Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْ يَمَ اِلَّا رَسُوْلٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۗ وَاُ مُّهٗ صِدِّيْقَةٌ ۗ كَا نَا يَأْكُلٰنِ الطَّعَا مَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰ يٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَ نّٰى يُؤْفَكُوْنَ
“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka).” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 75).
Rasul seperti manusia biasa
Ada sifat rasul yang sama dengan manusia biasa.
Sifat jaiz ini menunjukkan bahwa meskipun rasul memiliki keistimewaan, mereka tetaplah seorang manusia biasa dengan sifat-sifat kemanusiaan yang melekat pada dirinya. Namun ingat, sifat jaiz ini tidak mengurangi keistimewaan yang mereka miliki.
Sifat jaiz adalah semua sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh rasul dan menjelaskan kedudukannya sebagai utusan Allah SWT. Berbeda dengan sifat wajib, sifat jaiz pada rasul hanya ada satu saja yaitu A’radhul Basyariyah atau mempunyai sifat yang sama dengan manusia lainnya. Seperti minum, makan, memiliki pasangan, dan lain-lain.
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّاۤ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَا مَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَ سْوَا قِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ ۚ وَكَا نَ رَبُّكَ بَصِيْرًا
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 20)
وَقَا لَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِلِقَآءِ الْاٰ خِرَةِ وَاَ تْرَفْنٰهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۙ مَا هٰذَاۤ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ ۙ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُوْنَ
“Dan berkatalah para pemuka orang kafir dari kaumnya dan yang mendustakan pertemuan hari akhirat serta mereka yang telah Kami beri kemewahan dan kesenangan dalam kehidupan di dunia, (Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan apa yang kamu makan, dan dia minum apa yang kamu minum.” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 33)
Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga pernah merasakan sakit. Dalam banyak riwayat dikisahkan bahwa Nabi Muhammad menderita sakit mata hebat dan membuat kakeknya kerepotan saat usia beliau baru 7 tahun. Penyakit ini membuat matanya menjadi merah dan mengeluarkan kotoran berwarna kuning kehijauan.
Bahkan rasul juga dapat terkena cacat atau suatu penyakit selama sifatnya ringan serta tidak akan menghalangi mereka ketika menjalankan tugas kerasulannya. Seperti yang terjadi pada Nabi Musa as sebelum diangkat menjadi rasul.
Beberapa sifat jaiz rasul yang lainnya ialah:
Rasul juga mempunyai rasa takut, khawatir dan keinginan keinginan seperti manusia lainnya.
Nabi Musa AS, banyak memberikan contoh contoh doa yang bisa diamalkan, yang terkenal doa memohonkan agar segala urusannya dipermudah oleh Allah SWT dan membuatnya lebih sabar. Beliau juga meminta agar orang-orang memahami perkataannya, maka kekakuan di lidah dihapuskan.
Manfaat memanjatkan doa ini adalah agar dipermudah dalam segala urusan dan orang lain memahami hal-hal yang ingin disampaikan(QS Thaha ayat 25 – 28)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”