Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Attitude lebih baik dari hardskill
Attitude adalah sikap, perilaku, atau tingkah laku seseorang dalam melakukan interaksi dengan orang lain yang disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap tersebut. Dalam dunia kerja, attitude jauh lebih baik dari pada hardskill karena sopan santun dan ramah tamah dari seseorang jauh lebih bisa menutupi kekurangan pada hardskill dari pada mereka yang pandai dalam segala pekerjaan tapi minim attitude. Dalam lingkungan sehari hari dan dalam lingkungan sekolah juga, attitude yang baik jauh lebih bisa menutupi kekurangan seorang peserta didik dari pelajaran dari pada mereka yang pandai dan pintar dalam berbagai macam pelajaran tapi memiliki attitude yang jelek.
Karena baik itu hardskill maupun kepandaian seorang peserta didik bisa dirubah dengan keinginan dan kerja keras dan pembiasaan diri dengan hal hal yang berkaitan dengan hard skill tersebut sedangkan attitude tidak semudah itu untuk merubah. Meskipun attitude bukan bawaan dari lahir tapi seseorang dengan kepribadian buruk akan sulit untuk merubah diri apalagi jika dia memiliki sifat yang angkuh, sombong dan merasa dirinya yang paling benar.
Seseorang yang memiliki sikap yang baik juga biasanya memiliki kemampuan untuk beradaptasi yang baik dengan lingkungannya. Dalam dunia kerja, perusahaan selalu mencari calon karyawan yang ber attitude baik, mampu bekerja sama dengan TIM dan juga memiliki kepribadian yang terbuka serta rendah hati. Begitu juga dalam dunia pendidikan, di sekolah swasta perbaikan attitude selalu dijadikan nilai utama keberhasilan sekolah swasta. Karena merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan merupakan hal yang sulit, dengan tata tertib, aturan dan metode yang benar dapat merubah attitude seseorang peserta didik secara bertahap attitude peserta didik yang kurang bisa diperbaiki berbeda dengan mereka yang sudah masuk ke lingkungan masyarakat, attitude akan sukar untuk diperbaiki. Walaupun bisa, akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama dari pada masih menjadi seorang peserta didik.
Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki dan membangun attitude atau karakter peserta didik di sekolah seperti :
Guru atau tenaga didik selalu dipandang sebagai orang yang lebih dewasa dan lebih tua bagi para peserta didik. Maka dari itu guru selalu dijadikan panutan bagi para siswa, setiap apa yang terlontar dalam mulut seorang guru harus bahasa yang baik, dari sifat dan perilaku haruslah yang baik dan juga dari berbagai macam hal yang guru contohkan harus baik. Maka dari itu guru harus bisa bersikap profesional dan lebih hati hati dalam bersikap serta lebih bijaksana dalam melakukan tindakan. Karena sebaik baiknya pelajaran yang didapatkan oleh seorang peserta didik adalah percontohan dari gurunya.
Sopan santun adalah salah satu bentuk attitude yang baik. Dengan saling menghargai antara guru dan siswa rasa tenggang rasa antara guru dan peserta didik akan tercipta. Sopan santun ini bisa dalam bentuk percontohan atau bisa juga dalam bentuk pembelajaran khusus seperti bimbingan dari konselor sekolah atau juga bimbingan dari wali kelas setiap peserta didik.
Namanya siswa tidak heran jika memang masih belum memiliki sopan santun, apalagi untuk siswa baru. Terkadang kebiasaan lama dari sekolah asal terbawa ke sekolah baru. Maka dari itu sebagai seorang guru alangkah baiknya mengambil sikap untuk mengoreksi sikap tersebut. Dalam mengambil langkah juga tidak bisa sembarangan, ada berbagai cara yang bisa guru lakukan, seperti tidak menghardik apa lagi memarahi siswa yang memiliki sikap yang kurang itu, cukup mengingatkan dengan dengan bijaksana dan berikan alternatif lainnya yang lebih positif. Jika memang masih melanggar dan masih melakukan hal tersebut, bisa membawa siswa tersebut ke ruang guru atau ke tempat konselor untuk diberikan masukan masukan positif. Jika memang masih melanggar juga bisa melaporkan ke kesiswaan sekolah atau diberikan sanksi. Sebisa mungkin sebelum memberikan sanksi sosial alangkah baiknya dibina terlebih dahulu dengan kepala dingin dan juga jangan lupa untuk memberikan masukan kepada peserta didik bermasalah tersebut secara tertutup, bisa dibawa ke kantor anda atau berbicara hanya 4 mata saja.
Berbagi pengalaman pribadi yang inspiratif bukan curhat kepada siswa tentang kasus yang pernah menimpa anda sebagai seorang pelajar di masa lalu merupakan hal yang wajar dilakukan oleh seorang guru. Karena sekecil apapun pengalaman yang anda miliki bisa menjadi pembelajaran yang berguna bagi peserta didik. Meskipun kecil kemungkinan peserta didik dapat merubah attitudenya yang kurang namun bagi beberapa siswa ini cukup efektif.
Dari pengalaman guru juga seorang peserta didik bisa terinspirasi dan dapat belajar sehingga mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ini juga bisa dijadikan sebagai bentuk motivasi bagi siswa untuk tidak terjerumus kedalam hal yang pernah menimpa anda dimasa lalu. Dengan pengalaman ini juga guru dapat membentuk karakter keberanian dalam diri peserta didik, yang dimana karakter keberanian ini bagus untuk menunjang masa depan peserta didik terutama untuk berani mengungkapkan berbagai macam hal yang mereka alami.
Mengajarkan nilai moral sesuai dengan nilai nilai islam bisa dilaksanakan bagi guru yang memang mengajar di sekolah berbasis agama islam. Tapi nilai moral tidak hanya tertulis di dalam Al Qur’an, tapi juga setiap agama pasti diajarkan hal yang diperbolehkan dan hal yang dilarang. Dalam pendidikan pancasila juga nilai moral seorang manusia pasti diterangkan. Namun dalam dunia pendidikan nilai moral ini tidak hanya bisa disajikan dalam satu atau dua mata pelajaran saja baik itu agama dan pendidikan pancasila. Tapi juga bisa diterapkan oleh semua guru dalam semua mata pelajaran.
Menjadi seorang apresiator merupakan salah satu tindakan terpuji yang bisa dilaksanakan guru. Apresiasi tidak harus berupa uang, bisa juga berupa benda seperti makanan atau berbagai macam hal lainnya. Ucapan Selamat juga cukup jika anda memang tidak ingin memberikan barang atau jenisnya.
Membiasakan diri menjadi seorang apresiator bagi peserta didik dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik. Selain itu apresiasi juga dapat membuat seorang peserta didik menjadi merasa lebih dihargai. Memang apresiasi ini bersifat simpel tapi efeknya sangat luar biasa hebat, baik itu untuk perkembangan karakter peserta didik dan juga untuk anda sebagai seorang guru.
Menjadi guru tidak selalu benar. Jika memang anda melakukan kesalahan, anda bisa bersikap jujur dan menerima kesalahan yang pernah anda buat. Jangan sampai ketika anda salah anda tidak bisa menerima yang dapat mengakibatkan tidak ada lagi kepercayaan dari peserta didik kepada anda sebagai seorang guru.
Sebagai media percontohan, anda bisa mengoreksi kesalahan kecil yang anda lakukan dengan berpikir bahwa anda juga adalah seorang manusia. Memang terkadang gengsi tapi tetap harus bisa anda lakukan karena anda adalah seorang manusia. Hal tersebut dapat membuat anda bisa lebih bijaksana dalam memperbaiki kesalahan dan berani bertanggung jawab atas semua kesalahan yang anda perbuat. Dari sana juga peserta didik akan bersikap sama seperti yang anda lakukan dan mereka akan bersikap jujur dan memperbaiki diri untuk bisa menerima kesalahan yang mereka lakukan.
Percontohan, Pendidikan karakter dan membangun karakter baik pada peserta didik sudah dilaksanakan jauh jauh hari oleh lembaga Al Masoem sebagai lembaga pendidikan. Dari tingkat PG-TK hingga tingkat SMA siswa dituntut untuk bisa bersikap baik, ber attitude baik dan membangun pendidikan karakter yang unggul dengan program program didikan sekolah.
Baik untuk tingkat SD kelas pertama, SMP kelas pertama dan SMA kelas pertama, kami menyusun berbagai macam program yang dapat merubah sifat jelek seorang peserta didik menjadi baik. Karena itu adalah tuntutan dari orang tua siswa kepada kami sebagai lembaga pendidikan. Maka dari itu Motto kami adalah Cageur, Bageur, Pinter yang dimana pendidikan karakter jauh lebih baik daripada ilmu pada pelajaran umum.
Attitude baik ini mampu menutup kekurangan ilmu dari seorang peserta didik tapi Ilmu yang banyak tidak akan pernah bisa menutupi kekurangan attitude peserta didik.
Kita Lebih Membutuhkan Kepada Adab (yang Baik, Meski) Sedikit, Dibandingkan Ilmu yang Banyak.