Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Kita sebagai orang tua pasti pernah menemukan sang anak menjadi tidak bersemangat untuk berangkat sekolah. Tiba-tiba saja malas bangun pagi, tidak selera makan, merasa berat untuk menata buku pelajaran atau bahkan mandi, dan yang bikin heran adalah pura-pura sakit. Apa yang sebaiknya dilakukan untuk membangun semangat bersekolah sang anak?
Coba ingat-ingat kembali, kira-kira apa yang kalian lakukan sebagai orang tua ketika sang anak merajuk untuk tidak berangkat sekolah. Merayu dengan hadiah atau mengancam sang anak? Pastinya ketika sang buah hati tiba-tiba malas untuk sekolah, berarti ada sesuatu yang mengganjal yang dirasakan oleh anak, namun tidak tahu cara menyampaikannya.
Sudah menjadi tugas bagi orang tua untuk lebih peka dengan kondisi anak. Bukan berarti dengan anak menjadi mandiri, misal berangkat sekolah sendiri, membuat kita menjadi lebih terlena dan kurang memantaunya. Coba mendekat kepada anak dan bertanya
Tanpa berlama-lama, inilah 4 tips membangun semangat bersekolah sang anak yang bisa kalian terapkan. Mari simak penjelasannya berikut!
Ketika anak tiba-tiba saja merasa malas untuk sekolah, bahkan enggan keluar kamar, maka ada sesuatu yang tidak beres. Bisa jadi sang anak sedang mengalami pengalaman buruk ketika sedang bersekolah, atau terdapat masalah yang tidak tahu cara untuk meresponnya.
Tugas kita sebagai orang tua adalah menemani sang anak dan buat dirinya merasa nyaman. Tentunya ini bisa menjadi sinyal bahwa orang tua adalah orang yang baik dan penyayang, bukan orang asing. Barulah ketika sang anak terlihat membuka dirinya, coba tanyakan apa yang terjadi. Apa yang sempat dilakukan dan masalah yang dihadapi di sekolah. Apakah melibatkan orang luar atau cuman lingkup pertemanan saja. Apakah guru sudah bertindak atau malah akibat ulah sang guru.
Kuncinya adalah tahu kapan waktunya untuk bertanya dan bangun suasana yang nyaman kepada anak. Sang anak membutuhkan waktu untuk merespon hal-hal baru yang mungkin mengejutkan baginya. Dan kita sebagai orang tua dapat menjadi teman berbicara yang bisa dipercaya olehnya.
Mungkin yang ada dalam bayangan anak tentang kegiatan belajar di sekolah adalah membaca buku sekolah, mengerjakan PR dan menghafal materi yang akan diulangkan esok hari di sekolah. Dan selain itu tidak tergolong dalam kegiatan belajar.
Padahal makna belajar memiliki arti yang luas. Segala kegiatan yang mampu menambah wawasan kita maupun yang memberikan dampak positif di kehidupan adalah fungsi dari belajar. Misalnya, ketika mengajak anak untuk semangat bersekolah lagi, coba terangkan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan di sekolah, diluar jam kelas. Hal tersebut juga bisa disebut dengan belajar, hanya saja sang anak yang mencari sendiri sumber belajarnya. Harapannya sang anak menjadi lebih percaya diri lagi untuk bisa mengembangkan dirinya, dengan mengenal hal-hal baru yang tentunya berbau positif.
Teman di sekolah bisa menjadi mood booster anak untuk mau berangkat ke sekolah. Tanpa disadari, dengan sang anak memilih untuk tidak bersekolah, maka pilihan lainnya akan diabaikan, salah satunya kehadiran sosok teman. Ajak anak untuk melihat perspektif lain, bahwa nanti temannya akan merasa kesepian bila sang anak tidak masuk sekolah.
Tonjolkan perasaan bahwa sang anak berarti bagi teman-temannya, mereka jadi memiliki teman bermain bersama ataupun bergurau bersama. Ia akan membuat kangen teman lainnya apabila tidak masuk sekolah tanpa alasan.
Mungkin salah satu alasan anak menjadi malas untuk sekolah adalah tidak ada target yang ingin dicapai di sekolah. Agar anak merasa semangat lagi, coba berikan tantangan untuknya, sesuatu yang juga bisa meningkatkan performa akademik dirinya.
Misalnya saja, sang anak mendapatkan nilai ulangan matematika sebesar 7. Sebagai orang tua, berikan sebuah tantang menarik untuknya seperti menghadiakan barang kesayangan ketika nilai ulangan selanjutnya mencapai 9 atau lebih. Memberikan iming-iming seperti ini tentu memiliki sisi positif yang bisa diambil. Harapannya sang anak akan mulai giat belajar lagi, baik di rumah ataupun di sekolah.
Perlu untuk diperhatikan, hindari memberikan janji yang bisa memberatkan kita sebagai orang tua. Hal ini juga termasuk menghindari memberikan hadiah yang belum waktunya digunakan oleh anak, atau hadiah yang kurang bermanfaat. Untuk mengetahui mana yang tepat, coba ajak diskusi barang apa yang disukai dan manfaat yang diberikan.
Penulis: Gumilar Ganda