Apa yang Mereka Perolok-olokan Menjadi Kenyataan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَقَدْ  كَذَّبُوْا  بِا لْحَـقِّ  لَـمَّا  جَآءَهُمْ  ۗ فَسَوْفَ  يَأْتِيْهِمْ  اَنْۢـبٰۤـؤُا  مَا  كَا نُوْا  بِهٖ  يَسْتَهْزِءُوْنَ

“Sungguh, mereka telah mendustakan kebenaran (Al-Qur’an) ketika sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 5)

Apa yang mereka perolok olokan menjadi kenyataan

Dalam tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H dijelaskan sebagai berikut :

5. “Sungguh mereka telah mendustakan yang haq (al-Quran) tatkala sampai kepada mereka.” Yang haq adalah berhak diikuti, disyukuri atas kemudahan dan penghadirannya oleh Allah kepada mereka, akan tetapi mereka menyikapinya dengan sikap yang tidak semestinya, maka mereka berhak atas hukuman yang keras. “Maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka olok-olok.” Maksudnya, mereka akan melihat bahwa apa yang mereka olok-olok itu adallah kebenaran dan kejujuran. Dan Allah menjelaskan kepada para pendusta akan dusta dan kebohongan mereka, dulu mereka memperolok-olok Hari Kebangkitan, surga dan neraka.

Dan pada Hari Kiamat dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan, “Inilah neraka yang dulu kamu dustakan.”
Allah berfirman, ” Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,
agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. (An-Nahl:38-39).

Orang kafir tidak percaya akhirat, tidak percaya hari berbangkit, tidak percaya syurga dan neraka. Ada yang menyampaikan jangan percaya ustadz, bicara tentang akhirat, mereka sendiri belum pernah merasakan kehidupan akhirat.

Tidak percaya syurga dan tidak percaya neraka, sama saja dengan orang kafir.

Ketidakpercayaan terhadap adanya surga dan neraka bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perbedaan keyakinan, pandangan filsafat, pemahaman ilmiah, atau pengalaman pribadi. Beberapa orang mungkin tidak memiliki keyakinan tertentu yang mengajarkan konsep syurga dan neraka. Orang lain mungkin cenderung lebih condong pada pandangan ilmiah dan skeptis terhadap hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Tidak perlu pembuktian adanya syurga dan neraka, Sami’na wa atho’na…apa yang dikatakan Quran pasti benar.
Orang kafir tidak percaya neraka, mereka percaya neraka pada saat dihadapkan dengan neraka;

وَلَوْ  تَرٰۤى  اِذْ  وُقِفُوْا  عَلَى  النَّا رِ  فَقَا لُوْا  يٰلَيْتَنَا  نُرَدُّ  وَلَا  نُكَذِّبَ  بِاٰ يٰتِ  رَبِّنَا  وَنَكُوْنَ  مِنَ  الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 27)

Doa diteguhkan dalam keimanan

رَبَّنَا  لَا  تُزِغْ  قُلُوْبَنَا  بَعْدَ  اِذْ  هَدَيْتَنَا  وَهَبْ  لَنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  ۚ اِنَّكَ  اَنْتَ  الْوَهَّا بُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)