Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ اَمَرَ رَبِّيْ بِا لْقِسْطِ ۗ وَاَ قِيْمُوْا وُجُوْهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّا دْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۗ كَمَا بَدَاَ كُمْ تَعُوْدُوْنَ
“Katakanlah, Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap sholat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 29)
Ikhlas beribadah semata mata hanya karena Allah SWT
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini memperbaiki kekeliruan mereka, terbukti Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada mereka, “Bahwasanya Allah hanya memerintahkan kepada-ku agar berlaku adil, salat setiap waktu, istiqamah, ikhlas dan baik di dalam semua hal,” sebagaimana firman Allah:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (an-Nahl/16: 90).
Allah menyuruh agar mereka mengarahkan mukanya ke Ka’bah yang telah ditetapkan menjadi kiblat bagi setiap orang yang salat, baik di mesjid maupun di tempat lain, penuh dengan keikhlasan, karena suatu amal tanpa disertai keikhlasan tidak akan diterima oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas untuk (memperoleh rida)-Nya.” (Riwayat an-Nasa’i dari Abu Umamah)
Ikhlas tidaknya suatu amal tergantung niat…
Kedudukan niat dalam agama Islam sangat diperhitungkan. Saat perhitungan amal di Yaumul Hisab, hanya niat yang menjadi penentu apakan amal tersebut masuk ke dalam amal baik atau amal buruk.
Karenanya, niat lebih utama dibandingkan amal itu sendiri.
نِيةُ المُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ
“Niat seorang mukmin lebih utama dari pada amalnya.”
Suatu amal tanpa disertai keikhlasan tidak akan diterima oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas untuk (memperoleh rida)-Nya.” (Riwayat an-Nasa’i dari Abu Umamah)
Innamal a’malu binniyat ; Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya,
Biasanya, kalimat Innamal a’malu binniyat berpasangan dengan kalimat wa innama likullimri’in maa nawaaa,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kalimat kedua berfungsi untuk menegaskan makna kalimat pertama, yaitu segala perbuatan yang dilakukan manusia akan diberikan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Jadi, niat adalah inti dari sebuah perbuatan yang menjadi tolok ukur baik buruknya perbuatan tersebut.
Dikutip dari Fiqih niat oleh Umar Sulaiman Asyqar, pengertian niat menurut syara’ adalah keinginan untuk melakukan sesuatu yang diikuti dengan perbuatan. Banyak ibadah dalam Islam yang menempatkan niat sebagai rukun pertama. Jika tidak berniat, maka ibadahnya tidak sah dan harus mengulanginya lagi.
Kedudukan niat dalam agama Islam sangat diperhitungkan. Saat perhitungan amal di Yaumul Hisab, hanya niat yang menjadi penentu apakan amal tersebut masuk ke dalam amal baik atau amal buruk.
Dikutip dari NU Online, keutamaan niat dibandingkan amal dibuktikan dengan tiga hal. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah menjelaskan tiga hal tersebut.
1. Berniat kebaikan dan mengerjakannya
Orang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan lalu mengamalkannya, maka orang tersebut akan diberikan pahala berlipat-lipat, mulai dari 10 kebaikan, 700 kebaikan, dan seterusnya. Hal ini didasarkan dari hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya sebagai berikut.
“Dan apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu mengamalkannya, Allah ‘azza wa jalla akan mencatat pahalnya di sisi-Nya sebagai perbuatan 100 kebaikan sampai 700, bahkan berlipat-lipat ganda banyaknya.”
2. Berniat kebaikan tetapi tidak jadi melakukannya
Seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan dan mampu melakukannya tetapi tidak jadi melakukannya, maka orang tersebut diberikan pahala 1 kebaikan saja. Hal ini didasarkan dari hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya sebagai berikut.
“Maka apabila seseorang berniat melakukan sesuatu kebaikan lalu tidak jadi melaksanakannya, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya satu kebaikan sempurna.”
3. Berniat kebaikan tetapi tidak mampu melakukannya
Seseorang yang berniat melakukan suatu amal kebaikan tetapi ternyata tidak mampu melakukannya, maka orang tersebut akan mendapatkan pahala sebagaimana orang yang mampu melakukannnya.
Selain dari tiga hal tersebut, ada satu hal lagi yang menjadi penegasan bahwa niat lebih utama dibandingkan amal itu sendiri. Ketika ada seseorang yang sudah berniat melakukan kemaksiatan tetapi urung melakukannya, ia akan mendapatkan pahala dari Allah karena telah mengurungkan niatnya.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. “Dan bila seseorang berniat melakukan suatu kejahatan lalu ia tidak melaksanakan, Allah akan mencatat pahalanya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan sempurna, dan bila ia berniat melakukan suatu kejahatan kemudian melaksanakannya pula, maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya sebagai satu kejahatan.”
Semoga kita selalu berniat baik dan berusaha untuk mengamalkannya.