Select Education Level
Please select an education level to begin registration.
Komunikasi antara siswa dan guru terjadi hampir setiap hari, baik ketika pembelajaran berlangsung di kelas maupun saat siswa mengikuti kegiatan sekolah lainnya. Siswa perlu bertanya ketika belum memahami materi, menyampaikan izin, meminta penjelasan mengenai tugas, menyampaikan kendala, hingga berdiskusi mengenai berbagai kegiatan yang diikuti. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dengan baik bukan hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, tetapi juga menyangkut bagaimana siswa memilih kata, memahami situasi, mendengarkan lawan bicara, dan menunjukkan sikap yang sesuai. Pada jenjang SMP, kebiasaan tersebut penting mulai dibentuk karena siswa sedang berada pada masa ketika kemampuan sosial dan cara berinteraksi dengan lingkungan terus berkembang.
Etika berkomunikasi dengan guru tidak berarti siswa harus merasa takut atau tidak boleh menyampaikan pendapat. Hubungan yang baik justru membutuhkan komunikasi dua arah. Siswa tetap memiliki kesempatan untuk bertanya, menyampaikan ketidaksetujuan, atau meminta bantuan ketika mengalami kesulitan, tetapi semuanya dilakukan dengan cara yang sopan dan jelas. Kebiasaan tersebut dapat membantu menciptakan suasana sekolah yang lebih nyaman. Ketika siswa mampu menyampaikan maksud dengan baik, guru juga akan lebih mudah memahami kebutuhan mereka. Sebaliknya, komunikasi yang kurang tepat dapat menimbulkan salah pengertian meskipun sebenarnya siswa tidak memiliki maksud buruk.
Masa SMP merupakan periode ketika siswa mulai memiliki pendapat yang semakin kuat. Mereka mulai lebih berani menyampaikan apa yang dipikirkan, mempertanyakan berbagai hal, dan membangun hubungan sosial yang lebih luas. Perkembangan tersebut merupakan hal yang positif, tetapi tetap perlu diimbangi dengan kemampuan memahami batas dalam berkomunikasi. Siswa perlu mengetahui bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti bebas menggunakan kata-kata tanpa mempertimbangkan perasaan dan posisi orang lain.
Etika komunikasi juga dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter. Nilai seperti akhlak, jujur, manfaat, serta sikap adaptif dan mandiri yang menjadi bagian dari nilai pendidikan SMP Al Ma’soem dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari. Cara siswa menyapa guru, meminta bantuan, memberikan respons, maupun menyampaikan suatu masalah merupakan contoh kecil yang menunjukkan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata. Pendidikan karakter akhirnya tidak hanya dibicarakan dalam materi tertentu, tetapi dapat terlihat melalui kebiasaan siswa ketika berinteraksi.
Beberapa dasar etika komunikasi yang dapat dilatih siswa SMP antara lain:
Bertanya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling sering dilakukan siswa di sekolah. Ketika tidak memahami materi, siswa seharusnya merasa memiliki ruang untuk meminta penjelasan. Namun, cara bertanya juga perlu diperhatikan. Pertanyaan yang disampaikan secara jelas akan lebih mudah dipahami dan dijawab oleh guru. Siswa dapat menjelaskan bagian mana yang belum dimengerti daripada hanya mengatakan bahwa materi tersebut sulit. Kebiasaan ini membantu siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran sekaligus melatih kemampuan menyampaikan gagasan.
Dalam kelas dengan jumlah siswa yang cukup banyak, kemampuan menunggu giliran juga menjadi bagian dari etika bertanya. Siswa perlu memahami bahwa guru sedang membantu banyak orang, sehingga tidak semua pertanyaan dapat langsung dijawab pada saat yang sama. Sikap seperti menunggu, mencatat pertanyaan, atau mencari waktu yang tepat untuk bertanya dapat menjadi latihan kesabaran. Hal sederhana tersebut membantu siswa memahami bahwa komunikasi yang baik membutuhkan perhatian terhadap kebutuhan orang lain.
Di sisi lain, guru juga dapat memberikan contoh komunikasi yang sehat kepada siswa. Ketika pertanyaan siswa ditanggapi dengan baik, siswa akan lebih percaya diri untuk berkomunikasi. Dengan begitu, hubungan guru dan siswa dapat berkembang menjadi hubungan pendidikan yang saling menghargai. Siswa belajar berani berbicara, sedangkan guru membantu mengarahkan cara berbicara yang tepat.
Tidak semua pendapat siswa akan selalu sama dengan pendapat guru. Dalam proses belajar, perbedaan pemikiran merupakan sesuatu yang wajar. Siswa dapat memiliki alasan, sudut pandang, atau pemahaman yang berbeda terhadap suatu persoalan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perbedaan tersebut disampaikan. Siswa tetap dapat mengatakan bahwa dirinya memiliki pandangan berbeda tanpa menggunakan kata-kata yang merendahkan atau menunjukkan sikap tidak menghargai.
Kemampuan menyampaikan ketidaksetujuan secara sopan menjadi keterampilan yang berguna tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Siswa dapat belajar menggunakan kalimat seperti “menurut saya” atau menjelaskan alasan dari pendapatnya. Dengan cara tersebut, perbedaan pendapat berubah menjadi kesempatan untuk berdiskusi. Guru juga dapat membantu siswa memahami bahwa kritik terhadap sebuah gagasan tidak sama dengan menyerang pribadi seseorang.
Pembelajaran semacam ini sejalan dengan kebutuhan siswa untuk menjadi pribadi yang cerdas sekaligus adaptif. Siswa tidak hanya diajarkan untuk memiliki pendapat, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana pendapat tersebut disampaikan. Kemampuan mengendalikan cara berkomunikasi dapat membantu siswa tetap percaya diri tanpa mengabaikan rasa hormat kepada orang lain.
Kehidupan sekolah saat ini tidak hanya berlangsung secara langsung. Informasi kegiatan, tugas, maupun kebutuhan administrasi dapat melibatkan media digital. Ketika siswa berkomunikasi dengan guru melalui pesan digital, etika tetap perlu diperhatikan. Siswa perlu memahami bahwa komunikasi melalui perangkat tidak menghilangkan kebutuhan untuk bersikap sopan. Pesan yang dikirim sebaiknya memiliki tujuan yang jelas dan tidak menggunakan gaya komunikasi yang terlalu santai apabila situasinya membutuhkan bahasa formal.
Hal-hal sederhana seperti memperkenalkan diri ketika menghubungi guru, menyampaikan keperluan secara langsung, menggunakan kata sapaan yang tepat, dan menghindari pesan yang tidak jelas dapat membantu komunikasi berjalan lebih efektif. Siswa juga perlu memahami waktu yang tepat untuk menghubungi guru. Tidak semua pesan harus dikirim segera hanya karena teknologi memungkinkan seseorang mengirim pesan kapan saja. Mempertimbangkan waktu dan kondisi penerima merupakan bagian dari menghargai orang lain.
Kebiasaan tersebut dapat menjadi bekal literasi digital yang lebih luas. Siswa belajar bahwa penggunaan teknologi bukan hanya tentang mengetahui cara menggunakan aplikasi, tetapi juga memahami perilaku yang tepat ketika berada di ruang digital. Dengan demikian, etika yang diterapkan di lingkungan sekolah secara langsung dapat menjadi dasar untuk membangun kebiasaan komunikasi yang lebih bertanggung jawab di masa depan.
Selain guru mata pelajaran, wali kelas dapat memiliki peran penting dalam membantu siswa membangun komunikasi yang sehat. Wali kelas berhubungan dengan dinamika kelas dan perkembangan siswa sehingga dapat menjadi salah satu pihak yang ditemui ketika siswa memiliki persoalan tertentu. Siswa dapat belajar menyampaikan masalah secara runtut, menjelaskan apa yang terjadi, serta mengungkapkan bantuan yang dibutuhkan.
Kemampuan tersebut penting karena siswa terkadang mengetahui bahwa mereka memiliki masalah, tetapi belum mampu menjelaskannya dengan baik. Misalnya, siswa merasa kesulitan mengikuti kegiatan tertentu, mengalami kebingungan terhadap tugas, atau memiliki kendala dalam berinteraksi dengan teman. Daripada menyimpan masalah tanpa arah, siswa dapat belajar menyampaikannya kepada pihak yang tepat. Proses tersebut sekaligus mengajarkan bahwa meminta bantuan bukan berarti tidak mandiri. Justru, mengetahui kapan harus meminta bantuan merupakan bagian dari kemandirian.
Lingkungan sekolah yang menyediakan ruang komunikasi seperti pendampingan wali kelas dan konselor dapat membantu siswa merasa lebih aman ketika ingin menyampaikan sesuatu. Siswa tetap perlu belajar menyelesaikan persoalan secara bertahap, tetapi mereka juga mengetahui bahwa terdapat orang dewasa di lingkungan sekolah yang dapat menjadi tempat untuk mendapatkan arahan.
Kebiasaan berkomunikasi dengan guru pada akhirnya tidak hanya memengaruhi hubungan guru dan siswa. Cara siswa berbicara kepada guru dapat menjadi latihan untuk berkomunikasi dengan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa terbiasa mendengarkan, memilih kata, menunggu giliran, dan menyampaikan pendapat dengan sopan, kebiasaan tersebut dapat terbawa ketika berinteraksi dengan teman, keluarga, maupun masyarakat.
Sekolah memiliki kesempatan besar untuk melatih hal tersebut karena komunikasi terjadi dalam berbagai situasi. Di dalam kelas siswa berdiskusi dengan guru, ketika mengikuti kegiatan sekolah siswa berkomunikasi dengan panitia atau pembimbing, dan dalam kegiatan kelompok siswa belajar berinteraksi dengan teman. Setiap situasi memberikan kesempatan untuk mempraktikkan cara berkomunikasi yang berbeda tanpa meninggalkan prinsip utama berupa rasa hormat dan tanggung jawab.
Karena itu, etika komunikasi sebaiknya tidak dipahami sebagai sekumpulan aturan kaku tentang bagaimana siswa harus berbicara. Lebih dari itu, etika komunikasi merupakan kebiasaan untuk mempertimbangkan orang lain sebelum menyampaikan sesuatu. Siswa tetap dapat menjadi pribadi yang aktif, kritis, dan berani mengemukakan pendapat, tetapi mampu melakukannya dengan cara yang santun. Kemampuan seperti inilah yang dapat membantu siswa menjalani kehidupan sekolah dengan hubungan sosial yang lebih sehat dan membangun karakter yang bermanfaat dalam kehidupan mereka berikutnya.