أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اٰۤلْـئٰنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.”(QS. Yunus 10: Ayat 91).
Allah menolak tobat Firaun saat ajal menjemput, karena ia tidak beriman sebelumnya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah menceritakan keadaan Firaun ketika dalam keputusasaan menyatakan imannya, dikatakan kepadanya bahwa tidaklah pantas dia mengatakan iman dan Islam pada saat demikian itu karena pernyataan itu hanyalah untuk menghindari kematian dan mencari keselamatan dari bencana dan sesudah dia diliputi keputus-asaan. Padahal pada masa sebelumnya dia mengingkari Allah bahkan mengaku dirinya Tuhan sehingga berlaku sewenang-wenang terhadap sesama manusia serta berbuat aniaya di atas bumi. Maka pernyataan iman dan Islam demikian itu tidak diterima karena tidak lahir dari ketulusan, tetapi lahir dari keputus-asaan.
Surah Yunus ayat 90 dan 91 saling berkaitan erat karena keduanya menceritakan detik-detik akhir Fir’aun dan respons Allah terhadap keimanannya yang terlambat. Namun, tadabbur keduanya punya penekanan yang berbeda. Berikut adalah perbedaan utama yang bisa ditadaburi dari masing-masing ayat:
Yunus Ayat 90 – Fokus: Pengakuan Fir’aun Saat Ajal Menjemput
“…hingga bila Fir‘aun hampir tenggelam, dia berkata, ’Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).’”
Tadabbur utama dari ayat 90:
- Penyesalan di akhir hayat: Menunjukkan betapa manusia bisa mengakui kebenaran di saat-saat genting, tapi itu bukanlah tanda keimanan sejati.
- Ketidakkonsistenan hati: Fir’aun menyebut dirinya “termasuk orang Islam”, padahal selama hidupnya ia justru mengklaim dirinya sebagai tuhan.
- Pengakuan saat terpaksa: Ini bukan taubat dari kesadaran, melainkan karena terdesak oleh kematian — hal ini mengajarkan bahwa iman karena panik tidaklah bernilai.
Yunus Ayat 91 – Fokus: Penolakan Allah atas Iman yang Terlambat
“Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sebelumnya kamu telah durhaka dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?”
Tadabbur utama dari ayat 91:
- Penegasan Allah terhadap ketetapan-Nya: Iman Fir’aun ditolak bukan karena Allah tidak Maha Pengampun, tetapi karena waktunya sudah habis dan iman itu tidak tulus.
- Keadilan Ilahi: Allah menilai track record hidup seseorang, bukan hanya ucapan di akhir hayat.
- Kritik terhadap kehidupan penuh kerusakan: Penolakan ini juga menunjukkan bahwa hidup dalam kezaliman dan kerusakan tidak bisa dihapus dengan satu pernyataan saat nyawa hampir habis.
Jika diibaratkan, ayat 90 adalah adegan pengakuan, dan ayat 91 adalah respon dari langit atas pengakuan itu. Keduanya membentuk satu pelajaran utuh tentang waktu, keikhlasan, dan keadilan Allah.
Doa Permohonan Taubat dan Hidayah Sebelum Terlambat
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ عِندَ الْمَوْتِ، وَلَكِنِ اجْعَلْنَا مِمَّنْ آمَنَ قَبْلَ الْمَوْتِ، وَتَابَ إِلَيْكَ قَبْلَ فَوَاتِ الْأَوَانِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ.
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang baru beriman saat menghadapi kematian, tetapi jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beriman sebelum datangnya kematian, dan yang bertaubat kepada-Mu sebelum terlambat. Anugerahkan kepada kami husnul khatimah (akhir hidup yang baik).”