Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَكَيْفَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ بِۢمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ ثُمَّ جَآءُوْكَ يَحْلِفُوْنَ ۖ بِا للّٰهِ اِنْ اَرَدْنَاۤ اِلَّاۤ اِحْسَا نًـا وَّتَوْفِيْقًا
“Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah menimpa mereka (orang munafik) disebabkan perbuatan tangannya sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad) sambil bersumpah, Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 62)
Pada saat musibah, bersumpah…kami sekali kali tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian.
Pada saat ditimpa musibah, ingat kepada Allah.
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus 10:12).
Musibah merupakan takdir yang diberikan Allah SWT untuk menguji kesabaran manusia sekaligus untuk mengingatkan kita bahwa Allah-lah yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Musibah tidak mengenal tua atau muda, laki-laki atau perempuan, berdosa sedikit atau banyak, karena Allah memberikan musibah kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mengetahui sejauh mana manusia itu mencintai Allah SWT. Manusia memang tidak akan lepas dari dosa contohnya adalah ketika mereka ditimpa musibah, sangat sedikit dari mereka yang bersabar dan jarang beryukur ketika diberi nikmat.
Orang yang ditimpa musibah, mereka berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT akan mengangkat musibah tersebut tidak peduli dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Namun ketika Allah SWT sudah menghilangkan musibah yang melilitnya, mereka sombong dan kembali pada jalan yang sesat seakan-akan lupa bahwa Allah-lah yang menjadikan urusannya mudah.
Jangan mengingat Allah SWT hanya ketika susah saja. Namun, sejatinya hal itu tidak lepas dari kehidupan sehari-hari, sayangnya kita lebih memilih bungkam dan hidup suka-suka di atas bumi. Ingatlah Allah SWT dalam setiap kondisi seperti bahagia, sedih, gelisah, marah, kecewa dan lainnya. Perbanyak mengingat Allah dengan berzikir dan doa, karena itu adalah salah satu bentuk penghambaan kita kepada Allah serta pengingat bahwa kita tidak layak berlaku sombong. Sungguh kebesaran hanya milik Allah SWT.
Karakter dasar manusia. Memperoleh nikmat (setelah hilangnya kemalangan) justru dia lalai dengan nikmat yang diberikan. Tapi tidak semua seperti itu, orang yang terselamatkan dari sifat keburukan itu adalah yang memperbanyak berzikir kepada Allah.
Seorang Muslim ketika ditimpa musibah seharusnya bersabar, dan mengingat-ingat nikmat yang telah Allah SWT berikan. Memperbanyak berzikir kepada Allah. Dam setelah hilangnya musibah dan kemalangan, tetap memelihara rasa bersyukur dan zikir.
Karakter jelek lainnya, pada saat diberi kesenangan, menganggap Allah memuliakannya,
فَاَ مَّا الْاِ نْسَا نُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَ كْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ
“Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 15)
Dan pada saat mengalami keterbatasan rejeki, Allah menganggap telah menghinanya.
وَاَ مَّاۤ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَهَا نَنِ
“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Tuhanku telah menghinaku.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 16)
Semoga kita bersyukur apabila mendapatkan kesenangan dan bersabar pada saat mendapatkan musibah.