya. Pada SMA, sekolah juga memiliki pembelajaran pesantren yang mencakup Al-Qur’an Tajwid, Tahfidz, Kitab Kuning, Fiqih Ibadah, Aqidah Akhlaq, dan Bahasa Arab.
Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan bahasa Inggris ditempatkan dalam lingkungan pendidikan yang lebih luas. Siswa tidak hanya diarahkan untuk memperoleh kemampuan akademik, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang memiliki nilai keagamaan, kedisiplinan, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi.
Jadi, perbedaan fokus English proficiency dan pembelajaran reguler terletak pada tujuan dan titik perhatian pembelajarannya. Fokus English proficiency lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan bahasa Inggris dan penggunaannya dalam pengalaman belajar. Sementara pembelajaran reguler memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup berbagai bidang akademik, pembentukan karakter, kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, serta program pendukung pendidikan lainnya.
Dalam program Al Ma’soem, keduanya dapat berjalan berdampingan. Adanya Kelas Internasional, Native Teacher, English Day, tes Bahasa Inggris, dan laboratorium Bahasa memberikan ruang bagi pengembangan kemampuan bahasa Inggris. Di sisi lain, Kurikulum Merdeka, program akademik, kegiatan keagamaan, ekstrakurikuler, dan pembentukan karakter tetap menjadi bagian dari sistem pendidikan secara keseluruhan.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran bahasa Inggris dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman pendidikan siswa tanpa menghilangkan tujuan pendidikan yang lebih luas. Siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bahasa sekaligus membangun karakter, kemampuan akademik, kemandirian, serta keterampilan yang mendukung persiapan mereka menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.