Kurikulum Merdeka Belajar Vs 2025

Sistem Penjurusan SMA Akan Kembali: Apa Dampaknya untuk Siswa?

Bayangkan seorang anak SMA yang sedang bingung menentukan masa depannya. Dia suka Biologi, tapi juga tertarik sama Sejarah. Di satu sisi, dia pengen jadi dokter, tapi disisi lain, dia juga penasaran sama dunia arkeologi. Pilihan seperti ini sering bikin siswa dan orang tua gelisah, apalagi dengan perubahan kebijakan pendidikan yang datang silih berganti. Nah, baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto berencana mengumumkan pengembalian sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di jenjang SMA pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2025. Kebijakan ini bakal mulai berlaku di tahun ajaran 2025/2026, dan tujuannya adalah membantu siswa memilih jalur pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Tapi, apa sih artinya buat anak-anak kita?

Kebijakan Pengembalian Sistem Penjurusan: Apa yang Terjadi?

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bilang, keputusan ini dibuat untuk mendukung Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang bakal jadi pengganti Ujian Nasional, diujicobakan mulai November 2025 untuk siswa kelas XII SMA/SMK. TKA ini sifatnya sukarela, tapi nilainya bisa dipakai buat daftar kuliah lewat jalur prestasi. Dengan sistem penjurusan, siswa diharapkan lebih fokus belajar mata pelajaran yang sesuai sama jurusan mereka, jadi lebih siap buat TKA. 

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) juga dukung kebijakan ini, karena mereka bilang siswa bakal lebih mudah mendalami ilmu sesuai minatnya, seperti yang dikutip dari Tirto.id. Tapi, di sisi lain, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) khawatir kebijakan ini terlalu terburu-buru, karena Kurikulum Merdeka yang hapuskan penjurusan sejak 2021 belum dievaluasi secara menyeluruh. Mereka bilang, “Format jurusan kan baru saja dihapus dalam Kurikulum Merdeka, kita belum lihat dampak dan efektivitasnya. Menghidupkan kembali jurusan IPA/IPS terkesan tanpa kajian matang,” ujar Satriwan Salim, Kornas P2G.

Kurikulum Merdeka vs Kurikulum 2025: Apa Bedanya?

Sebelumnya, Kurikulum Merdeka yang diterapkan sejak 2021 kasih kebebasan buat siswa SMA untuk pilih mata pelajaran sesuai minat mereka, tanpa jurusan IPA, IPS, atau Bahasa. Di kelas X, siswa belajar mata pelajaran umum, lalu di kelas XI dan XII mereka bisa pilih mata pelajaran peminatan, seperti Biologi atau Sosiologi, sesuai bakat dan rencana kuliah mereka. Tujuannya, supaya nggak ada lagi stigma bahwa jurusan IPA lebih bergengsi dibandingkan IPS atau Bahasa, seperti yang dijelaskan Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar Nasional Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, “Jurusan IPA diberi privilese lebih dalam memilih program studi di perguruan tinggi, padahal seharusnya siswa bebas eksplorasi minat mereka.” Kurikulum Merdeka juga fokus ke pengembangan karakter dan keterampilan hidup, bukan cuma nilai akademik.

Sementara itu, kurikulum yang direncanakan tahun 2025 ini bakal balikin sistem penjurusan tradisional: IPA, IPS, dan Bahasa. Jadi, siswa harus pilih jurusan sejak kelas X, dan fokus belajar mata pelajaran yang sesuai sama jurusan itu. Misalnya, kalau pilih IPA, mereka bakal dalemin Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika peminatan, sementara mata pelajaran IPS kayak Sosiologi atau Geografi mungkin cuma dipelajari sekilas. Sistem ini lebih kaku dibandingkan Kurikulum Merdeka, tapi dianggap lebih terarah buat siswa yang udah punya tujuan jelas, seperti mau masuk kedokteran atau hukum.

Dampak Positif untuk Siswa

Buat sebagian siswa, sistem penjurusan ini bawa angin segar.

  • Pertama, mereka bisa fokus belajar mata pelajaran yang benar-benar mereka suka dan relevan sama cita-cita mereka. Misalnya, anak yang pengen jadi insinyur nggak perlu pusing belajar Sosiologi, karena dia bisa dalemin Fisika dan Matematika di jurusan IPA.
  • Kedua, sistem ini bantu siswa lebih siap buat TKA, karena mereka belajar mata pelajaran yang bakal diuji sesuai jurusan mereka.
  • Ketiga, buat siswa yang sudah tahu tujuan mereka, sistem ini kasih kejelasan, nggak bikin mereka bingung pilih mata pelajaran kayak di Kurikulum Merdeka.

Dampak Negatif

Tapi, dibalik harapan, ada juga kekhawatiran yang bikin orang tua dan guru mikir dua kali.

  • Pertama, P2G bilang sistem penjurusan ini bisa bikin “pengkastaan” antar jurusan balik lagi, di mana IPA dianggap lebih bergengsi, sementara IPS atau Bahasa jadi pilihan sisa. Ini bisa bikin siswa yang nggak masuk IPA merasa minder, padahal mereka punya potensi besar di bidang lain. 
  • Kedua, sistem ini dinilai kurang relevan sama dunia kerja yang sekarang lebih interdisipliner. Iman Zanatul Haeri dari P2G bilang, “Penjurusan tiga kelompok itu rasanya agak jadul, akan memilah kecerdasan anak secara absolut. Padahal, tiap anak punya potensi multi-intelegensi.” 
  • Ketiga, siswa yang masih bingung sama minat mereka bisa merasa “terkunci” di satu jurusan, padahal di usia SMA mereka masih butuh eksplorasi. Belum lagi, kalau fasilitas sekolah nggak merata, anak-anak di daerah terpencil mungkin nggak dapet pendidikan yang sesuai sama jurusan mereka.

Sebagai seorang guru di lembaga pendidikan, saya lihat kebijakan ini dengan hati netral. Di satu sisi, saya senang, karena siswa yang udah punya tujuan jelas bisa lebih fokus dan terarah. Tapi, di sisi lain, saya khawatir kalau sistem ini malah bikin anak-anak yang masih bingung jadi tertekan, apalagi kalau stigma antar jurusan balik lagi. Saya harap pemerintah bisa mematangkan kebijakan ini dengan evaluasi yang mendalam, libatkan semua pihak, dan pastikan fasilitas sekolah merata baik itu sekolah negeri dan swasta, supaya nggak ada anak yang tertinggal. Mudah-mudahan, kurikulum ini bisa membangun pendidikan yang jauh lebih baik lagi buat siswa SMA kita, yang nggak cuma fokus ke nilai, tapi juga ke potensi dan kebahagiaan mereka.

Al Ma’soem: Tetap Setia pada Pendidikan Karakter dan Agama

Meskipun kurikulum nasional berubah-ubah, Al Ma’soem sebagai lembaga pendidikan berbasis pesantren selalu punya cara sendiri untuk menyesuaikan diri. Kami di Al Ma’soem tetap mengedepankan pendidikan karakter dan agama, apapun kurikulumnya. Kalau sistem penjurusan ini diterapkan, kami akan pastikan santri tetap dapet pendidikan holistik nggak cuma fokus ke akademik, tapi juga adab, akhlak mulia, dan keimanan mereka. Di Al Ma’soem, kami percaya setiap anak punya potensi masing-masing, dan kami akan terus dampingi mereka untuk temukan jalan terbaik, baik lewat jurusan IPA, IPS, Bahasa, atau bahkan di luar itu. Buat kami, yang terpenting adalah mereka tumbuh jadi insan yang berakhlak mulia dan siap hadapi dunia, dengan iman yang kuat sebagai pondasinya.

Itu dia cerita tentang sistem penjurusan yang bakal balik lagi di SMA, lengkap sama harapan dan kekhawatirannya. Buat para orang tua dan siswa, mari kita sambut perubahan ini dengan hati terbuka, sambil terus dampingi anak-anak kita temukan jalan mereka masing-masing. Bagaimana pendapat kalian?