Mushaf Al Qur'an

Al-Qur’an Menjadikan Manusia Istimewa Dunia Dan Akhirat

Aam Syamsiah, S.Ag

Al-Qur’an merupakan pedoman umat Islam yang menjadi sumber paling akurat dan tidak pernah berubah dari satu masa ke masa yang lain. Pada masa Rasulullah Al-Qur’an dihafal dan tertanam dalam dirinya, terpancar pada amalnya bahkan Rasulullah termasuk orang yang berakhlak Al-Qur’an.

Banyak orang yang berusaha bahkan mengupayakan untuk mengumpulkan para penghafal al-Qur’an untuk bisa memuliakannya. Orang yang mampu menghafalkan Al-Qur’an bahkan sampai mengamalkannya maka Allah akan memuliakan dirinya dengan berbagai kenikmatan dan kemudahan di dunia dan di akhirat.

Pada masa sekarang banyak sekolah dengan program tahfidz sebagai keunggulan sekolah tersebut, salah satunya di Yayasan Al-Ma’soem Bandung baik sekolahnya maupun pesantrennya. Yayasan memberikan keistimewaan untuk para penghafal Qur’an dengan memberikan beasiswa bagi santri dan siswa yang memiliki hafalan mulai dari 1 juz sampai juz-juz berikutnya. Santri yang menyelesaikan test 1 juz mendapat potongan uang DAFT(Dana Fasilitas Anggaran Tahunan), untuk siswa tingkat SMP yang mampu menghafalkan 2 juz dan mampu mempertahankannya, mendapatkan beasiswa bebas DOP (Dana Operasional Pendidikan) sekolah, dan untuk siswa tingkat SMA sebanyak 3 juz. Bagi siswa yang bertumpuk prestasi bukan lagi membayar sekolah tapi sekolah yang memberikan reward sampai bisa punya tabungan yang bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain.

Dalam program tahfidz khususnya di Pesantren Siswa Al Ma’soem (PSAM), santri diujikan hafalnnya dengan cara sema’an (membaca dengan diperdengarkan) juz yang sudah dihafalnya dari awal sampai akhir, dinyatakan lulus dalam 1 juz dengan standar 6 kali kesalahan, baru santri dinyatakan lulus, ketika lebih dari enam kali kesalahan maka test dianggap belum lulus. Begitupun dengan juz-juz selanjutnya berlaku kelipatan.

Hafidz Al Masoem

Setelah lulus test juz baru, ada lagi program mempertahankan, program ini memiliki prosedur yang cukup memberikan semangat muroja’ah alias mengulang hafalan bagi santri yang sudah lulus test juz baru, santri dalam mempertahankan akan diberikan 9 pertanyaan dari setiap juznya, mulai dari meneruskan ayat, tebak surat, melanjutkan ujung ayat ke surat selanjutnya, dan membacakan surat yang dipilih oleh penguji. Hal ini sangat membantu para santri untuk lebih memperhatikan hafalnnya agar terus murojaah hafalannya dan ini terbukti ketika saya bertanya pada beberapa santri mengenai program ini, salah satu penuturan santri putri : “saya jadi makin hafal, bisa sadar kalau kita harus banyak muroja’ah, sadar juga kayak ‘oh aku masih kurang nih di bagian surat ini, harus nambah lagi di murojaahnya karna (misal) lupa ayat selanjutnya atau duh ini surat yang mana yah?’ dengan adanya mempertahankan ini juga saya jadi tahu sudah ada di level manakah hafalan saya, naik ataukah turun dari test-test sebelumnya.”

Dengan demikian semangat menghafal menjadi terdorong dan ingin lebih meningkatkan lagi kualitas dari hafalan tersebut dan tidak ingin sampai hilang apa yang sudah dihafalnya terlebih lagi ada jaminan bagi orang yang menghafalkan Al-Qur’an akan mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah sebagaimana dalam kutipan hadits “Telah berkata kepada kami Abu Bakr Abdullah bin Muhammad bin Abdul Hamid Al-Wasithi, dia berkata, telah berkata kepada kami Ziyad bin Ayub, dia berkata, Abu Ubaidah Al-Haddad, dia berkata, telah berkata kepada kami Abdurrahman bin Budail dari bapaknya dari Anas bin Malik dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.’ Para sahabat bertanya ‘Siapakah mereka Ya Rasulullah?’ Rasulullah SAW. menjawab, ‘Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah sekaligus hamba pilihannya.” Ahlul Qur’an yang dimaksud adalah hafal Qur’an baik sebagian atau seluruhnya, kemudian memahami dan mengamalkannya.

Maka ada niat yang harus diluruskan ketika memulai menghafalkan Al-Qur’an yaitu senantiasa menghafal dengan maksud ingin mendapat keridhoan Allah, ingin mendapatkan kasih sayang Allah dan juga ingin menjadi hamba Allah yang menjadi pilihan-Nya kelak di akhirat. Ketika kita menghafalkan Al-Qur’an dengan kesungguhan hati maka ada rasa sedih saat kita kehilangan hafalan tersebut. Sebagaimana penuturan salah satu santri putra: “kalau sampai hafalannya lupa , rasanya suka mau nangis, tapi harus sabar, kita husnudzon (berbaik sangka) saja, mungkin Allah sangat menguji.” Nah pelihat penuturan ini kita harus mampu menghitung jangan-jangan ada dosa yang membuat hafalan kita hilang, atau ada faktor lain yang Allah ingin kita lebih sering untuk membacanya lagi. Disitulah letak dimana kita harus senantiasa muhasabah diri sudah pada taraf mana kita menjauhi suatu kemaksiatan, sudah sejauh mana kita mampu terus memurojaah hafalan, adakah niat yang salah saat kita membacanya, adakah kesombongan saat kita sudah memiliki banyak hafalan dibandingkan dengan orang lain, karena pada hakikatnya menghafal itu bukan ajang untuk menyombongkan diri melainkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah karena kita akan lebih sering membacanya.

Setelah kita mampu menghafalkan dan terus menerus membacanya maka ada lagi yang harus diperhatikan yaitu mengamalkan isi Al-Qur’an, yang mana Al-Qur’an mengandung unsur-unsur yang mengatur tentang kehidupan manusia, banyak juga kisah teladan yang patut kita teladani, kemudian hukum yang mengatur alur kehidupan kita agar adil dan seimbang, dan lagi Al-Qur’an jadi ayat pengobat hati dan jiwa dan menentramkan kehidupan kita, maka disitulah kita mesti belajar memahami isi Al-Qur’an sampai mampu untuk mengamalkannya. Sampai pada akhirnya saat kita memuliakan Al-Qur’an dengan, membaca, menghafal dan mengamalkannya maka Allah akan balik memuliakan kita baik di dunia maupun di Akhirat dengan cara yang Allah kehendaki.