Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kehidupan siswa tidak hanya diisi dengan kegiatan belajar di dalam kelas karena setelah jam pelajaran selesai masih ada tugas, kegiatan ekstrakurikuler, organisasi, pekerjaan rumah, waktu bersama keluarga, hingga kebutuhan untuk beristirahat, sehingga anak perlu belajar menentukan mana aktivitas yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
Tanpa kemampuan menentukan prioritas, siswa dapat merasa semua kegiatan memiliki tingkat kepentingan yang sama dan akhirnya mengerjakan sesuatu secara terburu-buru ketika batas waktunya sudah dekat, sementara pekerjaan lain yang sebenarnya lebih penting justru tertunda karena perhatian terlalu banyak terbagi.
Kemampuan membuat prioritas juga bukan berarti anak harus selalu sibuk sepanjang hari karena salah satu bagian dari menentukan prioritas adalah memahami bahwa istirahat, tidur, makan, dan waktu untuk diri sendiri juga memiliki tempat penting dalam jadwal kehidupan sehari-hari.
Prioritas adalah kemampuan menentukan sesuatu berdasarkan tingkat kepentingan, kebutuhan, dan batas waktu, sehingga seseorang tidak hanya mengerjakan kegiatan berdasarkan hal yang paling menarik atau paling mudah dilakukan.
Bagi siswa, menentukan prioritas dapat dimulai dari hal sederhana seperti memilih menyelesaikan tugas yang dikumpulkan besok sebelum menghabiskan waktu untuk aktivitas yang batas waktunya masih beberapa hari kemudian, sehingga pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan tidak menumpuk.
Kebiasaan tersebut akan membantu anak memahami bahwa tidak semua hal harus dikerjakan secara bersamaan karena fokus terhadap beberapa hal yang paling penting terlebih dahulu justru dapat membuat pekerjaan menjadi lebih teratur.
Anak sekolah masih berada dalam tahap belajar mengatur dirinya sendiri sehingga wajar jika mereka terkadang memilih aktivitas berdasarkan apa yang paling menyenangkan dibandingkan apa yang paling membutuhkan perhatian.
Tugas yang sulit misalnya dapat sengaja ditunda karena siswa merasa lebih nyaman mengerjakan pekerjaan yang mudah, padahal semakin lama ditunda, semakin besar kemungkinan tugas tersebut dikerjakan dalam kondisi terburu-buru dan hasilnya tidak maksimal.
Gangguan dari perangkat digital juga dapat membuat proses menentukan prioritas menjadi lebih sulit karena notifikasi, permainan, media sosial, atau video pendek dapat membuat siswa kehilangan banyak waktu tanpa menyadari bahwa ada pekerjaan lain yang seharusnya diselesaikan.
Siswa dapat menggunakan beberapa pertanyaan sederhana untuk menentukan kegiatan mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih dahulu, seperti:
Dengan pertanyaan sederhana tersebut, siswa dapat mulai membedakan antara sesuatu yang memang penting dan sesuatu yang hanya terasa mendesak karena baru diingat ketika waktunya sudah hampir habis.
Salah satu cara sederhana yang dapat digunakan siswa adalah membuat daftar aktivitas yang perlu dilakukan dalam satu hari atau satu minggu, terutama ketika jumlah tugas dan kegiatan sekolah sedang cukup banyak.
Daftar tersebut tidak perlu dibuat terlalu rumit karena siswa cukup menuliskan tugas, kegiatan, atau tanggung jawab yang perlu diselesaikan kemudian memberikan urutan berdasarkan tingkat kepentingannya.
Contohnya, seorang siswa dapat membuat urutan seperti berikut:
Urutan tersebut tentu dapat berubah sesuai kondisi, tetapi kebiasaan menuliskan prioritas membuat siswa lebih mudah melihat keseluruhan aktivitas daripada hanya mengandalkan ingatan.
Menunda pekerjaan sering kali terjadi bukan karena siswa tidak mampu mengerjakannya, tetapi karena anak merasa bingung harus memulai dari mana ketika melihat banyak tugas sekaligus.
Dengan menentukan satu pekerjaan utama kemudian memecahnya menjadi beberapa langkah kecil, tugas yang awalnya terlihat berat dapat menjadi lebih mudah dimulai karena siswa tidak lagi menghadapi pekerjaan tersebut sebagai satu beban besar.
Misalnya, tugas membuat presentasi dapat dibagi menjadi mencari informasi, menentukan struktur materi, membuat slide, memeriksa isi, kemudian berlatih menyampaikan presentasi, sehingga setiap bagian dapat dikerjakan secara bertahap tanpa harus menunggu sampai malam sebelum jadwal presentasi.
Siswa juga perlu memahami bahwa sesuatu yang mendesak belum tentu selalu menjadi hal yang paling penting, begitu pula sesuatu yang penting tidak selalu harus dikerjakan pada menit terakhir.
Tugas yang dikumpulkan besok mungkin bersifat mendesak sekaligus penting, sedangkan belajar untuk ujian minggu depan mungkin sangat penting tetapi belum mendesak, sehingga siswa tetap perlu menyediakan waktu untuknya agar tidak berubah menjadi pekerjaan yang mendesak ketika hari ujian semakin dekat.
Pemahaman ini dapat membantu anak mengembangkan kebiasaan mempersiapkan sesuatu lebih awal, sehingga mereka tidak terus-menerus berada dalam kondisi mengejar batas waktu.
Kemampuan membuat prioritas tidak seharusnya membuat siswa mengisi seluruh waktunya dengan tugas karena tubuh dan pikiran juga membutuhkan kesempatan untuk beristirahat agar dapat berfungsi dengan baik.
Siswa perlu memasukkan tidur yang cukup, waktu makan, aktivitas fisik, serta waktu santai ke dalam pola kesehariannya karena memaksakan terlalu banyak aktivitas dapat membuat anak kelelahan dan justru kesulitan berkonsentrasi ketika belajar.
Dengan demikian, membuat prioritas bukan hanya tentang menentukan pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi juga belajar mengetahui kapan seseorang perlu berhenti sejenak agar dapat kembali menjalankan aktivitas dengan kondisi yang lebih baik.
Siswa yang mengikuti banyak kegiatan sekolah dapat memperoleh pengalaman yang luas, tetapi semakin banyak aktivitas yang dijalani, semakin penting pula kemampuan menentukan prioritas agar tanggung jawab tidak saling bertabrakan.
Ketika jadwal latihan ekstrakurikuler berdekatan dengan tugas kelompok atau persiapan ujian, siswa perlu melihat keseluruhan jadwal kemudian menentukan kapan setiap pekerjaan harus diselesaikan, bukan baru memikirkannya ketika semua kegiatan sudah berlangsung bersamaan.
Pengalaman seperti ini sebenarnya dapat menjadi latihan manajemen kehidupan yang sangat bermanfaat karena anak belajar bahwa memiliki banyak kesempatan tidak berarti harus mengambil semuanya sekaligus.
Sekolah dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan ini melalui berbagai kegiatan yang membutuhkan perencanaan, seperti proyek kelompok, tugas jangka panjang, kegiatan organisasi, perlombaan, maupun persiapan acara sekolah.
Guru dapat memberikan tugas dengan tahapan tertentu agar siswa belajar mengatur proses pengerjaan sejak awal, bukan hanya mengejar hasil akhir ketika batas pengumpulan sudah semakin dekat.
Dalam lingkungan sekolah seperti Al Ma’soem yang memiliki kegiatan akademik dan nonakademik yang beragam, kemampuan mengatur prioritas dapat menjadi salah satu keterampilan penting agar siswa dapat mengikuti berbagai kesempatan pengembangan diri tanpa mengabaikan tanggung jawab utamanya sebagai pelajar.
Orang tua tentu dapat memberikan arahan, tetapi anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk menentukan sebagian prioritasnya sendiri agar kemampuan tersebut benar-benar berkembang menjadi kebiasaan pribadi.
Daripada selalu mengatakan apa yang harus dilakukan dari pagi sampai malam, orang tua dapat mengajak anak membicarakan tugas apa yang harus diselesaikan, kegiatan apa yang akan dilakukan, dan bagaimana pembagian waktunya, kemudian memberikan ruang kepada anak untuk mencoba menjalankan rencana tersebut.
Jika ternyata rencana tidak berjalan sesuai harapan, pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bersama agar anak memahami apa yang perlu diperbaiki pada hari atau minggu berikutnya.
Kemampuan menentukan prioritas mungkin terlihat sebagai keterampilan sederhana, tetapi kebiasaan ini dapat membantu siswa menghadapi kehidupan sekolah dengan lebih terarah karena anak mulai memahami bahwa waktu, tenaga, dan perhatian merupakan sumber daya yang perlu digunakan secara bijaksana.
Siswa yang terbiasa menentukan prioritas juga dapat menjadi lebih sadar terhadap tanggung jawabnya sendiri karena ia tidak hanya menunggu instruksi dari guru atau orang tua, tetapi mulai mengambil keputusan mengenai pekerjaan mana yang perlu diselesaikan dan kapan harus dilakukan.
Pada akhirnya, kemampuan tersebut dapat menjadi bekal jangka panjang karena setelah meninggalkan bangku sekolah, seseorang tetap akan berhadapan dengan banyak pilihan, tanggung jawab, dan kegiatan yang harus dijalankan secara bersamaan, sehingga kemampuan menentukan apa yang paling penting sejak usia sekolah dapat membantu anak menghadapi berbagai situasi dengan lebih tenang dan terarah.