Menolak Kebenaran, Sambil Menuduh Ajaran Islam Sebagai Sihir yang Nyata

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَمَّا  جَآءَهُمُ  الْحَـقُّ  مِنْ  عِنْدِنَا  قَا لُوْۤا  اِنَّ  هٰذَا  لَسِحْرٌ  مُّبِيْنٌ
“Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, Ini benar-benar sihir yang nyata.” (QS. Yunus 10: Ayat 76)
Menolak kebenaran, sambil menuduh ajaran tersebut sebagai sihir yang nyata
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran mukjizat dari sisi Kami sebagai bukti kebenaran risalah Nabi Musa dan Nabi Harun, mereka berkata dengan angkuh dan sombong, “Ini benar-benar sihir yang nyata.”
Yunus ayat 76 memang menunjukkan kebiasaan manusia—khususnya orang-orang yang sombong atau zalim—menolak kebenaran, lalu menyerangnya dengan tuduhan-tuduhan palsu, seperti:
  • Menyebut wahyu sebagai sihir,
  • Menuduh nabi sebagai orang gila,
  • Atau menyebut ajaran agama sebagai dongeng orang dahulu.
Mengapa orang menolak kebenaran lalu menuduh macam-macam?
  1. Takut kehilangan kekuasaan atau pengaruh; Seperti Fir’aun, banyak orang takut kebenaran akan mengancam posisi atau status mereka. Maka, mereka menyerang duluan dengan tuduhan negatif untuk menjatuhkan kredibilitas lawan.
  2. Kesombongan dan keras hati; Mereka tidak mau mengakui ada yang lebih benar atau lebih tinggi dari pendapat sendiri. Kebenaran dianggap merendahkan ego mereka.
  3. Tak sesuai dengan hawa nafsu; Kebenaran sering menuntut perubahan diri—meninggalkan kebiasaan buruk atau kepentingan duniawi. Karena itu, lebih mudah menolak daripada mengikutinya.
  4. Tekanan sosial dan gengsi; Mengikuti kebenaran bisa membuat mereka kehilangan kedudukan di mata kelompoknya. Maka mereka memilih untuk mencemooh agar tetap diterima oleh lingkungannya.
  5. Ketidaktahuan yang dibalut arogansi; Alih-alih mencari penjelasan, mereka langsung menyerang karena tidak memahami kebenaran itu—dan tidak mau belajar.
Contoh Lain dalam Al-Qur’an
  • Kaum Nabi Nuh menuduh beliau orang sesat (QS 7:60),
  • Kaum Nabi Hud menyebutnya bodoh dan pendusta (QS 7:66),
  • Kaum Nabi Isa menuduh beliau dan ibunya dengan fitnah besar.
Pelajaran untuk Kita
  • Penolakan terhadap kebenaran adalah pola lama yang terus berulang.
  • Orang yang membawa kebenaran harus siap menghadapi tuduhan dan fitnah.
  • Kita harus berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari orang-orang yang menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan selera atau kepentingan pribadi.
Doa yang bisa kita panjatkan agar dijauhkan dari sifat seperti kaum yang mendustakan kebenaran:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqna ittiba’ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqna ijtinābah.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.”